Ubi Rebus Rasa Ganyang’e

22 10 2007

ubi.jpgPosting saya kali ini dipicu oleh ubi rebus. Ya, ubi rebus yang di tukang bajigur yang biasa mangkal di pasar dekat rumah harganya cuma seribu perak sudah termasuk segelas bajigur hangat, sementara di sini harganya berlipat-lipat. Konon ini ubi rebus spesial yang di impor dari Taiwan dan dimasak dengan oven khusus setelah sebelumnya dicuci dengan mesin khusus juga untuk menjaga kualitas dan rasanya. Tapi tetap saja bentuk dan rasanya mirip ubi rebus biasa. Sayapun ngomel panjang lebar.

ovenkeramik.jpg”Apa coba istimewanya. Masih enakan juga ubi Cilembu” omel saya sambil menatap oven khusus setinggi pinggang orang dewasa di hadapan saya. Menurut si abang tukang ubi, oven yang di impor dari Taiwan itu dibuat dengan teknologi inframerah dari bahan keramik khusus, badannya dililiti semacam tali tebal untuk menjaga tingkat kepanasannya. Dengan cara ini, kandungan serat dan gizinya lebih terjamin. Bahkan sampai ke kulit-kulitnya bisa dimakan. Menurut websitenya pula, oven khusus ini meniru cara memasak ubi para petani di Taiwan sehabis panenan, yaitu dengan menumpuknya di dalam tanah yang di dasarnya sudah diletakkan arang yang membara. “Ah, kalau itu saja sih, saudara saya di Papua sudah lebih dulu menemukan teknologinya. Namanya “masak batu”, karena menggunakan batu panas ketimbang arang.” Saya masih ngomel..

Sambil makan sayapun teringat pada tukang bajigur langganan saya dulu di pasar Pondok Gede yang becek. Teringat bagaimana setiap pulang sekolah saya sering berpapasan dengannya tengah berpeluh-peluh mendorong gerobak tuanya. Sementara tukang ubi yang saya temui di salah satu pusat makanan terkenal di Singapura ini memiliki kedai yang bersih dengan ubi dan oven yang diimpor khusus. Alat dan merek yang dipatenkan. Stafnya yang berseragam rapi sesekali membagi-bagi brosur mulus yang menjelaskan tentang teknologi dan manfaat kesehatan ubi. Ya, ubi! Padahal rasanya ya seperti ubi biasa! Tidak lebih, tidak kurang! Masih enak ubi Cilembu !

Saya marah! Betul-betul marah pada bisnis si abang tukang ubi. Saya juga pernah marah waktu mendengar tentang kesuksesan jaringan waralaba gorengan terkenal di Singapura yang kini sudah masuk beberapa mall di Jakarta. Betul sekali! Gorengan! Bermacam-macam gorengan mereka jual yang mengingatkan saya pada tukang gorengan pikul yang biasa lewat di depan rumah saya setiap sore dulu sambil memukul-mukul wajan untuk memanggil pembeli.

Marah saya belum selesai. Saya pernah kesal pada sebuah bisnis Roti Bakar yang franchisenya sudah mendunia termasuk di sejumlah mall di Indonesia. Enak saja.. Roti bakar dan sarikaya itu kan asli Indonesia? Lagipula roti bakar pinggir jalan di Jakarta juga banyak yang lebih enak. Oya, saya juga pernah marah pada sebuah perusahaan di sini yang bisnisnya jualan sate. Bukan sekedar sate, tapi sate instant yang dikemas khusus dengan teknologi canggih dan sudah dijual ke seantero dunia. Padahal bisnis itu konon berasal dari jualan pikulan seorang asal Jawa yang merantau ke Singapura dahulu kala untuk berjualan sate keliling. Arrhgghh!!!

Sumpah, sebagai orang Indonesia saya marah. Saya tersinggung! Saya pernah begitu mangkel setengah mati waktu tahu betapa banyak orang-orang pintar di universitas kita yang di bajak berbagai universitas terkenal di luar negeri dengan iming-iming beasiswa dan berbagai kemudahan penelitian. Saya marah waktu negara bekas penjajah negara saya katanya mau mempatenkan Tempe! Saya marah waktu batik dipatenkan negara tetangga. Dan pastinya saya juga marah waktu tahu negara tetangga yang sama itu seenaknya menggunakan salah satu lagu daerah asal Maluku (Maluku itu Indonesia juga lho) untuk kampanye pariwisata mereka. Berani-beraninya mereka. Amarah saya memuncak.

Ini sudah masalah harga diri saya sebagai rakyat dari sebuah bangsa yang besar! Beratus-ratus makian saya posting di berbagai mailing list, blog dan forum. “Gua ganyang lagi baru rasa lu! Dasar maling nggak tahu malu!!” tulis saya dengan muka merah menahan emosi.

Jangan..! Jangan larang saya untuk marah. Soalnya baru sampai di situ kemampuan saya. Dari dulu saya cuma bisa marah, marah dan marah karena disalip melulu oleh orang lain.

Oya, saya tengah menulis tentang diri saya sendiri lho! Kalau ada diantara anda yang tersinggung, ya gimana dong? Mungkin kita sebangsa. Mungkin anda memang seperti saya yang bisanya cuma duduk diam nggak bikin apa-apa, sampai ada yang nyolong barang kita baru teriak-teriak pengen ganyang sana sini, kalau perlu ngundang wartawan seluruh Indonesia.. hahaha… dats right, brother.. !!

:) 

___________

 


Actions

Information

17 responses

22 10 2007
hedwigus

tenang bang.. tenang….
apakah sudah ada yang jualan surabi bandung di singapore ?

22 10 2007
Anang

sabar sabar……

22 10 2007
rendy

hahahaha
jadi pengen ubi cilembu
*perut kruyukan*

22 10 2007
Hedi

Gimana kalo abang jadi sponsor saya buat hijrah ke jiran, nanti saya di sana jualan kerak telor, wedang ronde, toge goreng dan jajanan keliling khas kita deh. Apa jangan2 jajanan kita udah ada di sana semua?….biyung…biyung…

23 10 2007
Andri Setiawan

masih kurang, ada satu lagi yang dicolong dari bangsa kita, yakni Angklung yg juga diaku sebagai harta pusaka negri Jiran😉

masalah sate sante saja Om, orang SG tahunya sate manis aja, mereka belum tahu rasanya sate asli madura …🙂 tapi entah, mungkin suatu ketika itu juga bakal diaku di sini (SG) juga😉

23 10 2007
kangguru

Dimasak dengan cara apapun ubi ya tetep ubi bang di campur bajigur pasti lebih nikmat hehehhehe

24 10 2007
Miftahx

hhmmm ubi cilembu……………. yummi……………….

24 10 2007
wahyu

sabar bang..
eh, ubi cilembu yangmana sih??🙂

24 10 2007
jeng endang

Gue juga marah kalo ada temen yg bawa ceweknya dan teman lain nongkrong di warung roti bakar depan rumah gue, tapi gak manggil gue yg di dlm rumah…MAARRRAAAHHH….!!

Cilembu udah dijual di hypermart, Ndut …

25 10 2007
Dian

ya gak papalah marah…berarti nasionalismenya masih ada lol

26 10 2007
bocah

dapet info dari temen yang tinggal di jepang…
bahwa bahkan orang jepang sendiri mengakui ubi cilembu lebih enak…sampe-sampe ada orang jepang (yang pernah tinggal di indonesia) akhirnya jualan ubi cilembu di jepang sono yang dipromosikan olehnya sebagai ubi bebas bahan kimia……

27 10 2007
ashar erwe

Masalahnya sih Bang, rata-rata di Indonesia tuh anget-anget tai ayam sukanya. Klo ada apa-apa ribut-ribut, tapi abis itu gak ada tindak lanjutnya. KEGOBLOKAN NASIONAL yang semacam ini yang banyak dimanfaatkan oleh negara-negara lain, termasuk tetangga kita yang ngemis guru ke kita waktu tahun 60-70an itu. Mereka pikir, ah Indonesia ajah, bentaran juga pada diem. Hal seperti ini yang harus kita benahi, kalau tidak ya selamanya aja kita didzalimi terus.

Tapi klo kita renungkan, orang yang nyuri budaya orang buat identitasnya sendiri itu apa gak sebenarnya dia gak punya budaya ya Bang? Sampe-sampe harus nyuri budaya negara lain. Gak punya malu apa memang gak punya kemaluan ? (eh bukan porno lho ini)

Klo aku jadi presiden Indonesia, aku akan merubah batas wilayah indonesia jadi seperti kekuasaan Kerajaan Majapahit dahulu, yang meliputi sumatra, Jawa, semenanjung malaya , seluruh pulau kalimantan termasuk kalimantan utara, sampai dengan laut sulu dan ujung paling timur dari tanah papua.
Btw tanah kalimantan kita juga dikit demi dikit dikerokotin lhoh sama si kucing garong.

Hanya satu kata LAWAN!!!!!!!!

30 10 2007
malingsia

hidup malaysia
http://www.malingasia.com

2 11 2007
aLe

semua ada balasnya kok *halah*

10 11 2007
gadisbintang

ohh, pak JaF..
senangnya mengetahui ada yang memiliki kemarahan serupa.. ^.^

11 11 2007
macnoto

jadi mau dikirimin ubi cilembu ga? hahahaha…😀 emang paling top itu makanan rakyat, gimana juga perut ini bukan perut asing, saya juga suka iseng beli jajanan rakyat disupermarket ato sengaja khusus nongkrong di warung kopi depan untuk sekedar ngopi, indomie telor… hehehe sayang di depan ga ada ubi cilembu! kudu ke setiabudi dulu…😀 *coba ada kepala daerah peduli membangun tempat kongkow rakyat yang bersih dan murah, pasti kita ga kena scam ekonomi biaya tinggi… masa apa-apa kudu setarbak😀 paling enak ya ubi + bajigur, ya ga kang😀

14 11 2007
ipop

Capek deeeh story si maling tetangga kite…Dasar gak kreatif ya.
Wkt gue kuliah di Amrik, gue pernah ke resto Malaysia eehhh resto-nya ada gambar wayang kulit, trus gue ke resto jiran yg lain….eeeeh ada angklungnya yg kata waitress/pelayannya bilang itu di import dr Surabaya.
Dasar malingggggggg
Hmmm musim hujan gini pengen deh bajigur & ubi cilembu-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: