Plagiarisme: Sebuah Pesan Buat Saya dan (mungkin) Buat Para Blogger Lain

3 03 2007

Akhirnya Saya tidak tahan untuk tidak komentar soal kasus Plagiarisme yang melibatkan Rara yang dipicu oleh keluhan seorang penulis yang komplen di forum blogfam dan juga di blognya. Ya sebetulnya masalah ini sudah case closed karena memang baik yang di komplen (Rara) sudah minta maaf dan yang komplen (Novi) sudah menerima permintaan maaf itu, jadi cased closed disana. Tapiiiii…. case belum closed untuk kasus plagiarisme..

Jujur saja yang bikin saya agak ‘panas’ karena dalam posting di blognya Novi juga disinggung soal banner “Jangan Asal Copy Paste/ JACP” yang saya pelopori dimana Rara juga termasuk pemasangnya. Bahkan itu dijadikan judul posting di blognya Novi.

So, dengan tetap respek pada kedua pihak, ijinkan saya berpendapat dan mengajak teman-teman semua untuk ikut memberi pendapat. Kasus Rara ini pelajaran teramat penting buat kita semua apalagi melibatkan teman dekat kita juga. So, ini pendapat saya:

Pertama dan utama: Plagiarisme, apapun bentuknya, ada atau tidak hukumnya, adalah hal yang sangat amat tercela!

Dunia blog adalah tempat yang paling rentan plagiarisme. Yang paling umum terjadi adalah plagiarisme konten (contohnya disini) atau konten blog yang diambil dari media lain seperti buku, majalah atau koran (contoh kasus Rara dan Novi) atau copy paste code template/ disain (seperti kasus ini) atau bahkan tidak sedikit pula posting blog kita yang justru di plagiat ke media lain terutama cetak.

Saya termasuk ‘korban’ ketika dua posting saya pernah muncul di media cetak terkenal dan di klaim sebagai tulisan jurnalis yang bersangkutan. Konten posting saya juga sering di plagiat dan baru tahu belakangan dari beberapa kawan. Namun justru itu yang mendorong saya untuk meluncurkan kampanye moral Jangan Asal Copy Paste. Kenapa? Karena saya pikir kita blogger belum cukup dilindungi oleh aturan hukum hak cipta (tolong koreksi kalau saya salah) sehingga mungkin dengan sanksi moral bisa mengatasi persoalan ini sekaligus mengingatkan kita semua.

Masalahnya, dari sekian kasus plagiarisme yang saya temui saya punya kecurigaan tersendiri:

1. Si penjiplak memang dengan sengaja melakukannya.
Alasan pertama sudah jelas. Si pelaku benar2 mahluk tidak bermoral. Mungkin dari sekolah sudah kebiasaan nyontek hehe..

2. Si penjiplak tidak tahu atau tidak sadar bahwa mereka telah melakukan tindakan tercela.
Alasan kedua inilah yang justru mengkhawatirkan saya. Dalam kasus Rara sendiri dia mengakui membuat posting itu karena kalimat yang dia jiplak itu tanpa disadarinya pernah dibaca di sebuah buku (yang ternyata bagian dari novel Novi), walaupun tidak sedikit yang ‘kagum’ dengan daya ingat Rara karena postingnya persis benar (baca: nggak percaya penjelasan Rara).

Okelah saya tidak mau ikut menambahi mereka yang meragukan alasan Rara itu. Toh case sudah closed.

Tapi dalam banyak kasus lain, banyak yang tidak sadar mereka melakukan plagiat atau penjiplakan. Bagi saya salah satu penyebabnya adalah berkat gencarnya anggapan bahwa internet adalah alam bebas sehingga karya orang juga dianggap bebas untuk dijiplak.

Malah ada yang pernah komentar begini di bagian komentar kampanye Jangan Asal Copy Paste saya:

hak cipta hanya milik Allah SWT semata tak ada hak cipta dalam manusia

..atau begini:

manusia adalah makhluk yang terbatas serba kekurangan dan butuh orang lain ada orang yang pinter matematika, masak, dll manusia harus saling berbagi tuk saling melengkapi tak ada hak cipta dalam manusia

..atau komentar yang ini:

Perlu juga dicermati, sesuai dg bahasa inggrisnya yg ada cuma ‘copyright’ yang artinya ‘hak copy’ mungkin buat banyak orang artinya sama dengan HAK CIPTA!!! Tapi menurut gw hak copy bukan berarti ‘manusia’ yang menciptakan, namun jerih payah mereka berpikir tetap perlu dihormati.

Ketika salah satu posting saya di blog lama di copy paste persis seperti apa adanya, saya juga menemui kesan sama. Bahwa si penjiplak tidak sadar bahwa dia menjiplak.

Orang-orang seperti inilah yang benar-benar amat sangat menakutkan buat saya karena dia merugikan tapi tidak disadarinya…

Komentar Mas Ciptawan seperti di bawah ini juga menunjukkan bahwa trend copy paste itu juga dianggap hal biasa oleh banyak kalangan blogger sendiri:

Tapi kebanyakan blog hangat dan tulisan hangat di halaman depan wordpress kebanyakan cuman copy-paste dari majalah ato buku-buku doang, gimana yah cara mereka tuh biar nggak kaya’ gitu lagi?

Lebih takut lagi ketika ada juga yang komentar begini:

Blog saya sih nggak penting-penting amat. Cuma iseng doang. Jadi kalau mau di copy paste, mau dijiplak, silahkan aja..

Mau penting atau nggak penting, tetap saja itu karya cipta kan? Gimana ya? Lagi-lagi saya cuma bisa mengingatkan bahwa walau ‘hak cipta’ itu milik Gusti Allah hehe, tapi pasti Gusti Allah rasanya tahu benar bahwa mahluk ciptaannya ini dibekali sesuatu yang lebih hebat dari aturan hukum hak cipta manapun, yakni ETIKA!

Karena itu kawan-kawan, dengan penuh rasa ketakutan, saya cuma mau mengingatkan agar ayo.. kita sama-sama belajar menghargai karya orang lain dengan mulai membiasakan meminta izin dari si empunya karya jika kita ingin memanfaatkannya atau paling tidak dengan menyebutkan sumbernya lah.. Oya, sambil menyelam, kita juga bisa minum air, kan? Sambil minta ijin, kita juga bisa sekaligus bersilaturahmi, tambah teman. Iya, kan??

Oya, kenapa tadi saya bilang bahwa saya takut? Karena saya takut terpeleset seperti Rara kawan baik saya yang sangat saya hormati karena produktifitasnya dan aktifitasnya yang luar biasa di dunia blog.

Kenapa saya takut? Karena seperti Rara kawanku itu, saya juga manusia.

Tapi manusia kan berhak berusaha, dan mulai membiasakan diri untuk menghargai karya orang lain dari sekarang mungkin akan membuat kita dan orang terdekat kita lama-lama paham bahwa memang kita harus menghargai karya orang apapun bentuknya. Terlebih lagi, banyak blogger yang harus sadar bahwa apapun yang mereka posting itu juga merupakan karya cipta. Bukankah mereka sudah susah payah keluar uang dan waktu untuk posting di blog mereka?

Dunia internet adalah dunia yang bebas, kawan. Tapi saya tidak pernah percaya bahwa ada yang namanya kebebasan mutlak!!

Buat kawanku Rara, stress tentu wajar saja, tapi jangan menjadikanmu terpuruk walau menurutnya ‘teror’ itu terus berdatangan gara-gara ulahnya. Tapi coba lihat masalah ini dari sisi lain: “Tidak semua orang diberkati dengan pelajaran berharga seperti yang kau alami ini. Dijamin ‘pukulan’ telak ini akan meninggalkan bekas mendalam pada dirimu dan membuat kau lebih ingat sampai kapanpun. Jangan berhenti berkarya karena bekal ‘luka pukulan ini’ justru akan menjadi modal terbesarmu.

Buat kawanku Novi dan para korban plagiarisme lainnya, kalau dipikir-pikir, ini juga sebenarnya pukulan telak lho buat kalian dan sangat pantas dijadikan pelajaran berharga. Kenapa? Karena itu juga bisa terjadi pada kalian, pada kita semua.

Seseorang yang ingin rasanya saya kenali secara pribadi (walau sudah kenal sosoknya) pernah dengan sinisnya berkata begini:

“Plagiarism dimana-mana. Yang ketahuan itu yang gak tahu teknisnya. Lha wong XXXXXXXX (maaf kata barusan saya sensor. Harusnya ini nama seorang terkenal dan terhormat di Indonesia) saja melakukan plagiarism di koran besar dan sekarang ia adalah seorang XXXXXX. (maaf ini juga saya sensor, karena yang tertulis di balik X itu adalah sebuah posisi terhormat di negeri kita)”

..dan saya percaya kata-katanya karena saya juga tahu kasus itu.

Nah sekarang bagaimana kalau ketimbang menyebar kebencian dengan terus mencerca pelaku plagiarisme (seperti yang cenderung berkembang di bagian komentar posting di blog Novi), kenapa tidak kita sama-sama mengambil pelajaran berharga dari setiap kasus plagiarisme yang terjadi. Bukan apa-apa, saya cuma khawatir bahwa saking sibuknya kita mencerca orang lain sampai melebar kesana kemari, kita justru bisa lupa bahwa suatu saat nasib mungkin saja tidak berpihak pada kita. Ketika saat itu benar-benar tiba (amit-amit jabang bayi), kita akan merasa sakit berkali-kali lipat karena sebetulnya kita pernah mendapat pelajaran berharga tapi tidak kita ingat karena mungkin kita lebih sibuk memikirkan kebodohan dan kecerobohan orang lain ketimbang memikirkan diri kita sendiri..

Contohnya bahkan secara ironis sekali juga muncul di blog Novi sendiri.😦 Di blognya yang menggunakan layanan multiply itu juga di posting beberapa lagu dan musik MP3 orang lain yang bisa didownload siapa saja. Bukankah itu juga pelanggaran hak cipta yang bahkan konon sudah jelas aturan mainnya dari segi hukum?

Terkadang, segala aturan hak cipta ini dianggap merepotkan. Bahkan harus diakui tidak sedikit diantara kita yang jadi pandai dengan berbagai kemampuan komputer karena belajar dari software bajakan yang juga melanggar hak cipta. Tapi coba anggaplah segala aturan hak cipta itu sebagai pecut bagi kita untuk mulai mencoba berkarya sendiri.

Semoga kita dijauhkan kita semua dari perbuatan itu!!

~~~~~~~

NB: Tulisan ini aslinya saya posting di blog Novi yang membahas plagiarisme terhadap dirinya yang dilakukan Rara. Semoga itu dianggap sebagai sekedar bentuk urun rembuk tanpa ada maksud lain. Copynya dengan sedikit tambahan saya pasang di Forum Blogfam dan juga di blog ini sebagai bentuk peringatan kepada diri saya sendiri. (Jangan khawatir, saya sudah izin pada diri saya sendiri untuk melakukan copy paste hehehehehe)

Apa pendapat kawan-kawan yang lain? Ini masalah kita semua lho…

~~~~~~

NB2: Maaf yang ini Out Of Topic dan hanya catatan kecil untuk saya pribadi. Tulisan ini juga saya persembahkan untuk “Bang AA” seorang mantan Dosen yang amat saya kagumi. Di balik kekecewaan mendalam yang saya rasakan akibat ‘perbuatannya’, beliau secara tak langsung telah memberikan saya pelajaran berharga untuk tidak pernah takut menyampaikan kritik walaupun ada kemungkinan suatu waktu kita sendiri melanggar hal yang kita kritikkan itu karena pemikiran manusia memang cenderung berkembang. Bukankah kritik itu sebenarnya juga adalah peringatan untuk kita sendiri? Iya nggak, Bang?🙂

~~~~~~


Actions

Information

23 responses

4 03 2007
Luthfi

tiba2 jadi puyeng

4 03 2007
JaF

#luthfi: pegangan bos…🙂

4 03 2007
Riyogarta

Yang dengan sengaja melakukan di tegur ajah, bilamana perlu dihajar hehehe. Yang gak sengaja di maapin ajah deh, namanya juga gak sengaja. Hanya kebanyakan bilang alasannya gak sengaja yah … mmm … **garuk-garuk kepala**

4 03 2007
wadehel

Budaya maling ini emang udah parah, bahas terus pak biar orang pada nyadar!!!
*jangan2 saya juga salah satu maling*

4 03 2007
masjito

duh panjang amat🙂, jadi klo copas nyertain sumber aslinya kagak apa apa yah😀

4 03 2007
neeya

memang harus saling mengingatkan. Kan yang namanya manusia itu suka ngelupa🙂

4 03 2007
Lita

Buat saya, yang paling miris itu ya yang memberi komentar sejenis terserah-saja-toh-tubuh-dan-jiwa-ini-bukan-milik-kita-lagipula-bukankah-menyebarkan-kebaikan-dan-tidak-menguasainya-sendiri-itu-bagus-?
Ketika kesadaran untuk melindungi hak sendiri saja sudah minim, sedikit kemungkinan ia akan membantu orang lain untuk memperjuangkan haknya yang terenggut.
Hiks…

Tapi om JaF benar, kita harus jeli menjadikan ini sebagai pelajaran. Bahkan persis di bagian komentar dari posting saya yang membahas plagiarisme, saya ditegur karena ‘tidak transparan’ dalam mengungkap inspirasi bahasan saya. Fyuh…

4 03 2007
Trinie

Untuk mp3, aku sih setujunya kalo lagu2nya (kaset/cd) udah ga beredar lagi tuh. Pasti ada kan yg suka sama satu kaset, diputar berulang kali sampe rusak atau disimpen terus lupa. Suatu waktu (let’s say 10 years) begitu mau dengerin lagi, kasetnya udah rusak. Mau cari ke mana lagi tu kaset?

4 03 2007
Rangga

kenapa mesti ada hak cipta?? jadi (kalo dari segi ekonomi) begini lohh.. bukannya manusia itu pelit ga mau berbagi, dan benar hak cita itu milik Tuhan. Tapi “hak cipta”/copyright itu di setujui paling engga atas 2 alasan berikut:

1) menghargai manusia yang sudah bekerja keras menciptakan karya yang berguna bagi sesama.
“hak cipta” itu bukan cuma sekedar penghargaan, cap, ataupun simbolis tapi itu juga aset atau barang berharga (bahkan secara materiil) milik si pencipta. bayangin aja kalo ada orang capek2 (mungkin setelah bertahun2), menciptakan penemuan penting untuk tujuan komersial — terus dalam seminggu ada yang meniru, langsung dijual di pasaran.

apa ga rugi si pencipta? selain keluar banyak biaya dan usaha, keuntungannya mesti di bagi 2 sama si peniru, si peniru jelas untung. enak ya jadi peniru?? iya dong..!!

bayangin, kalo semua orang cuma mau jiplak? siapa yang mau jadi penemu, pencipta atau innovator?? nah sekarang uda ga bingungkan, kenapa negara (kita) yang (kebanyakan) orang2nya suka jiplak (dan ga menghargai copyright) ga pernah bisa maju?? soalnya negara ini ga punya innovator dan cuma ada peniru, peniru, peniru — sampe2 punya negara orang kadang2 ditiru juga.

yang paling penting: bukannya negara ini orang2nya bodoh, tapi orang2 pintar pada takut usaha mereka sia2 karena cuma jadi bahan tiruan.

2) alasan kedua, biar merangsang orang2 lainnya untuk menciptakan karya2 yang lebih berguna.
coba deh kalo si peniru dilarang meniru, dan cuma si pencipta yang bisa ngejual penemuannya. si pencipta bisa mendapatkan penghargaan yang pantas (secara materiil dan non materiil), lalu apa kata si peniru: “enak aja, bikin barang beginian aja bisa sukses — kalo begini doang sih, gw juga bisa bikin yang lebih bagus!!”

nah seru kan kalo setiap orang berlomba-lomba bikin karya yang orisinil? boleh jadi dia terinspirasi dari si pencipta, tapi bukannya ga mungkin dong dia bisa bikin yang lebih bagus dan innovatif?


moral dan etika itu penting Bang Jaf, tapi karena kedua biasanya ambigu — saya coba ambil dari sisi logikanya.

5 03 2007
manusiasuper

—————————
hak cipta hanya milik Allah SWT semata tak ada hak cipta dalam manusia
—————————

Siapa yang koment gitu pak??

Saya juga menolak plagiat dan konco-konco, meski sampe sekarang masih pake software bajakan…

Yang jelas, ide adalah sesuatu yang eksklusif, kalo memang mau mengutip tulisan seseorang, mbok ya ada link-nya atau sekedar pemberitahuan darimana tulisan itu dikutib, terhormat kan?

5 03 2007
endang

wah…kalo gue tuh pelupa..pernah gak ya, jadi plagiat..heheheh….tapi elo gak berencana co-pas “perbuatan” si bang AA kan? hihihiihiiii

5 03 2007
rara

thank you timpukannya pak JaF
got so many lesson from this thing happened
*bertapa dulu*

5 03 2007
JaF

#Riyogarta: *bantu Rio garuk kepala* hehe.. Sabar.. sabar..

#wadehel: Hush.. siapa yang maling.. Saya cuma menyadarkan diri saya juga kok.. Jangan2 saya juga termasuk..

#masjito: ya kayaknya nggak apa2 mas..

#neeya: tullll…!!

#Lita: hehe.. kalau tidak transparan mah hak sendiri dong. Tidak melanggar aturan apapun, kan? Itu mah karena orang penasaran aja kaleee..🙂

#Trinie: Betul alasannya. Tapi apa para pemilik hak cipta mp3 itu mau menerimanya? Lha wong hak cipta mereka berlaku seterusnya kan? Kecuali di Amerika ya. Konon hak cipta itu ada masa habis berlakunya. Habis itu jadi milik publik. Konon lho.. Ada yang lebih tau mungkin?

#Rangga: Rangga, logikanya pas banget.. Thanks.. Tambah kaya deh pengetahuan dan pemahaman gue.. BTW, ini Rangga yang di Singapore, kan? Apa kabar?

#manusiasuper: Wah, ada aja mas. Saya sih menghormati pendapat itu, cuma berhak juga membantahnya kan?

#endang: Hallah.. woooii.. Bang AA itu cuma sidenote aja.. Gak ada hubungannya.. Dasar rumpi hihihi

#Rara: *peluk dan tepuk2 bahu rara* Sabar.. sabar.. beruntunglah orang yang dapat pelajaran dengan cara terberat. Konon mereka tak akan mudah lupa pada pelajaran itu.. Jangan lama-lama bertapa ya..🙂

5 03 2007
ambar

sebagai korban asal comot saya selalu sadar kembali bahwa para plagiator itu mungkin praising my writing with copy it. Mereka memang baru dalam tahap itu, belum ke tahap kreatif. Menyedihkan..

10 03 2007
lemi4

Sebuah bongkahan kecil pikiran untuk dikunyah (baca: a litte piece of thought to chew on): manakah yang lebih penting, dibayar untuk sebuah karya tulis, ataumenyebarkan pemikiran yang terkandung dalam tulisan tersebut?

Bagi saya pribadi sih, yang kedua. Secara pribadi inilah alasan saya menggunakan sebuah Creative Commons License (seperti kotak ijo-item yang ada di sebelah kanan tulisan ini, agak ke atasan dikit kalo nggak salah). Bukannya yang pertama tidak penting, tentu bukan itu maksud saya. Tapi saya, untuk hal-hal tertentu, menganggap adalah lebih baik untuk “pemikiran” saya menyebar dan menginspirasi sebanyak mungkin orang untuk “berbuat sesuatu” (terutama ketika sesuatu itu adalah “baik”), ketimbang “pemikiran” saya terpendam di sebuah sudut untuk kemudian membusuk tak berguna, hanya karena saya “butuh sesuap nasi”.

“Pemikiran-pemikiran” seperti apa? Tentunya “pemikiran-pemikiran” yang “besar”😉

Dan satu lagi mumpung kepikiran, mengenai teknologi pembatasan pengkopian (alias DRM dan segala anak turunannya) (harus diakui segala macam bentuk pembatasan terhadap pengkopian data adalah semacam DRM), seperti kata Bruce Schneier sang ahli kriptografi digital, trying to make digital data uncopyable is like trying to make water not wet.

Bukannya saya bilang berusaha menghasilkan uang dengan membuat karya kreatif di era digital adalah sia-sia. Ataupun bahwa mereka yang meminta karya mereka tidak diedarkan, paling tidak kecuali dengan pengakuan bahwa karya ini adalah karya mereka, adalah tidak etis. Sama sekali tidak. Permasalahannya jauh lebih berlapis dari ini, dan butuh sebuah pemaparan yang lebih mendalam dari yang dapat saya tuangkan di forum ini saat ini.

In other words, I’ll write more Real Soon Now™😉

10 03 2007
lemi4

<shameless plug> BTW, komen saya tadi barusan telah saya cross-post ke wacanaisme, blog saya terbaru yang ber-Bahasa Indonesia murni </shameless plug>

(numpang promosi yah, Oom hehe :o) )

15 03 2007
What Money Can and Can’t « A Journal of A Not-Superman Human

[…] tinggi gerakan Pak JaF di sini, mohon jika ada teman yang mengetahui sumber aslinya, beritahu […]

22 03 2007
nila

terima kasih buat pelajarannya…
maaf telat……

17 07 2007
erma

kalo bajakan (software bajakan, film bajakan, buku bajakan), sodaraan ga ya sama plagiarisme yang dibahas disini ga Pak JaF ?
Sepertinya, kita hanya perlu pakai hati nurani saja. Lalu pertanyakan sendiri, pantes ga ya? boleh ga ya? merugikan ga ya?
After all, sayang kan kalo hati dan pikiran tidak sering-sering digunakan. Bisa karatan nanti😀

15 08 2007
jengger

Setelah berpikir dengan jernih (hayyyaahhh),emang bener yg bung *Jef* bilang. Seyogyanya bLog sebagai media untuk menuangkan ide kita (entah itu curhat,kejadian,pengalaman ampe ilmu dari hasil semedi😀 ) bukan hanya untuk menaikkan traffik pengunjung lantas maen comot tanpa ijin penciptanya.

15 08 2007
WU CHING-89

COPY PASTE?
mungkin ini dari pikiran bodoh saya aja kali yach? gimana kalo fitur CO-PASTE yang ada di PC di hilangken aja. jadi semua serba manual dan lebih repot kali ya kalo mau ngopi jadi gak ada tuh namanya asal co-paste paling2 asal sadur/salin? *ribet deh ah*

11 10 2007
Mia

Sama, Pak… Saya juga berpendapat kalo orang2 yang biasa melakukan hal2 kayak begini alasannya karena dia waktu masih sekolah/kuliah dulu emang udah suka nyontek…

28 06 2008
yohan

Saya juga korban plagiat karena tanpa sepengetahuan saya tulisan saya di blog thinkrooms.com muncul di resep.web.id Stelah saya konfirmasi jawabannya apa coba, “website besar aja ga masalah cuma ditulis domain asal aja, tanpa konfirmasi masa website kecil menengah selalu ribut”. Siapa yang ga kesal, ga ada ijin, eh pas ketahuan ga ngaku salah. Dasar tukang plagiat. Mohon bantuan teman-teman agar memberikan pendapat, siapa sih yang salah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: