Facebook dan Hak Asasi Anak

17 05 2009

Jaman sekarang kalau ngomong lucu harus hati-hati. Nanti bisa dibuat (status) fesbuk.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Tuan Putri Kecil saya saat melihat status di Facebook ibunya.

Ini gara-gara suatu malam dia menuntut istirahat di tengah kegiatan belajar dengan alasan jarinya sudah ‘penyok’ kebanyakan menulis. Penyok itu istilahnya sendiri hehe.. Maka jadilah peristiwa itu diceritakan di status facebook istri saya. Untuk lucu-lucuan saja. Saya yang masih di kantor pun tertawa membacanya.

Tapi komentarnya seperti di awal tulisan ini mengingatkan saya pada obrolan sekilas dengan seorang teman mengenai media jejaring sosial yang tengah populer ini. Si kawan ini punya prinsip bahwa memasang foto atau cerita tentang kelakuan anak di facebook dan media sosial lainnya itu memang lucu dari sudut pandang kita orang tua, tapi berpotensi melanggar hak asasi dari sisi si anak.

Poin yang menarik dan ada benarnya. Siapa tahu si anak sebenarnya tidak ingin fotonya di pajang. Itu kan foto dia, jadi hak dialah untuk menentukan apakah akan memasangnya atau tidak.

Saya bisa memahami pendapatnya, karena anak perempuan saya sejak kecil saya larang untuk di tindik telinganya dan dipasangi anting yang lucu dan imut-imut, seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Bagi saya, biarlah dia yang nanti memutuskan saat sudah besar apakah akan ditindik atau tidak. Toh itu telinga dia, bukan telinga bapak, ibu dan keluarganya.

Kembali ke facebook. Media jejaring sosial ini memang sudah jadi bagian hidup keluarga kami, termasuk si Tuan Putri Kecil yang baru berusia 9 tahun. Pulang sekolah, yang dilakukan pertama olehnya  adalah memeriksa apakah ada pesan di facebooknya dari teman dan keluarga di Indonesia. Kangen dengan tantenya di Indonesia, dia akan chatting di facebook. Kalau ada foto bagus, dia akan minta ibunya atau saya untuk menguploadnya. Malah sesekali dia sudah bisa meninggalkan pesan video di facebook. Semua dia lakukan atas keinginan sendiri, dan kami bebaskan dia untuk melakukannya, tentu dengan sepersetujuan dan pengawasan kami orang tuanya. Tidak pernah kami izinkan dia berfacebook sendirian tanpa pengawasan apalagi membiarkannya meng-invite orang lain atau meng-approve orang lain untuk jadi teman. Harus ijin dulu!

Namun pernyataannya tadi, walau disampaikan dengan bercanda, kembali mengingatkan kami orang tuanya bahwa sebagai anak dia pun punya hak asasi. Oke deh Put.. Lain kali Ayah sama Bunda akan izin dulu ya sebelum cerita-cerita tentangmu di facebook.🙂

Jangan sampai nanti dia mengadu ke Kak Seto di Komnas HAM. Apalagi Kak Seto sudah ada dalam jaringan pertemanannya di facebook hehehe…

Nah, apakah anda sudah memahami hak asasi anak anda?🙂


Actions

Information

13 responses

18 05 2009
Dony Alfan

Wah wah, anak jaman sekarang mainannya udah fesbuk. Saya jadi ingat puisi bikinan seorang anak, “Ibu dan Facebook”

18 05 2009
snydez

waduh..
gimana saya ya? yang udah bikin blog buat anak anak saya..

18 05 2009
Lemi4 aka. fERDI:)

Satu sih Mas JaF, di dalam terms of use-nya Facebook sebenarnya ada pasal usia minimal bergabung dengan Facebook yaitu 13 tahun, tapi jarang sekali pengguna Facebook Indonesia yang mengetahuinya.

Dan pada kenyataannya banyak sekali pengguna Facebook di Indonesia yang berusia di bawah 13 tahun. Selain anak Mas JaF, juga ada keponakan saya, dan saya yakin masih banyak lagi. Di ‘sono’ sih udah mahfum, bahwa para anak di bawah 13 dicegah untuk menggunakan Facebook. Salah satu conventional wisdom yang menjadi alasan batasan umur tersebut juga, adalah perlindungan terhadap anak.

Tapi di lain pihak, Facebook telah nyata mendorong anak untuk lebih berani berekspresi, berpendapat, serta bertukar pendapat. Dan saya rasa, dengan pengawasan yang tepat, cukup bermanfaat bagi mereka yang muda untuk menggunakan media jejaring sosial maya seperti ini.

Tapi tentunya juga harus diperhatikan, bahwa para kaum muda ini pun tetap menggunakan jejaring sosial di dunia nyata (dan nggak ketagihan ber-Facebook ria😉

19 05 2009
-GoenRock-

Saya belom punya anak, jadi belom bisa jawab🙄

19 05 2009
kang aips

hebay si Bapak..ada saja bisa nyampe ke sini toh .. padahal kita gak sadar batuL hal ini ….

20 05 2009
gadis

wah kecil2 uda maen fesbuk

20 05 2009
JaF

@Dony: iya.. saya inget puisi itu. Sempat punya pikiran jelek bahwa itu bukan karya si anak dan terlalu dibuat2.. tapi biar aja ya.. emang kenape?🙂

@snydez: ya emang kenapa? lanjutkaaann…

@ferdy: Rasanya orang manapun akan tahu terms of use itu. Soalnya kalau mereka coba masukkan tahun lahir anaknya, otomatis ditolak sama facebook. Berarti yang bisa bikin facebook buat anaknya tau dong.. termasuk saya hehehe Tapi saya sepakat, facebook ini bikin anak jadi ekspresif dan melek teknologi. Tapi itu tadi.. teteup harus diawasi..

@goenrock: bikin dulu bos.. ntar baru ngerasain hehehehehe

@kang aips: lha itu juga anak saya yang nyadarin

@gadis: masih belajar tanteeee🙂

21 05 2009
gery@saungkuring.com

nggak bisa komen ah… cuman senyum senyum kecil

21 05 2009
JaF

gery: eleeuuhhh.. kirain teh siapa si gery saungkuring.. calon gubernur lampung taunya hehehe

2 07 2009
Bisnis

wew, menakjubkan anda anda sampai berfikir ke arah situ juga wew, anda hebat ya memang hak asasi anak juga kita harus peduli juga , salam kenal

21 01 2010
fani

bagus2 dan sangat bermutu ulasan anda mas.boleh copy link anda mas?

21 01 2010
fani

bagus2 dan sangat bermutu ulasan anda mas.boleh copy link anda mas? lagi belajar nih……..

10 03 2010
andik

hak asasi memang di utamakan….

bener banget mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: