Cerpen: ‘Oma Daleng’

14 11 2009

*Catatan: Setelah lama tidak menulis cerpen, sebuah cuplikan berita di televisi ditambah kenangan masa kecil dulu membuat saya tergerak untuk kembali menulis. Oya, tokoh dan kisah di cerpen ini semuanya fiksi, kecuali anda menafsirkan sebaliknya. Ya itu namanya penafsiran hehe. Semoga berkenan.***

Daleng! Begitu kami biasa memanggilnya dulu. Tidak pernah ada yang tahu nama aslinya. Nama itu muncul begitu saja gara-gara kecintaannya pada Huckleberry Hound, tokoh kartun anjing yang dikenal dengan ciri khasnya yang suka menyanyikan lagu rakyat Amerika “Oh My Darling, Clementine”. Nadanya mirip lagu berantai “Sedang Apa” yang biasa kami nyanyikan saat latihan pramuka di lapangan depan kelurahan.

Begitulah, setiap hari sepulang sekolah Daleng akan memimpin kami berpetualang menelusuri saluran-saluran irigasi yang membelah kampung dimulai dari belakang sekolah dasar kami terus sampai ke pinggir kampung. Biasanya ia akan berjalan gontai di depan, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana pendeknya, sambil bersenandung “Oma Daleng.. Oma Daleng.. Oma Daleng sekaraaang” disusul siulan berulang-ulang dengan nada yang sama. Nada siulan ‘Oma Daleng’ itu sudah menjadi seperti lagu kebangsaan bagi kami. Bak anak-anak bebek kami pun selalu setia mengikuti tubuh tinggi kerempeng bertabur koreng itu dengan rasa penasaran, karena tahu pasti ada saja hal baru yang akan ia lakukan bersama kami, teman-temannya.

Daleng bisa dibilang sosok pemimpin diantara kami berlima. Padahal ayahnya hanya supir truk Fuso yang pulang ke rumah seminggu sekali atau malah sebulan sekali. Beda dengan kami teman-temannya yang anak Kepala Irigasi, anak Dansek, anak Sekdes dan aku si anak Dokter Puskesmas. Tapi jiwa kepemimpinan dan petualangannya membuat kami selalu setia mengikutinya meski para orang tua kami dulu sering melarang bermain dengannya. “Mau jadi apa kamu berteman dengan anak berandalan kayak itu, Le?” begitu ibuku biasa bilang dulu.

Pernah kami diajak Daleng bolos sekolah untuk bermain bledugan atau meriam bambu yang di isi karbit dengan peluru kaleng-kaleng bekas susu cap bendera. Ia akan memasang bledugan itu di balik semak di pinggir saluran irigasi dan mengajak kami berpura-pura jadi tentara Amerika yang sedang bersiap menyergap musuh, persis di film Combat di TVRI lengkap dengan helm panci di kepala.

“Musuh” kami adalah mbok-mbok berkain yang setiap pagi selalu berjalan beriringan seperti penguin menelusuri pinggir tanggul dengan bakul penuh sayuran di punggung. Sesekali beberapa diantara mereka akan berhenti dan berdiri diam seperti orang mengheningkan cipta waktu upacara. Menurut Daleng, si mbok itu sedang kencing sambil berdiri untuk menghemat waktu perjalanan ke pasar. Betul saja, begitu mereka kembali berjalan, tanah berdebu tempat mereka berdiri tadi sudah digenangi air.

Kami selalu terbahak dan berteriak “Merdeka!” ketika melihat mbok-mbok itu terkejut lalu lari terbirit-birit sambil misah misuh saat mendengar ledakan meriam bambu kami disusul berondongan bekas kaleng-kaleng susu. “Oalaah, cah uedaann!!” begitu teriak mereka disusul ocehan dalam bahasa Jawa yang tak pernah kupahami artinya. Siapa suruh mengebom tanggul tempat bermain kami dengan air kencing!

Itulah Daleng yang super kreatif dan penuh daya khayal. Ia suka sekali muncul dengan ide-ide gila yang didapatnya dari buku-buku bacaan bekas yang selalu dibawa pulang ayahnya dari kota. Kami juga tidak kalah gila karena selalu menuruti saja apa maunya. Pernah suatu hari kami dibuat tercengang mendengar ceritanya tentang kisah persahabatan Winnetou Kepala Suku Apache dan saudara sedarahnya Old Shatterhand sang koboi dengan senapan pembunuh beruangnya yang terkenal, dari salah satu buku cerita karangan Dr. Karl May. Dari situlah Daleng muncul dengan ide untuk menjadikan kami berlima saudara sedarah dengan cara seperti yang dilakukan Winnetou dan Old Shatterhand di buku itu: menggores tangan masing-masing dengan pisau hingga berdarah lantas berjabatan tangan erat. Maka jadilah kami saudara sedarah, dan jadilah aku demam tinggi karena tetanus.

Bagi kami Daleng lebih dari seorang pemimpin. Dia seorang kawan yang setia dan suka sekali membela kami saat sedang kesulitan. Pernah suatu hari di musim kemarau yang terik kami berjanji untuk pesta singkong bakar hasil curian di kebun Lek Mitro di tengah padang ilalang luas di pinggir kampung. Padang ilalang itu luas sekali dan Daleng sering membakar tumpukan ilalang kering lantas mengibas-ngibaskan asapnya dengan sarung untuk memberitahu kami dimana keberadaannya. Teknik komunikasi dengan asap ini katanya ditiru dari kebiasaan suku Indian seperti yang pernah dibacanya. Aku yang sudah lama ingin melakukan hal yang sama hari itu sengaja datang lebih awal dengan berbekal sarung kesayangan bapak, sekotak korek api merek säkerhets tändstickor dan satu jerrycan minyak tanah yang kucuri di dapur ibu.

Namun rupanya aku tak sepandai Daleng. Api yang kunyalakan dari tumpukan ilalang kering itu malah merambat kemana-mana dan membakar seluruh padang ilalang yang luas itu. Daleng yang ternyata sudah berada di dekat situ dengan gagah berani menembus padang ilalang dan menemukanku tengah berjongkok sambil menangis ketakutan diantara kobaran api. Ia lantas membungkus tubuhku dengan sarung dan menggotongku berlari menembus padang yang mulai membara. Asap hitam membumbung sampai terlihat dari pinggir kampung. Dua mobil blangbir dari proyek irigasi dikerahkan untuk memadamkan kebakaran itu.

Petugas kelurahan akhirnya menemukan kami tengah terbatuk-batuk di pinggir padang yang sudah gosong. Kamipun di gelandang ke balai desa dan disidang. Aku menangis sejadi-jadinya, namun dengan gagah berani Daleng maju dan mengaku sebagai pelaku. Mukanya babak belur di hajar bapaknya yang supir Fuso itu. Namun keesokan harinya ia sudah muncul lagi di sekolah, berjalan gontai menelusuri lorong sekolah dengan kedua tangan di dalam saku sambil menyiulkan nada lagu kebangsaan kami: “oma daleng.. oma daleng.. oma daleng sekarang”. Aku berhutang nyawa padanya.

***

Daleng! Tidak ada yang pernah tahu siapa nama aslinya. Aku bahkan tidak pernah pamit kepadanya ketika beberapa puluh tahun lalu keluarga kami harus ikut bapak yang pindah tugas ke Jakarta. Aku hanya bisa berdoa semoga dengan modal sifat kepemimpinan dan kesetiakawanan semasa kecil dulu, ia kini sudah jadi orang besar. Minimal jadi lurah atau camat atau malah sudah jadi detektif polisi seperti Steve McGarret di film Hawaii Five-O. Bagiku ia tinggal seberkas kenangan dari masa kecil yang menyenangkan. Kenangan yang nyaris terlupakan, sampai suatu pagi ketika aku tengah sarapan bersama istri dan anakku sambil menonton liputan pagi.

“Pemirsa, Jendral Kusno Sudarji pagi ini akan memenuhi panggilan Tim Pencari Fakta Kasus Skandal Korupsi Bank Suntril. Berbeda dengan kemarin saat ia menangis di DPR, pagi ini wajahnya nampak cerah. Kusno nampak berjalan keluar rumah sambil bersiul-siul dan naik ke mobil yang sudah menunggunya..”

“Kampret! Dungu!! Tolol! Dasar koruptor. Masih bisa sial siul. Bersiul lah sepuasmu di penjara nanti, goblok!” makiku sambil mengunyah krupuk udang sementara istriku sibuk menutupi telinga anak tunggal kami sambil melotot ke arahku. Namun kunyahanku seketika terhenti mendengar suara siulan dari televisi yang melontarkan kembali kenangan dari berpuluh-puluh tahun lalu. Nampak sesosok lelaki tinggi kurus berjalan gontai keluar dari dalam rumah dengan tangan di sakunya sambil bersiul.

Wajah itu sebenarnya sudah tidak asing lagi karena belakangan jadi sorotan. Bahkan baru kemarin ia tampil bercucuran air mata di layar televisi dan bersumpah atas nama Tuhan bahwa ia tidak pernah menerima uang suap milyaran rupiah seperti yang dituduhkan selama ini. Namun caranya memonyongkan mulutnya saat tengah bersiul itu melontarkanku ingatanku ke berpuluh-puluh tahun lalu, ditambah pula nada yang disiulkannya itu. Kubesarkan volume televisi. Ya Tuhan! Hanya satu orang yang kutahu suka menyiulkan nada seperti itu! Aku terhenyak tak percaya..

***

Kepalaku pusing tujuh keliling. Pagi ini adalah hari pertamaku sebagai salah satu anggota Tim Pencari Fakta yang baru ditunjuk Presiden untuk menyelidiki sebuah kasus korupsi besar yang melibatkan banyak petinggi di negeri ini. Pagi itu pula untuk pertama kali setelah sekian lama aku bertemu kembali dengan saudara sedarahku dari masa lalu.

Sore harinya akupun mengundurkan diri.

***

Tokyo, November 2009


Actions

Information

5 responses

9 12 2009
nova

keren!! beneran atau fiksi sih? -penafsiran ganda-

31 03 2012
soewarno

keren
tapi mercaya kok ini fiksi🙂

8 04 2013
rani

cerpen yang sangat menarik

3 09 2013
togeljitu772013

prediksi sgp rabu
04.09.2013
*********
77 – 92 – 42
**********
14 – 63 – 46
dan untuk
mengetahui
lebih lanjut
silahkan
KLIK DISINI
di jamin anda akan lihat hasilnya.

6 05 2014
Yanukata

bagus menarik cerpennya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: