7 Tetes Air Mata Untuk Ayat Ayat Cinta

31 03 2008

aac.jpg* Sebuah Ulasan Film Yang -maaf- Tidak Ada Intelek-inteleknya.

Ketua MPR sudah nonton, Wapres juga sudah. Malah mantan Presiden menitikkan air mata, demikian juga Presiden. Maka tentu saja sekarang giliran saya untuk menonton Ayat-Ayat Cinta The Movie hehe…

Tak kalah dengan Pak Habibie dan Pak SBY, saya pun menitikkan air mata. Bedanya kalau kedua orang itu mungkin menangis sembari mengikuti jalan ceritanya, saya menangis sambil mencari jalan keluar dari bioskop. Ya tentu saja setelah ceritanya selesai. Rugi lah sudah bayar mahal ke Pakdhe Sudwikatmono kalau nggak tuntas nontonnya. Tapi saya tetap menangis dan menangis dan.. ah.. baca sendiri lah.. – hiks hiks -..

  • Hiks.. – Saya menangis karena gambar di layar redup dan teduh meskipun katanya itu efek sinematrografi yang indah. Tapi saya justru mengharapkan tergambarnya suasana Mesir yang panas terik menyengat seperti yang digambarkan di novelnya. . Saya tidak bisa merasakan Ashir Mangga yang di novelnya kok terasa nikmat sekali membasahi kerongkongan.
  • Hiks.. – Saya menangis karena disodori sosok Fahri yang sudah jadi, sudah ganteng dan pintar, dan tidak ikut merasakan kerasnya perjuangan ketika ia dan kawan-kawan harus begadang membuat tempe untuk menghidupi diri dan keluarga di kampung. Tidak pula saya merasakan indahnya persahabatan ketika mereka, anak-anak kos itu sedang pesta makanan sederhana di atas loteng rumah kos mereka sambil menatap bintang dan bercerita tentang masa depan.
  • Hiks.. – Saya menangis menemukan sosok Aisha terlalu manusiawi, judes, dan sok pamer kekayaan keluarganya. Aisha ku itu, meskipun tertutup cadar dan hanya tampak matanya, tapi bisa terasakan kecantikannya, kesantunannya, keikhlasannya sekaligus juga kepandaiannya.
  • Hiks.. – Saya menangis melihat Fahri dan Aisha berciuman di layar perak walau hanya sekejap dan terhalang jendela kaca rumahnya. Padahal tanpa harus ada gambaran selugas itu saja di novelnya, saya sudah bisa membayangkan sebuah hubungan halal yang Masya Allah, indah dan nikmatnya..
  • Hiks.. – Saya menangis karena di film itu menemukan banyak sosok yang tidak saya kenal. Nurul binti Ja’far Abdur Razaq misalnya dari awal film sudah digambarkan kegatalan pada Fahri. Itu bukan Nurul yang saya kenal dari Kang Abik. Dan Maria.. hiks.. yang saya kenali dari dirimu hanya tali dan keranjang itu saja. Begitu juga dengan dirimu, Noura.. ah.. setengah mati aku mencarimu di sela-sela wajah cantik Zaskia Adhya Mecca, bintang film idaman saya. Saya akhirnya mengenalimu setelah kau diseret-seret bapakmu, wan Bahadur yang kejam itu.
  • Hiks.. – Saya menangis karena tidak menemukan ‘efek itu’ seusai menonton. Maksudnya efek yang selalu saya rasakan usai menonton sebuah film yang inspiratif. Efek yang membuat saya berani dan terasa jadi jago silat ketika habis menonton film laga. Efek yang membuat saya serasa jadi pencinta sejati ketika habis menonton film romansa. Efek ajaib yang serasa telah mengubah diri saya meskipun hanya sepanjang jalan pulang dari bioskop sampai ke rumah, atau sesekali masuk ke mimpi.
  • Hiks.. – Oh ya, saya juga menangis karena menyesali menonton filmnya setelah membaca novelnya. Harusnya terbalik. Nonton dulu baru baca novelnya. Persis seperti ketika menonton film Contact nya akang Carl Sagan atau memelototi rentetan serial Little House on The Prairie nya teteh Laura Inggals Wilder yang belakangan baru tahu kalau ada novelnya setelah nonton filmnya.

Muhun ya Kang Hanung. Mohon maaf. Ini bukan salah anda sebagai sutradara hebat. Ini mungkin salah saya sebagai penonton. Lagipun tanpa mengurangi rasa hormat pada Kang Hanung, menurut saya sutradara paling hebat di dunia memang cuma diri sendiri dengan otak sebagai layar dan diri sendiri sebagai penontonnya.. Orang jenius seperti Kang Hanung hanya bisa berusaha saja mendekati kehebatan itu..

Permisi ah, saya mau nangis lagi.. Soalnya saya sudah baca habis Laskar Pelanginya Bang Andrea Hirata bahkan sudah tiga kali membacanya ulang, dan hiks baru dengar kalau buku itu.. buku itu.. akan.. hiks.. akan di film.. hiks.. kan hiks.. juga..

HUAAA… HWAAAAAAAAAAAA!!!!

🙂


Actions

Information

21 responses

31 03 2008
gerry

pertamaaa…?

jadi penasaran ma film-nya, sepertinya ulasannya ada dimana-mana ya, mas Rane…di Malaysia sini kok ga muncul ya? atau saya aja yg ga tau?

ato baca novel aja yah? tapi lama kalo novel, kalo nonton filmya jangan2 “hiks..hiks” kaya mas Rane lg…*berpikir*

31 03 2008
aRuL

mas sy juga beberapa bagian tertentu film ini sy koq terasa aneh yakz…
tapi2 emang mesti sama yah novel dan film itu?

1 04 2008
arya

resiko yang dihadapi semua “penikmat” buku saat buku kesayangan mereka dibuat menjadi film.

“menurut saya sutradara paling hebat di dunia memang cuma diri sendiri dengan otak sebagai layar dan diri sendiri sebagai penontonnya”

ini adalah ungkapan paling tepat, bahkan dari seluruh posting saya tentang penggambaran kekecewaan atas film-film yang diterjemahkan dari sebuah buku. Biasanya alasan utama adalah durasi dan budget, namun menurut saya adalah perbedaan imaji dari sutradara, otak, dan penonton.

1 04 2008
bundadzaky

Daripada saya hiks…hiks.. lebih baik daripada saya tidak nonton filmnnya, tidak ada ji orang mati penasaran gara-gara tidak nonton film. Biar mi Aisah, Maria, dan Nurul Kang Abid yang ada di khayalannku.

1 04 2008
mee- jee

memang kalo dah baca buku trus nonton filmnya, pasti bakal gak ada rasanya karena udah tau duluan jalan ceritanya. Sy juga gitu kok..
Tapii.. ya gak mungkin jugalah mau bikin film yang mencakup semua cerita yang ada dibuku nya, durasi nya bisa sehari bukan 2 jam

1 04 2008
veta

belum nonton dan belum baca novel. kalo liat istri pas baca novel (nangis dia). belum begitu pengen untuk nonton , jauh dari bioskop😦

1 04 2008
Hedwig™

Aku ndak nonton.. soale gak ada teksnya :p

2 04 2008
ipul

saya kebetulan belum baca novelnya..tapi udah nonton filmnya..
dan walhasil..sy jadi cukup bingung dengan jalan cerita di filmnya..
plus konfilk2 yg rasanya terlalu maksa..

dalam bayangan saya, kalo misalnya filmnya mau dibikin agak mirip dengan bukunya, kenapa ndak pake bantuan narasi aja yah..?, biar adegan2 ttg Fachri seperti yg diceritakan di atas juga bisa tetap muncul…

ah..ini hanya opini dari seorang penonton yang selalu “sok jago” aja…
hehehe..

2 04 2008
Broken Hearted Heart Breaker

Hiks, saya malah belum nonton…

Takut imajinasi nyaris sempurna yang ada di otak usai baca novelnya rusak karena pilem yang banyak disorot ini…

Hiks,.,..

3 04 2008
aNdRa

Aku bahagiaaaa *nyanyi ala Bekti – GSP* karena gak baca novelnya (mendingan bobo di kreta), dan gak nonton pilemnya (males desak2an di bioskop).
*ada sih versi 6rebu,tapi malas,kmaren malah belinya kartun gambar gajah*😀

3 04 2008
badot inside

Subhanallah betul sekali oom, saya mending acungkan 80 ribu jempol buat novelnya, tapi kalo filmnya gak sebagus novelnya. Misalnya aja layar yang kata banyak orang karena efek sinematography, padahal kalo dilihat lagi kaya film dokumenter oom…tapi salut, keren hehehe

3 04 2008
Donny Reza

Cup…cup…cup, sini om sandarkan kepalanya di bahu saya…
Saya juga setuju dengan semua hiks nya itu, terutama hiks yang ke-6…
Saya sih berusaha melepaskan frame novel di kepala saya waktu menontonnya, tidak sepenuhnya berhasil, tapi tetap saja saya tidak bisa memberikan nilai “luar biasa” untuk film ini. Bahkan jika dibandingkan dengan “Kiamat Sudah Dekat” pun, masih lebih baik “Kiamat Sudah Dekat”…;-)

5 04 2008
endangpurwani

gue kok malah gak suka baca novelnya ya……mending filmnya……

5 04 2008
nanda

jujur aja, saya nggak hobi baca apalagi novel yg setebel2 bantal, jadi saya nggak ada ekspektasi yang berlebihan untuk film AAC, terlepas ekspektasi pak JaF yg lumayan banyak, tetapi bagi penikmat film yang tidak cukup kritis sperti saya, film ini malah masih termasuk film yang bagus, mungkin lebih kepada memberi alternatif genre film2 sbelumnya yg itu2 saja, yah angin segar lah. Yang pasti film ini akan memberi andil yang cukup besar demi perkembangan film Indonesia. Seandainya dulu tidak ada film ‘Petualangan Sherina’ yang banyak orang bilang sebagai tonggak dimana bangkitnya film sempat Indonesia yg mati suri, pasti film ini bisa juga melakukan hal serupa seperti film ‘Petualangan Sherina’

7 04 2008
augustmist

kalo kata teman kita vida…filmnya mengecewakan karena terlalu sinetronisasi (ya iyalaaaah…kan produsernya jagoan sinetron).

Padahal dia udah bela2in bolos kantor bareng anak buahnya tuh…kekekekekkeke…

Kalo gue sih…emang pada dasarnya gak suka pelem lop lopan, jadi ya emang gak pingin nonton…..daripada kelar nonton tertawa terbahak bahak liat orang2 yang pada mewek (kayak waktu nonton film Ghost dulu, bukannya nangis, malah sibuk ngetawain orang yang matanya sembab)….

11 04 2008
tikabanget™

hhhh!!!
backsoundnya itu juga.
bikin hiks hiks bener.
kadang NORAK..!!!!

25 04 2008
jabrix

lu apaan sih pade!!! kayak apa aja….review kok film GINIAN, yang berBOBOT DONK….LAENNYA GITU….BIAR GUE GAK BUANG2 WAKTU BACA TULISAN ELU YANG NGGAK MUTU SAMESEKALI ITU….PANTES NEGARA KITA NGGAK MAJU…LHA ISINYA ORANG2 KAYAK ELU!!! NULIS YANG LAEN GITU YANG MUTU!!…
nb: buseet kuirang kerjaan luh semua!!!

12 05 2008
Silly

Hahahahaha… baru kali ini saya tertawa baca resensi film, sudha lama saya mo nyampah2 seperti ini tapi gak enak sama SBY dan JK yang menitikkan airmata untuk film ini… makanya daripada blog saya yang saya jadiin tempat sampah ngGremeng karna film ini sangat “menyalahi kodratnya” maksud saya penggambarannya sungguh sangat tidak se Imaginaitf novelnya, maka saya sempat searching for resensi ayat2 cinta waktu film ini masih rada2 booming. Tapi semua yg nulis rada2 mellow dan termehek2 ama film ini… jadi yachhhh, saya tidak pernah berna2 bisa menumpahkan “sampah” saya…

Sekarang saya malah hiks.. hiks.. juga… karna terharu.. akhirnya sampah AAC ini bisa saya titipin disini… Hahahahahahahahha… Legaaa…😀

makasih yach mas…

silly,

14 05 2008
Zulphiandie

*ikut ke sudut bareng si Akang, hiks.. hiks.. hiks..*

Sebuah Kompromi yang “Maha Dahsyat”

22 02 2010
Amnesia, Laskar Pelangi, UAN, Komunitas, Dan Saya « A Sort of Homecoming

[…] memang sangat mudah terpengaruh oleh buku. Makanya sampai sekarang saya ndak berani membaca Ayat Ayat Cinta . Mungkin untuk Laskar Pelangi, akan ada posting tersendiri. Tunggu saja, kalau saya tidak lupa […]

3 12 2010
pres

I want to express my admiration of your writing skill and ability to make reader to read the while thing to the end..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: