Buku Panduan Untuk Para Skeptis

23 07 2009

Dalam pandangan saya, manusia itu hidupnya sering terancam oleh sifat malas berfikir meski sudah dianugerahi otak oleh Tuhan. Seringkali kemalasan itu ditunjang pula oleh sifat rendah diri dan sifat mudah percaya secara ‘berjamaah’, alias mudah percaya hanya karena orang lain percaya, tanpa ada keinginan untuk membuktikannya.

Coba lihat wujud kemalasan berpikir itu di sekeliling kita. Bahkan ketika zaman katanya sudah tak berbatas dan semakin canggih, berkat teknologi internet, orang justru semakin malas berfikir. Pernahkah anda dengan mudah meneruskan atau memforward email yang berkisah tentang nasib buruk yang akan menimpa anda kalau tidak meneruskan email ini kepada 5 orang lain, atau email tentang ketimun yang saat dibelah membentuk tulisan Allah, atau roti bakar yang gosongnya mirip gambar wajah Yesus dan semacamnya, tanpa ada upaya untuk mencari tahu kebenaran isi email itu?

Dan kalau anda pikir hanya orang biasa seperti kita yang mudah tertipu, anda salah besar. Seorang pengusaha Indonesia bisa percaya oleh salah satu bentuk penipuan paling kuno di internet yang dikenal dengan Nigerian Scam[1]. Ada pula seorang Presiden berpendidikan tinggi bisa percaya begitu saja pada orang yang katanya sanggup menciptakan bahan bakar dari air[2]. Lebih parah lagi, ada pemimpin sejumlah negara adidaya yang bisa percaya begitu saja pada laporan bahwa ada negara lain yang memiliki senjata pemusnah massal, dan setelah negara yang jadi sasaran tuduhan itu digempur dengan pengorbanan materi dan nyawa yang tak terhitung, senjata itu terbukti tidak ada.

Dalam sejarahnya, manusia ternyata memang memiliki kemampuan luar biasa untuk ditipu dan juga untuk menipu namun ada obat untuk membantu menghindarinya, yaitu sikap skeptis. Nah kalau kalimat terakhir tadi, bukan saya yang menulis. Saya hanya mengutipnya dari apa yang ingin disampaikan oleh Richard Wilson[3] dalam bukunya “Don’t Get Fooled Again: A Sceptic’s Handbook”[4], sebuah buku yang seperti judulnya menunjukkan pentingnya untuk selalu bersikap skeptis pada berbagai macam hal karena sifat manusia yang mudah tertipu dan menipu itu.

Richard melihat aksi penipuan itu dalam sejumlah kategori, seperti misalnya:

  • Pseudo News alias berita palsu. Contoh paling menarik dan tragis adalah berita yang dimuat sebuah surat kabar besar di Amerika di tahun 1990 tentang pengakuan seorang juru rawat Kuwait[5] bahwa pasukan Irak menelantarkan bayi-bayi di tempatnya bekerja dengan cara mengeluarkan bayi-bayi malang itu dari inkubator dan membiarkan mereka tergeletak di lantai. Pengakuan ini memicu aksi militer besar-besaran ke Kuwait. Belakangan terbukti bahwa juru rawat itu adalah keluarga kerajaan Kuwait dan berita itu adalah rekaan sebauh perusahaan humas atau PR besar yang disewa kerajaan Kuwait. Oya, perusahaan humas[6] yang sama itu ternyata pernah disewa pemerintah Indonesia di jaman Suharto, terkait masalah Timor-timur.
  • Pseudo Science alias ilmu pengetahuan palsu. Ada banyak contoh yang ditampilkan. Salah satunya adalah tentang kampanye besar-besaran para produsen rokok dunia yang mengaku punya bukti ‘ilmiah’ yang membantah teori bahwa rokok merusak kesehatan. Bahkan ada juga cerita tentang bagaimana Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki dibuat percaya oleh temuan ilmiah yang membuktikan bahwa virus HIV bukanlah penyebab AIDS. [7]
  • Teori-teori Konspirasi. Kalau anda termasuk penggemar teori konspirasi, anda harus baca buku ini untuk melihat bagaimana cara membuktikan kebenaran (atau ketidakbenaran) teori-teori yang nampak meyakinkan itu. Salah satunya adalah soal penenggelaman kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace di Selandia Baru[8] atau tentang kasus 11 September di New York.

Tidak ada yang baru sebenarnya dari buku ini. Pada dasarnya ia mengajari kita untuk tidak mudah percaya begitu saja mengenai segala sesuatu hal dan bagaimana kita bisa membuktikannya, demi kepentingan kita sendiri. Bukankah ini sesuatu hal yang harus dilakukan sebagai manusia yang mampu berfikir?

Berbagai kasus yang disajikan Richard dalam buku itu membuktikan bahwa ternyata kita sudah banyak bersikap “take for granted” terhadap berbagai hal, dan itu ternyata bisa berakibat fatal. Karena itulah, katanya, sikap skeptis itu diperlukan.

Oya, buku ini juga cocok buat para penggerutu seperti saya, karena membantu mengingatkan bahwa bersikap skeptis itu tipis batasannya dengan sikap sinis atau nyinyir. Keduanya memang sifat yang tidak mudah percaya pada berbagai hal. Namun sinis, kata Richard, selalu berasumsi buruk tentang segala sesuatu hal, sementara orang yang skeptis, selalu berusaha untuk mengumpulkan sebanyak mungkin asumsi.

Nah, apakah anda mau menjadi seorang skeptis, sinis atau masa bodoh. Pilihan tetap anda pada diri anda.

Selamat melanjutkan hidup, kawan..

Rujukan:

[1.] Pengusaha Indonesia yang tertipu Nigerian Scam

[2.] Pak Presiden dan Blue Energy

[3.] Blog Milik Richard Wilson

[4.] Buku karya Richard Wilson

[5.] Suster Nayirah dan pengakuan palsu itu

[6.] Perusahaan Humas yang hebat itu

[7.] Thabo Mbeki dan AIDS

[8.] Penenggelaman Kapal Rainbow Warrior


Actions

Information

14 responses

24 07 2009
ansav

Jadi tertarik untuk membaca buku ini, semoga bermanfaat buatku.. maksih ya resensinya.

25 07 2009
eri-communicator

Jadi tertarik untuk membaca buku ini, supaya ada perubahan dan pencerahan..

2 08 2009
Tantia

mmm….good blog..and iinteresting book…jujur Bro…aku sering dibuat bingung dengan berita yg macem2….palagi berita2 yg mancing perselisihan antar agama…atau kelompok dalam agama itu sendiri…….sering orang dibuat yakin dengan satu kabar atau fakta negatif tentang kelompokmor agama lain sehingga emicu kebencian atau rasa waspada yg berlebihan atau malah antipati pada kelompok lain itu….padal…nek hati kecilku sendiri kadang suka ga percaya…..apa iya orang2 (apapun agama mereka) bisa hampir semuanya sekejam itu………
Well…emang bener Bro..harus lebih wise nerima berita apapun juga…
Trims infonya.

18 08 2009
abiyar

barangkali bukan skeptisme. namun kehati-hatian dalam menerima sebuah berita/informasi. tidak semua yang kita dengar/lihat itu benar.

18 08 2009
JaF

thanks. kehati-hatian itu ya bagian dari sikap skeptis🙂 tidak mau asal percaya begitu saja pada setiap informasi yang diterima

18 08 2009
ammar

Aku juga hati-hati, dan cari tau info sebanyak mungkin sblum bertindak,. akupun pernah dapat kupon berhadiah, dalam detergen, tapi stelah searching di google dan telepon custumer service, kupon tersebut emang palsu. Makasih mas Rane, dah ingatkan kembali.

8 10 2009
Arief

Iya emang kadang kita klo uda dpt rejeki nomplok uda lupa diri, sampe gak mikirin darimana tu rejeki dateng…thx uda ngingetin

25 11 2009
vicbro

bagus tuh kayanya bukunya.. gw bangettt… susah ilang..XD

15 01 2010
ika

buku ini menarik (klo liat sampulnya),,, dgn menyisipkan “a sceptic handbook”… mbuat org sperti saya ingin segera mbacanya..🙂

30 03 2010
adegustiann

makasih pak infonya.. baru tau saya kalo ada buku penting seperti ini…

17 03 2011
orang gila

buku ini sudah ada terjemahannya blum y???? maklum, lum lancar. . . hehe

16 04 2012
kontraktor bangunan

makasih infonya yaaa…menarik…:)

14 02 2014
Ima Yahya

Mendidik artikelnya🙂

30 09 2016
Muh Febrian

bisa beli dimana ya…? soalnya di toko-toko buku susah di daerah saya (AMBON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: