Groundswell ala Omni International Hospital

4 06 2009

Kasus Ibu Prita Mulyasari mengingatkan saya pada istilah ground swell [1] yang juga adalah sebuah judul buku yang sangat menarik dan rasanya ingin sekali saya berikan pada orang-orang humas di Rumah Sakit Omni Internasional Serpong supaya mereka berkaca.

Buku itu intinya mencoba menjabarkan membantu kita memahami fenomena online dewasa ini dan bagaimana para manager dan pihak perusahaan bisa memanfaatkannya. Saya menemukan satu definisi menarik dari buku ini dari boston.com:

“A new book by two researchers explains how companies’ reputations can be tarnished by the cacophony of Internet commentary, and how they can fight back” [2]

Well, guess what? Telaaattt.. ! Rumah Sakit yang mengaku berkelas internasional itu kini menghadapi mimpi buruk karena “brand” mereka di sorot habis-habisan tapi dari segi negatif. Rasanya mulai dari masyarakat paling bawah bawah sampai ke tingkat presiden, bahkan sampai ke luar negeri sekalipun akan ingat nama Omni International Hospital, tapi sayangnya dari sisi negatif. Dan semua itu berkat “kehebatan” siapapun itu yang bertanggung jawab atas urusan Public Relation atau Humas rumah sakit tersebut.

“Mau kelas internasional kek, masa bodo. Ogah deh gue berobat di sana.  Udah kagak sembuh, eh masuk penjara lagi ntar.” Ini kurang lebih adalah komentar seorang teman di facebook, salah satu media dimana berkembang ‘gerakan’ mendukung Ibu Prita [3] yang kemudian merembet kemana-mana. Poster buatan Paman Tyo [4] misalnya yang merupakan bagian dari gerakan Solidaritas mendukung Ibu Pritha sampai muncul di televisi segala. Atau coba google nama rumah sakit itu [5]. Di urutan pertama mungkin muncul alamat situs rumah sakit tersebut tapi susah sekali di akses. Namun lihat urutan berikutnya. Semua cerita tentang masalalah Ibu Prita. Amboooiii.. kumplitlah sudah mimpi buruk orang Omni!

RS Omni International nampak memang berusaha memberikan ‘perlawanan’ terhadap citra yang menurut mereka sudah dirusak oleh Ibu Pritha. Jadilah iklan besar setengah halaman di dua koran utama. Jelas biayanya mahal, tapi malah mubazir karena iklan dengan gaya yang super jadul itu malah mempertegas keangkuhan institusi besar seperti Omni. Tambah angkuhlah kesan orang pada mereka ketika Ibu yang masih menyusui seorang anak berusia 1 tahun itu sampai harus dipenjara gara-gara beliau menolak untuk mencabut kembali email yang berisikan keluhan terhadap pelayanan rumah sakit itu. Bos.. gimana cara nyabutnya? Itu email sudah berlipat ganda kesana kemari (atau seperti istilah anehnya ketua Mahkamah Konstitusi, sudah terkloning [6] hahaha).

Bagi saya, kasus ini adalah pelajaran sangat berharga bagi perusahaan di Indonesia untuk mulai memperhatikan fenomena online ini.  Dulu, surat pembaca di koran adalah salah satu media ampuh. Tapi ini era online bung. Sebuah era yang sudah menyumbang pada keberhasilan satu orang presiden di Amerika sana, sementara di Indonesia telah menyumbang pada rusaknya citra seorang capres [7], dan kini giliran citra sebuah rumah sakit yang katanya berkelas internasional itu..

Fenomena online yang terjadi saat ini bisa menjadi mimpi buruk bagi pihak perusahaan manapun, tapi bisa juga jadi mimpi indah, kalau mereka tahu memanfaatkannya..

Buku groundswell yang saya kutip di awal tulisan ini adalah salah satu referensi yang sangat bagus karena menyertakan kasus-kasus menarik, mulai dari kasus blogger Korea Selatan vs Dunkin Donuts [8], kasus Digg.com dan bocornya nomor kode enkripsi dvd hd [9], kisah Bob Lutz dan terobosannya dalam memanfaatkan blog dan masih banyak kasus menarik lainnya.

Dan kalau groundswell sampai diterbitkan ulang, saya akan usulkan pula untuk menyertakan contoh kasus Ibu Prita vs Omni International. Biar tambah super komplitlah mimpi buruk mereka hehehe

Tautan Terkait:

[1] Situs resmi buku groundswell.com. Buku wajib baca bagi perusahaan atau institusi manapun kalau memahami fenomena online saat ini.

[2] Ulasan tentang groundswell dari boston.com.

[3] Dukungan bagi Ibu Prita di facebook. Sampai menyebar ke televisi dan media cetak segala.

[4] Salah satu poster buatan Paman Tyo, seorang blogger kondang🙂

[5] Hasil googling “Omni International Hospital”. Betul-betul PR Disaster!

[6] Sudah ‘terkloning’. Komentar ‘unik’ ketua MK tentang kasus ini. (via blog Boy Avianto)

[7] Say no to Mega. Contoh kerusakan yang bisa ditimbulkan di dunia online.

[8] Kasus Blogger Korsel vs Dunkin Donuts.

[9] Digg.com dan bocornya kode enkripsi HD DVD.

-rh-


Actions

Information

22 responses

4 06 2009
isnuansa

Saya kok bisa dengan mudah masuk situs Omni ya? Tapi memang benar, dibawahnya adalah tulisan kasus-kasus Prita.

5 06 2009
fritz

buat bu prita.. yang tabah yah..🙂

5 06 2009
Daranuri Prihatiningtyas

RS OMNI Iternational Alam Sutera Juga Menggugat Almarhum Pasien….
KOMPAS, Jumat, 5 Juni 2009 (halaman 25)  Kasus lain juga terjadi. Akhir tahun lalu PT Sarana Meditama Metropolitan (yang mengelola RS Omni Internasional) juga melayangkan gugatan terhadap salah satu pasiennya karena alasan pembayaran tagihan. Pihak keluarga pasien belum membayar tagihan biaya perawatan karena menilai nilai tagihan tak wajar.
Pada Kamis kemarin, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang gugatan itu. Sedianya, sidang diisi dengan pembacaan putusan. Namun, Ketua Majelis Hakim Reno Listowo menunda pembacaan putusan karena terdapat pergantian hakim.
Kasus itu bermula ketika Abdullah Anggawie (almarhum) masuk ke RS Omni Medical Center (OMC), Pulo Mas, Jakarta Timur, pada 3 Mei 2007. Abdullah dirawat selama lebih kurang tiga bulan sampai akhirnya meninggal pada 5 Agustus 2007.
Saat meninggal, pihak RS mencatat masih ada tagihan sebesar Rp 427,268 juta. Total biaya perawatan selama tiga bulan mencapai Rp 552,268 juta. Pihak keluarga telah membayar uang muka Rp 125 juta sehingga tagihan tersisa Rp 427,268 juta.
Pada 24 November 2008, PT Sarana Meditama Metropolitan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan dilayangkan kepada Tiem F Anggawi, PT Sinar Supra Internasional, yang berperan sebagai penjamin berdasarkan surat jaminan 28 Juni 2007, dan Joesoef Faisal yang bertindak sebagai penanggung jawab perawatan pasien Abdullah di RS.
Kuasa hukum pasien, Sri Puji Astuti, mengatakan, pihaknya sebenarnya bukan tidak bersedia membayar tagihan. Namun, pihaknya meminta RS mengeluarkan resume biaya dan rekam medis milik pasien terlebih dahulu. Namun, hingga kini rekam medis tersebut tidak diberikan.
”Sampai sekarang keluarga tidak tahu sakitnya apa. Selama tiga bulan perawatan itu pun tidak diberi tahu,” ujar Sri Puji Astuti. (silahkan klik : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/05/03230421/menkes.lapor.ke.jalur.yang.benar).

5 06 2009
JaF

@isnuansa: aneh saya nggak bisa. Apa karena di luar Indonesia ya. Padahal penasaran
@daranuri: jreeng jreng jreeeennnggg…!

8 06 2009
ichsan

bisa usul kasus manohara di masukin juga ga mas hehe *doh ga nyambung blas ama materi bukunya*

9 06 2009
Ono Gosip

BREAKING NEWS !!!
JAKSA AGUNG MEMERINTAHKAN MEMERIKSA PARA JAKASA YANG MENUNTUT PRITA, YANG MENURUTNYA
TIDAK PROFESIANAL.

TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
“Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

15 06 2009
berita terbaru

iya angkuh banget tuh RS Omni,kenapa ga langsung memperbaiki kesalahannya aja ya?kalo kaya gitu mah malah bikin orang tambah negatif aja..

16 06 2009
TOPNews

Tuhan memberi jalan bgm ‘congkaknya’ Rumah Sakit OMNI INT dg terkuaknya kasus prita,,

Tuhan YME tdk pernah tidur

22 06 2009
lukisan abstrak

seharusnya hukum mengenai cyber crime segera di tegakkan

22 06 2009
se7en_pearl

kayaknya sekarang ene,RS OMNI sangat akrab dengan ibu Prita…
semoga rumah sakit yg laen tidak mencontoh…..
buat korba” laen yg tabah…
dan para” org jahat,moga kamu mendapatkan hukuman yg setimpal…

22 06 2009
Investasi

RS OMNI ini ternyata korbannya banyak bener dan mulai bermunculan saya heran bisa begitu RS INTERNATIONAL

28 06 2009
Blog Dokter

Kesalahan manajemen rumah sakit yang berakibat fatal.

4 07 2009
Bang Del

Saya berfikir, apakah Rumah Sakit mahal di Indonesia harus seperti RS OMNI? Mungkin Pemerintah juga harus turun untuk benar-benar melihat langsung ke bawah. Maksud saya, tidak sembarangan untuk mendirikan RS walaupun modal cukup untuk itu. Kan ada Departmen Kesehatan kita, seharusnya merka juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab donk. Terus terang, saya dan keluarga pernah mengalami hal yang sama seperti kasus Prita. Saya benci RS Indonesia yang sok bergaya Internasional namun kayak jangkrik semua.

4 07 2009
Mulyana

Omnh mau nyerang pake boomerang, tapi kurang becus makenya…ya senjata makan tuan jadinya.

7 07 2009
bocahbancar

Hhmm..berita ini postingan lama ya Mas…

Diupodate lagi dunks…🙂

Salam semangat Bocahbancar….

7 07 2009
AeArc

ngbuat masalah aja tuh orang, dah banyak masalah, malah nambah lagi.. *gak nyambung* =))

9 07 2009
Bisnis

ya disini di tunjukkan kebesarannya yang benar di perlihatkan dan di menangkan

16 07 2009
pherry

long live truth….

24 08 2009
Irene

I’m interested in talking about the groundswell.
Menurut mu groundswell mana yang berkembang OK di Indonesia?🙂

20 10 2009
else

parahhhhh deh omni…..

20 10 2009
ling

wah wah.. PR nya gmn neh….. bukannya menjembatani agar kasus selesai n meningkatkan image positif malah bikin ide2 ga karuan….ck..ck..ckk…

10 12 2009
dedy

Bodoooohnyaaaa…. ga tau malu padahal udah diekpos negatif di masyarakat, ngotot lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: