Kakek Romantis

17 02 2008

pentas.jpgDua kata pada judul di atas saya ‘pinjam’ dari istilahnya Donny yang ternyata juga penggemar Sapardi Djoko Damono atau SDD. Ya, kakek romantis! Tidak ada yang salah dengan julukan itu karena memang SDD belakangan sangat amat dikenal dengan puisi-puisinya yang ber ‘aroma’ kan cinta. Karya puisinya Aku Ingin misalnya bahkan lebih terkenal dari nama SDD sendiri. Buktinya puisi itu pernah disebut sebagai karya Kahlil Gibran HAHAHAHA.. !

Maka ketika pada malam Jumat dan Sabtu kemarin Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki menggelar acara pembacaan dan musikalisasi puisi SDD, kesanalah para pencinta beliau berdatangan, bergabung dengan para ‘Valentino dan Valentina’ yang tengah merayakan ‘Hari Raya’ mereka yang memang bertepatan dengan momen tersebut. Saya yang memilih masuk ke kelompok pertama datang pada hari kedua bersama istri, adik dan seorang tuan putri kecil yang juga penikmat karya SDD.

Graha Bhakti Budaya adalah tempat kami ikut memberikan penghormatan pada SDD dan karyanya yang malam itu ditampilkan dengan berbagai macam bentuk yang sangat memukau.

Mulai dari penampilan gerombolan anak-anak yang tergabung dalam Teater Tanah Air, Koor Gita Swara Nasa, Lab Musik Jakarta, Pentas dari SMU Pelita Harapan dan juga Teater Tetas, sampai ke penampilan pembacaan puisi oleh Cornelia Agatha, Ine Febrianti, Jose Rizal Manua, Ags. Arya Dipayana sampai Rizal Ramli bahkan Pak Sapardi sendiri yang malam itu ber ‘duet’ dengan Bu Niniek L Karim.

pentas2.jpgTentu saja tak ketinggalan favorit saya –yang pertama mempertemukan saya dengan karya SDD- yaitu musikalisasi puisi oleh duet Ari dan Reda yang rasanya tidak perlu lagi dikomentari. Sepanjang pementasan, misalnya, perhatian saya memang sering berpindah dari pentas ke Pak Sapardi yang duduk tidak jauh dari saya di deret bangku nomor tiga dari depan. Setiap ekspresi wajahnya berubah, pandangan saya buru-buru beralih ke panggung untuk melihat apa yang menarik perhatiannya dan saya melihat sendiri Pak Sapardi sesekali menggelengkan kepala dan menegakkan badannya menyaksikan mereka, apalagi saat menjelang akhir acara ketika keduanya tampil bersama paduan suara adik-adik Gita Swara Nasa membawakan Aku Ingin. Sayang, secara pribadi saya sebenarnya mengharapkan Ari dan Reda membawakan Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta dengan aransemen musik yang rancak seperti di Album Gadis Kecil.

Selain Ari Reda tentunya, favorit saya malam itu adalah penampilan oleh Lab Musik Jakarta dan Koor GSN serta tiga orang siswa dari SMU Pelita Harapan yang buat saya cukup memukau dengan penafsiran lagu dan gerak teatrikal dari puisi Pada Suatu Hari Nanti serta Aku Ingin. Meskipun sang pembawa acara sempat terkesan menyindir SMU Pelita Harapan (yang disebutnya sebagai Universitas) dan nama konglomerat James Riady sang pemiliknya, tapi buat saya itu tidak relevan. Pentas sastra adalah pentas sastra, dan saya senang sekali melihat banyak anak-anak muda hingga semuda usia SD yang sudah mengenal seorang SDD.

Oya, penampilan Jose Rizal Manua juga menarik buat saya. Pantaslah di brosur acara, ia ditulis sebagai salah satu pembaca puisi terbaik yang pernah ada. Malam itu ia membawakan puisi yang disebutnya sebagai sisi humoris seorang Sapardi yang sangat serius. Salah satunya adalah Tuan yang merupakan salah satu puisi terunik sekaligus puisi terpendek dari seorang Sapardi Djoko Damono: Tuan Tuhan, bukan? / Tunggu sebentar, / saya sedang keluar.

.

Memperkenalkan Si Kecil Pada Puisi

reda.jpgSelain untuk memuaskan dahaga menahun terhadap pentas-pentas semacam ini yang jarang saya temui selama di Singapura, juga ada misi lain yaitu memperkenalkan si Tuan Putri Kecil pada puisi. Sudah lama ia diajari Bundanya menulis puisi bahkan sempat menulis beberapa puisi khas anak-anak, termasuk ketika ia menunjukkan pada saya sebuah puisi tentang Princess yang merupakan tugas sekolahnya.. hehehe Tapi belum pernah ia menyaksikan pentas pembacaan puisi sebelumnya.

sdd.jpgHasilnya, ia mengaku senang sekali, meskipun sepanjang acara saya dan istri selalu dihujani berbagai pertanyaan khas anak kecil. Untung dia tidak menanyakan lebih jauh tentang komentar sang pembawa acara atau MC yang sering sekali mengeluarkan ocehan-ocehan saru.

Saya sih sudah cukup bahagia ketika menyaksikannya ikut bernyanyi di pangkuan bundanya nya ketika Ari Reda menyanyikan puisi Gadis Kecil yang sangat ia hafal setiap lirik-liriknya. Di akhir acara ia bahkan sempat berfoto dengan ‘tante yang nyanyi gadis kecil itu’ hehe.. Terimakasih Mbak Reda. Senang akhirnya bisa ketemu lagi..

Oya, meskipun kelihatan agak bingung, ia pun sempat berpose dengan seseorang yang kepada Tuan putri kecil saya menyebut dirinya Eyang. Ya memang beliau eyang. Eyang yang menulis semua puisi yang dipentaskan malam itu: Sapardi Djoko Damono.. !

.

Dan Layarpun Ditutup, Tapi…

Seusai pementasan beberapa penonton, dan rasanya pasti para ‘Valentino’ dan ‘Valentina’ yang sedang merayakan ‘Hari Raya’ mereka dan berharap suasana malam itu akan syahdu dan dipenuhi oleh nuansa penuh romansa, tidak sedikit yang akhirnya keluar sambil misah-misuh, ngomel sana sini. Semua gara-gara MC atau pembawa acara malam itu yang dianggap ‘garing’, ‘garang’ bahkan sarat lelucon-lelucon ‘saru’ yang mengurangi ‘kekhidmatan’ menyaksikan keseluruhan pentas yang memakan waktu hampir 3 jam itu. Bahkan di sela-sela pementasan, beberapa penonton yang awalnya hanya mengomel pelan, akhirnya tak tahan mengeluarkan sindiran hingga makian yang rasanya didengar oleh Mas Inu, sang wartawan senior yang malam itu menjadi pembawa acara.

Saya tidak bisa menyalahkan Mas Inu arena memang gaya beliau dari dulu –saat beberapa kali bertemu ketika meliput di lapangan- sampai sekarang memang begitu hehe. Tapi saya juga sangat tidak bisa menyalahkan sejumlah penonton yang malam itu merasa rugi kehilangan keindahan dan kekhidmatan dari pementasan tersebut, termasuk juga para orang tua yang membawa anak yang merasa terganggu karena kata-kata saru yang dilontarkannya. Istri saya sendiri setiap melihat ia muncul di sela acara, selalu bersiap dengan kedua tangannya untuk menutup kuping tuan putri kecil kami hehe..

Tapi ya sudahlah. Layar sudah ditutup. Hidup kembali berlanjut. Buat saya sih pentas malam itu sangat sempurna justru karena ada beberapa ketidaksempurnaan. Saya belajar itu secara tidak langsung dari karya-karya seorang Sapardi!

Anda sendiri bagaimana? Apa yang anda dapat dan pelajari dari karya-karya dan juga sosok Sapardi Djoko Damono, si ‘kakek romantis’?


Actions

Information

14 responses

17 02 2008
Donny Reza

Saya malah belum pernah denger satu pun Musikalisasi Puisinya si kakek, dapetinnya di mana ya om?😀

18 02 2008
aNdRa

Saya ngga ngerti puisi pak..maafken saya…😀 Tapi saya tetap kagum pada para penulis puisi. Kagum karena beliau2 bisa menuliskan rangkaian kata-kata yang ‘sulit dimaknai dengan sekali baca’.
Saya ngga romantis mungkin yah…hahaha…ngga suka cowo yang kata2nya puitis melambung tinggi kemana-mana…😦

18 02 2008
endang

wah…..gue belum pernah nih ndatengin acara seni yg gini, gak ada temennya…payah banget ya……

btw, 8 Maret, bisa kan ?

19 02 2008
iorme

saya juga gak ngerti puisi, kalau baca malah kadang bingung, tapi saya salut dengan mereka yang bisa menyusun kata-kata menjadi kalimat yang indah dan enak didengar

*baitewe ada potonya om JaF tuh*

19 02 2008
Petrus Soeratno

wADUH bersyukur sekali mas Rane bisa nonton acara itu, ketemu idola toh ?

21 02 2008
indra kh

wah pasti asyik sekali acaranya. Penasaran ingin mendengar musikalisasi “Aku Ingin.” Puisi yang sederhana dari SDD, namun sarat dengan makna

21 02 2008
gadisbintang

uhuk. ngiri ama tuan putri yang bisa deket2an ama eyang. X((
hihihi..🙂

22 02 2008
Thamrin

Sayang nggak sempet dateng…😦

22 02 2008
Bajangkirek

Ah, reseh gak ngajak2…. “Aku Ingin” karya Kahlil Gibran? Mmphh…. Sure, kalo gitu “Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta” itu ditulis sama Dani Ahmad, haha….

27 02 2008
veta

paporit saya yang aku ingin. punya musikalisasinya. bagus om! buat pdkt juga cocok🙂.

27 02 2008
Mardies

Lagi-lagi baca tulisan tentang puisi. Eh, kata orang-orang puisi itu bagus, ya? Menyenangkan? Mardies dari SD sampai kuliah kok nggak pernah bisa ngeh sama yang namanya puisi. Kata teman sih, “nggak usah dipaksain”😀

Trus apa dong hebatnya puisi?

6 03 2008
meida

duh,, nyesel bgt ga bisa dtg acar musikalisasi puisi pak sapardi yg lalu..

tpi,, thx ya Om Jaf (om apa mas ya?!!!)😛
krna tulisannya di blog ttg acara itu jdi seenggaknya dpt gambarannya,, apalagi ada ftonya. walaupun cm dikit..

saya sendir mulai suka puisi2 pak sapardi sejak 4 thun yg lalu ketika mulai kuliah di FIB UI..
kenal puisi2nya juga karena CD “gadis kecil” nya D
walau pak sapardi guru besar di sana,,tpi selama 4 thun cma pernah ktemu dia 2 kali,,hehehe

6 03 2008
soeltra

weitss!!! sy dtg hr pertama pas tgl 14, pantes nggak ketemu pak😀
acara yg bagusss..meski tak mengikuti sampai selesai
SDD emang mantap dgn kesederhanaannya dlm bermain kata

25 03 2008
intan

puisi memiliki arti tersendiri bagi para pencinta puisi,,
aku …………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: