Lottery

23 09 2008

LotteryKawan-kawan, saya mau rekomendasikan satu novel bagus. Judulnya Lottery karya Patricia Wood. Sebuah novel yang beberapa hari terakhir ini membuat saya menyingkirkan sejenak Click nya Bill Tancer yang tengah asik-asiknya saya baca.

Mengkhayal menang lotere memang paling asik. Rasanya dunia pun bisa dibeli. Nah, Tante Patricia pun agaknya menyadari hal ini dan mengeksploitirnya dalam novel pertamanya. Menariknya ia mengajak kita melihatnya dari sudut pandang seorang Perry L. Crandall, tokoh utama dalam novel ini.

Perry menyebut dirinya manusia istimewa dan beruntung, walaupun di mata orang normal dia masuk kategori terbelakang mental atau mentally retarded karena IQ nya yang cuma 76.

“I am thirty-two years old and I am not retarded. You have to have an IQ number less than 75 to be retarded. I read that in Reader’s Digest. I am not. Mine is 76.” (hal.1)

Perry yang tidak dikehendaki oleh Ibu dan kakak-kakaknya tinggal bersama neneknya yang mengajari ia segala hal yang membuatnya bisa mandiri dalam hidup.  Perry misalnya diajari untuk mengatasi kekurangannya dengan mencatat apapun agar ia tidak lupa. 

“Not forgetting is hard. Writing helps me not to forget” (hal.85)

Ia diajari mengenali kata-kata di kamus satu persatu, setiap hari, hidup dalam keteraturan, mulai dari mencuci baju, belanja seperlunya, memasak, menabung gajinya (setengah untuk dipakai, setengah ditabung) termasuk juga membeli lotere secara rutin. Ia juga diajari untuk membuat daftar orang yang bisa dipercayainya

“For example, a policeman” Gram draws numbers on the paper. “He is number one on the list.” (hal.8)

Tidak ada yang perduli padanya kecuali si Grams, Keith teman kerjanya yang pemabuk dan Gary, pemilik toko peralatan perahu tempatnya bekerja. Tapi suatu hari nasib membawanya menjadi pemenang lotere senilai 12 juta dolar! Ia menjadi terkenal, masuk koran, dan tiba-tiba saja semua orang menjadi baik padanya. Tapi ia tidak pernah mencurigai mereka..

“There are people standing outside my door. Some of them I know. Like my teacher Miss Elk from school. She wants to shake my hand and aske me todonate to her new school. That’s cool” (hal 105)

Disinilah cerita ini berkisar. Pada bagaimana keluguan seorang Perry menanggapi kebaikan instan orang-orang di sekelilingnya, bagaimana saudara-saudaranya yang gila harga mengejar untuk mendapatkan uangnya. Semua diceritakan dari sudut pandang Perry yang lugu tapi menarik.

“Have you been sending these people money?” Gary asks. He holds up a letter from a girl scout leader.
“They want to go for a trip to Canada,” I explain. “It’s educational” (hal 107)

Ia misalnya punya cara sendiri mengelola uangnya yang lebih dari 100 milyar perak itu.

“Ha! I never worry about money. You work at your job and you get money. You save half and you spend half. Half is savings. Half is checking. That is what I do. That is what Gram said. Other people worry about money. Money just is. I don’t worry about it” (hal 108)

Novel ini mengajari saya banyak hal. Ia mengajari tentang kesederhanaan hidup sekaligus menertawakan kita orang normal.  Perry memang tokoh rekaan, tapi saya iri pada hidupnya yang penuh kedisiplinan, pada keikhlasannya, pada kesederhanaannya memandang hidup.

“I buy everybody lunch on the days I work. It is so cool. I mean when a person can buy lunch for everybody, everyday, it makes that person feel rich inside no matter how much money they have. That’s why I like to do it. It makes me feel rich.” (hal 148)

Oke. Ini memang cuma fiksi. Tapi penulisnya, si Tante Patricia yang mahasiswa doktoral di bidang pendidikan untuk orang-orang terbelakang tahu benar kehidupan orang-orang istimewa macam tokoh dalam novelnya. Ia bahkan menurut saya juga mengajari kita bagaimana menangani anak-anak terbelakang agar bisa bertahan hidup, lewat contoh didikan Grams yang sederhana. Padahal sekolah-sekolah semua menolak keberadaan cucunya itu. Toh pola didikan si Grams terbukti bisa membuat Perry yang 32 tahun itu bisa hidup dengan normal, bahkan menurut saya lebih normal dari orang normal sekalipun. Rasanya novel ini juga bisa menjadi ilham yang sangat bagus buat mereka yang memiliki anak istimewa seperti Perry.

Saya pribadi bisa bersimpati pada tokoh Perry karena punya seorang saudara dekat yang juga memiliki keterbelakangan mental dan rasanya saya semakin bisa menghargai dirinya lebih baik lagi, bahkan sering dibuat iri dengan kesederhanaan hidupnya.

Kalau anda suka menonton film Forrest Gump, rasanya anda akan suka novel ini. Bahkan menurut saya kisah Perry lebih realistis dan tidak berlebihan seperti kehidupan Forrest.

Yang jelas ini sebuah novel yang menertawakan kita semua yang merasa sebagai manusia normal!

***

LINK TERKAIT:

 


Actions

Information

7 responses

23 09 2008
doom bloog

weleh weleh weleh,

ada yang kecanduan lottery nih,

btw, di Padang bukunya blon mendarat deh

23 09 2008
ambar

lah oom rane aku juga lagi mau baca click itu. ditunggu resensinya. *oot yah🙂

23 09 2008
bangsari

jadi ingat forrest gump, sepertinya mirip ya.

23 09 2008
Donny Reza

Aww! Om, baca kutipan-kutipannya udah luar biasa gitu😀 tapi, dmana saya bisa dapetin bukunya om? Di Gramedia ada gitu?😀

29 09 2008
augustmist

jadi pengen baca Ne. Gue percaya abis ama rekomendasi buku2 dari lo. Perlu bikin Rane Book Club, buat ngalahin Oprah Book Club..hehehehe

6 10 2008
deba pirez

Om Rane mau nulis buku lagi mungkin?hehe…

27 01 2012
Patricia Wood

Aloha and Thank you!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: