Oh Tidak !

14 03 2007

ohtidak.jpgPeristiwa itu datang susul menyusul pada satu hari yang sama seolah membawa pesan dengan tema khusus buat saya. Semua diawali di sebuah Minggu pagi yang indah di kota Jogjakarta. Ketika tengah sarapan di sebuah hotel butik yang nyaman dan asri, saya dibuat terperangah oleh artikel Asal Usul di harian Kompas yang ditulis oleh Mas Ariel Heryanto bertajuk RUU Bahasa.

Artikel tersebut mengulas soal makin banyaknya orang Indonesia yang berpikir dalam bahasa Inggris dan apesnya, kebanyakan yang muncul serba tanggung, bukan bahasa Inggris bukan pula bahasa Indonesia. Walhasil, itupun nampak dalam percakapan dan juga tulisan-tulisan kita sehari-hari. Berbagai contoh dikemukakan Mas Ariel, mulai dari headline surat kabar dimana miscommunication ditulis “Miss Communicationreinventing ditulis “me-reinventing” sampai beberapa kutipan percakapan yang dikutipnya dari sebuah novel populer. Semuanya menunjukkan betapa cara berpikir kita sudah terpengaruh logika bahasa Inggris namun serba tanggung dan itu dianggap normal. Menarik misalnya bagaimana dalam dialog sebuah novel yang dikutip artikel itu, sang penulis memilih menggunakan kalimat “Oh tidak” yang kemungkinan berasal dari “Oh no” dalam bahasa Inggris padahal kalimat “Oh tidak” tidak umum digunakan di bahasa Indonesia. Padananan yang tepat adalah “waduh” atau “gawat” atau “celaka“.

Saya tersenyum nyinyir membaca artikel itu. Senyum yang hanya menyelinap sebentar karena dalam hati saya buru-buru mengucap “Oh tidak!” eh.. maksud saya “Oh no..” eh.. “Ya ampun” atau “Waduh!”. Ini gara-gara pada hari yang sama seorang teman dari Jakarta mengirim sms yang mengabarkan bahwa novel “The Messenger” yang saya tulis bersama tiga teman lainnya sudah beredar. Dalam novel itu kami banyak menggunakan kata berbahasa Inggris sampai-sampai akhirnya menjelang deadline.. ehm maksud saya tenggat waktu naik cetak kami berempat memutuskan untuk meng-Indonesiakan sebagian besar kalimat berbahasa Inggris di dalamnya dan ternyata itu tidak semudah membuka kamus dan mencari padanan katanya. Ada kalimat-kalimat tertentu yang memang kami rasakan lebih tepat menggunakan bahasa Inggris bahkan tidak sedikit bagian saya yang ternyata meski sudah ditulis dalam bahasa Indonesia tapi lebih berasal dari logika bahasa Inggris. Bahkan judulnya pun kami putuskan menggunakan bahasa Inggris karena ia dipinjam dari istilah “Yahoo Messenger“.

travtale.jpgBicara novel, di saat teman-teman sibuk ‘menjarah’ Malioboro, saya justru menyempatkan diri ke Gramedia untuk mencari novel kami yang katanya sudah beredar itu. Ternyata ia belum masuk ke Jogjakarta. Namun saya jadi tertarik pada novel lain berjudul “The Travellers’ Tale: Belok Kanan Barcelona” yang juga ditulis oleh empat orang (Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, & Ninit Yunita). Mulai dari judul, isi bahkan komentar dari orang terkenal yang sudah membacanya, semua menggunakan bahasa campur baur dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang sudah berlogika Inggris. Makin menguatlah dugaan bahwa kita ini sudah sangat terpengaruh oleh bahasa pergaulan internasional itu.

Pertanyaannya kemudian, salahkah jika orang kita makin banyak terpengaruh oleh bahasa Inggris, sampai cara berpikir dalam berbahasa pun sudah ikut terpengaruh? Dalam artikelnya, Mas Ariel mengkritisi soal rencana dikeluarkannya RUU Bahasa meskipun ia mengaku ikut prihatin oleh cara pemakaian istilah-istilah Inggris secara kacau balau yang makin banyak berkembang saat ini.

Dan malam harinya, masih di hari yang sama, sepulang dari Maliboro, ujug-ujug kami (saya dan kawan-kawan radio yang warga Singapura) terlibat dalam diskusi seru soal bahasa. Semua berawal dari keluhan kawan baik saya, orang Melayu yang bekerja di siaran Bahasa Melayu, mengenai prestasi belajar anaknya yang masih duduk di bangku setingkat SD. Ia baru dapat kabar bahwa anaknya memperoleh nilai sangat baik di bidang pelajaran lain, termasuk bahasa Inggris, namun gagal di pelajaran bahasa Melayu. Ini sebuah fakta kecil yang merupakan gambaran besar dari apa yang terjadi di Singapura. Keinginan untuk menjadikan warganya pandai bercakap dalam bahasa internasional, telah membuat bahasa lokal ngos-ngosan.

Jangankan anak-anak. Pengalaman saya mewawancarai banyak orang Melayu disini menunjukkan bagaimana mereka sudah kerepotan menggunakan bahasa ibu mereka sendiri sampai-sampai ada seorang nara sumber yang harus menyampaikan idenya dalam bahasa Inggris baru kemudian diterjemahkan ke bahasa Melayu. Kalaupun ada yang agak lancar berbahasa Melayu, tidak sedikit yang logika berbahasa mereka sudah terasuki oleh logika bercakap dalam bahasa Inggris. Seorang kawan orang Melayu sampai mengatakan “Bahkan mimpi pun, kita orang Melayu mungkin sudah menggunakan bahasa Inggris“. Oh tidak.. eh gawat!

Di satu sisi saya kagum dengan Indonesia sekarang. Bahasa Inggris anak-anak sekolahnya saja hebat-hebat hingga bahkan mengalahkan sang guru. Mereka sudah terbiasa menyelipkan bahasa-bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, sampai memaki pun mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris, seperti crap! atau sh*t!. Nah, ketika anak-anak kita, bahkan kita sendiri sekalipun sudah terbiasa berpikir dan berbahasa dalam logika bahasa Inggris, haruskah nasib kita berujung menjadi seperti teman-teman warga Melayu di Singapura?

Sebuah pertanyaan besar buat saya, buat anda dan buat kita semua di Indonesia…

NB:
Bagi anda yang malas membaca artikel yang panjang lebar di atas, pesan yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini cuma ada dua:

1. Mungkin sudah saatnya kita mulai membiasakan berbahasa Indonesia dengan benar (ini juga peringatan buat saya). Kalaupun mau pakai bahasa Inggris, gunakanlah dalam konteks dan aturan benar. Jangan dicampur aduk apalagi di Indonesiakan seenaknya.

2. Novel The Messenger sudah beredar. Beli ya. Cuma Rp.20 ribu kok.. hehehe… *promosi-promosi..*


Actions

Information

22 responses

14 03 2007
Anang

bahasa Indonesia sekarang mudah tercemar ya sama bahasa gaul2 an gitu… coba tengok film jaman dulu tutur katanya dalam bahasa resmi.. wow

14 03 2007
manusiasuper

coba baca novel2 sok keren yang – katanya – karya anak2 muda itu pak, mau muntah liat bahasanya…!

14 03 2007
Hany

Hiyo, Mas. Mangkane bocah-bocah tak seneni nek campur2 basane. Ngomong Jowo yo ngomong Jowo, basa Indonesia yo basa Indonesia, ora oleh dicampur karo basa enggris.

Helhah, kok saya malah memberi tanggapan dalam bahasa Jawa! Bagaimana ini.

14 03 2007
koecing

hihihi… saya termasuk yang sll dapet jelek dalam pelajaran b.indonesia..😛 tapi bhs daerah juga g’bisa. bisanya cuma bhs indonesia, tapi setengah2. ‘n mang bener.. saya klo ngomong juga sering pake logika bhs inggris gtu. padahal waktu pertama kali bljr nahasa inggris, saya malah pake logika b.ind.. hhh.. tepe deh…

btw2 pak, novel the messangger g’dibagikan gratis untuk para komentator postingan kali ini? kan dikit pak… baru 4 komentator nih… 8)

14 03 2007
JaF

#Anang: Iya juga sih, tapi nggak semua. MEskipun begitu tetap aja menarik ya..

#manusiasuper: Hush.. jangan muntah disini🙂 Kalau baca novel saya jangan muntah ya. Ndak keren kok.. SUmpah.. hahaha

#Hany: Ntar ya, tanya Endang dulu artinya apa daripada salah lagi heheheheheh..

#koecing: Dibagiin hehehe… yang nulis aja belum dapet..:)

14 03 2007
arul

berbahasa indonesia tidak musti menggunakan bahasa baku kan? bisa nge-english bisa ngejawa… bisa semuanya…

tergantung market…..
jawabnya pebisnis…

14 03 2007
Hedi

Entah idealis atau enggak, saya mengindar pake bahasa campur (inggris-indonesia) kalo lagi ngomong. Bukan apa-apa, saya ga bisa bahasa inggris, takutnya entar ada yang ngajakin ngomong english beneran malah berabe😀

14 03 2007
sa

hehe.. saya malah lebih hancur!
inglis, indon, londo.. campur aduk jd satu, bisa keluar jd satu kalimat.
dan untungnya, si abang ngerti banget apa yg diucapkan.. xixixi..
repotnya klo lg ngomong sama anak2.. bengonglah mereka dg sukses.
apalagi di kantor. *glek*
itu negatipnya.

positipnya.. otak ini jd ‘terlatih’ cieee..
ga perlu mikir. lancar keluar. 3 bahasa, dalam satu kalimat. ndak perlu pk backspace of dilet.😀
ini termasuk ciri2 anak muda ga?? *pk kcmt item*

15 03 2007
endang

gini aja….berpengetahuanlah ttg bhs asing, tapi utamakan bhs ibu, dan kawinlah sama org yg bahkan lidahnya pun susah ngomong bhs asing, kayak si uban..hahahahha…..lha dia ngomong indonesia aja lidahnya aneh gitu…(heh, itu laki gue ndiri ya ???)…oke deh tak tuku novelmu ( emoh ah nek kon dadi penerjemahmu…hahahha)

15 03 2007
ambar

susah konsisten nulis di blog. Mencoba dalam bahasa inggris sepenuhnya ketika ingin inggris, tapi mencoba berbahasa indonesia jika menginginkan pembaca indonesia. Susah..tak semudah kata-kata

16 03 2007
helgeduelbek

Yang penting komunikatif, bisa nyampaikan apa yang hendak disampaikan dan bisa dipahami. bukan begitu? Bagi saya pakai bahasa orang utan asal yang lain paham gak popo toh?🙂 Gak percaya yanta sama Gus Dur…

16 03 2007
tukang nggedeblues

walah bos, datang ke jogja kok ya nggak ngabar2i. padahal jogja cuma sepelemparan batu dari solo. mbok ya kirim imel, kasih kabar, biar kita bisa kopdar. meski jarang ngeblog sekarang, tapi kalo imel kan saya masih buka tiap hari. padahal di jogja kan banyak blogger juga, lho …

kapan ke jogja lagi? kasih kabar lho, bos

19 03 2007
Riyogarta

Kemarin sempet lihat di Gramedia, sayang udah mau tutup, lampu juga udah mulai dimati-matikan sementara di kasir terlihat antrian masih panjang .. oh tidak eh waduh. Jadi, belinya nanti kalau ke Gramedia lagi ya JaF🙂

21 03 2007
zuki

Mungkin ini masalahnya bukan sekedar soal bahasa pak, tapi soal kebudayaan yang sedemikian merasuki kita …

Kalau saya malah lagi belajar bikin puisi dalam bahasa Inggris ..😛

22 03 2007
alaya

makasih udah beli travelers’ tale ya🙂 *eh dibeli atau tertarik aja?*

22 03 2007
venus

saya udah baca ‘the messenger’. bagus, dan gak begitu kentara kalo itu ditulis bergantian oleh empat orang yang berbeda. smooth..eh maksud saya, anu…itu lho…halus, kekekek…

the traveler’s..belom sempet baca. bagus ya mas? cari aaahhh…

22 03 2007
alaya

udah beli & baca juga ‘the messenger’😉

4 04 2007
abiyar

kalo bahasa jawa gak ada matinye pak. biar di inggris sono, tetep aja masih bisa idup.

5 04 2007
neeya

bahasa itu memang yang penting bisa digunakan untuk komunikasi. Kalau bahasanya terlalu baku dan malah tidak bisa menjelaskan apa yang dimaksudkan ya podho wae sami mawon😀

29 12 2007
Benny ( Cah NESO PELOSOK )

memang bener lo.. secara tidak sadar kita sudah kena jajah yang ke 3 kalinya. Anak muda sekarang cara ngomongnya sudah sok ke barat – baratan. jarene yen ora ngono ora GAUL mas…..

SELAMAT DAN SUKSES YO MAS……….

30 01 2008
-evie-

Duh, ribet juga ya tyt masalah perbahasaan..
dan susah juga nyari figur untuk dijadikan contoh dalam menggunakan
bahasan ind yg baik & benar, secara politisi aja klo pidato resmi-pun
bahasa ind-nya amburadul N campur aduk juga…
dan kyk-nya koq nggak gaul juga klo pk bahasa ind yg kaku…

bukankah begitu…???

15 09 2010
faizal

ya toh,,,kok gitu tapi sy ya paling minat bahasa inggris tsapi kok susah blajar d kamus toh….!!!! gk paham,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: