Kenapa Saddam? Kenapa Alda?

30 12 2006

tvsaddam.jpgSaudara kami ingatkan kepada anda mungkin beberapa dari gambar yang akan kami tampilkan adalah gambar yang cukup mengganggu. Namun inilah gambar terakhir yang kami terima dari wires. Kami baru saja menerima gambar jenazah Saddam Hussein yang tewas di tiang gantungan…” Pengumuman itu keluar dari mulut si penyiar televisi terkenal, yang diikuti dengan penayangan gambar jenazah Saddam Hussein setelah eksekusi di tiang gantungan di Irak.

Saya terhenyak di depan televisi. Bukan. Sama sekali bukan karena gambar jasad Saddam Hussein yang hanya tampil beberapa detik di layar televisi. Tapi saya jadi teringat pada jasad tak bernyawa lainnya yang belakangan sering –terlalu sering bahkan– saya lihat di layar televisi dan itu ditayangkan tanpa ada kata-kata “Saudara kami ingatkan kepada anda mungkin gambar ini bla bla bla…“.

Beberapa minggu terakhir ini rasanya nyaris semua orang di Indonesia pernah melihat jasad tak bernyawa Alda ‘Aku Tak Biasa‘ Risma di layar televisi sampai-sampai mungkin sudah hafal apa jenis baju dan celana yang dikenakan mendiang, bahkan warna BH dan mungkin celana dalamnya nya sekalipun yang dikenakan saat penyanyi itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Maaf saya tak bermaksud mengejek orang yang sudah meninggal. Saya hanya ingin mempertanyakan mengapa penayangan jenazah Saddam Hussein yang cuma beberapa detik — itupun sudah terbungkus kain putih setengah badan dan mengenakan pakaian rapi dan seolah tengah tidur itu– harus didahului peringatan karena punya potensi menggangu pandangan dan perasaan pemirsa. Sementara jasad tak bernyawa Alda yang teronggok kaku di kamar jenazah bak daging di pasar yang tak terurus dengan mata yang diselotip apa adanya bisa ditayangkan seenaknya dalam durasi lama dan berulang-ulang dari ujung kepala hingga ujung kaki bahkan sampai ke detil-detil luka dan lebam di sekujur tubuhnya?

Apa karena muka Saddam yang kasar dengan jenggot tak terurus itu jauh lebih mengerikan daripada daripada Alda yang cantik jelita sehingga pemirsa harus diingatkan dulu? Apa karena wajah Alda yang cantik walau sudah mati sekalipun dirasa masih pantas ditayangkan?

Demi Tuhan, wahai kawan-kawanku pemburu berita visual, mereka itu sudah mati. Orang tidurpun kalau difoto atau di syut sembarangan bisa tersinggung. Saddam saja sebelum dicabut nyawanya sempat berpakaian rapi dengan kemeja putih dan jas panjangnya. Dan rasanya kalau saja Alda tahu jasadnya akan ditayangkan habis-habisan dari atas ke bawah, ia mungkin akan membenahi dulu pakaiannya agar nampak pantas ketimbang mengenakan baju ala kadarnya dan pakaian dalam yang kelihatan kemana-mana. (BTW, kemana pula perasaan para petugas kamar jenazah yang tengah bertugas saat itu?)

Ini baru soal penampilan. Bagaimana pula perasaan dan dampak psikologis pada pemirsa –utamanya anak-anak– yang tak biasa melihat jasad orang mati? Bagaimana pula perasaan keluarga mendiang? Keluarga dari orang yang konon paling keji di Irak itu saja mengaku sedih. Apalagi keluarga Alda yang harus melihat jasad anak, cucu atau saudaranya yang terbujur kaku tak terurus itu secara berulang-ulang dengan sangat jelas tanpa ada upaya untuk mengaburkan gambarnya.

Saya tidak tahu seperti apa etika jurnalistik penayangan gambar orang mati di layar televisi, tapi siapapun tahu hidup ini juga diatur oleh etika atau norma-norma tertentu. Maaf, saya tidak bermaksud meragukan etika para jurnalis di tanah air, termasuk juga etika para pewarta infotainment yang konon kabarnya sudah bergabung dengan organisasi sebeken Persatuan Wartawan Indonesia, PWI. Dan saya yakin etika jurnalistik di Indonesia jauh lebih hebat dari etika orang biasa sehari-hari. Kemana pula gerangan orang-orang Komisi Penyiaran Indonesia? Please, jangan beralasan bahwa kalian tidak punya gigi karena tidak dianggap oleh pemerintah. Memangnya kalian dipilih oleh siapa?

Apa pendapat anda? Atau jangan-jangan ini cuma omelan seorang manusia penggerutu seperti saya saja?🙂


Actions

Information

17 responses

30 12 2006
aRdho

yaa.. sampeyan ndaftar jadi ketua infotainment indonesia donk..😛

31 12 2006
endang

Elo kan bisa protes lsg ama Bang Ade Armando…..makanya deh, ketua KPI itu ngeblog dong…(ada hubungan gak sih?)

31 12 2006
Dewi

iya om, mereka tuh kurang kerjaan banget deh. Terlalu di eksploitasi, padahal yg dibritain itu lagi itu lagi. Kebanyakan mamerin mayatnya doang.😦

31 12 2006
Oskar Syahbana

Saya juga setuju. Kok kayaknya ga etis gitu mayat dipertontonkan gitu. Nothing basically wrong, but it’s seriously ethically wrong gitu.

2 01 2007
prayogo

Pantaskah Saddam mendapatkan itu semua?

2 01 2007
JaF

#aRdho: .. hehe bos Ilham Bintang mau dikemanain??

#endang: Bang Ade… nih ada yang ngomongin.. hehe.. Good Idea.. Udah tak email ke KPI sih..

#Dewi: kurang kerjaan? gak juga. buktinya mereka sempet ngerjain ini.. banyak kerjaan kan.. hehe.. kurang kreatif kale tepatnya hehehehe…

#Oskar ‘MacBookBlack’🙂 Syahbana: Exactly..! Masalahnya tahukah mereka etika itu ada?

#Prayogo: Pantaskah Alda mendapatkan itu semua?🙂

2 01 2007
arul

paradigma paparazi….

3 01 2007
tia

Mas Jaf,

kok belakangan saya makin sering ya membaca/mendengar complain dari banyak orang tentang televisi kita. Menurut anda, akan lebih baik nggak kalau kita memulai dan mengajak orang-orang terbiasa mengirimkan protes tentang ini ke stasiun2 televisi atau media massa?

Jadi akan jadi topik publik. barangkali lebih ngaruh untuk tv yang tak pedulian itu…

12 01 2007
Gabrielle

Mungkin karena keluarga Alda lebih bisa diwawancarai dibanding keluarga Saddam? Hehe. Nggak nyambung, ya?🙂

19 03 2007
laksono

benar juga masak hamya memburu beruta sampai sampai di ekploitasi, otak udang ato otak bangkai ya?

19 03 2007
laksono

benar juga! masak, hanya memburu berita sampai-sampai, si mayit di ekploitasikaya’ g’to, otak udang ato otak bangkai ya?

10 07 2007
helda

yaaa……….karena alda lebih menarik dari saddam husein,hehehe……..

12 07 2007
Ada Gosip: Ada Perasaan? Ada Logika? « JaF’s The Name

[…] bukan pertama kalinya. Banyak juga yang tidak sensitif ketika mengulas kematian almarhumah Alda, dimana berminggu-minggu jasadnya ditayangkan terus menerus tanpa menghargai perasaan keluarga yang […]

14 07 2007
Rani

Kayaknya paparazzi di barat pun masih ada kesopanan, setidaknya mereka tidak menayangkan jenazah putri Diana yg ketabrak tiang di Paris, meskipun mereka mengabadikan semua foto2 itu. Kalau paparazzi Indonesia, mereka benar2 tidak punya selera atau sensitifitas manusiawi.

31 01 2009
Ada Gosip: Ada Perasaan? Ada Logika? « Dewielly’s Blog

[…] bukan pertama kalinya. Banyak juga yang tidak sensitif ketika mengulas kematian almarhumah Alda, dimana berminggu-minggu jasadnya ditayangkan terus menerus tanpa menghargai perasaan keluarga yang […]

22 02 2009
kampanye damai pemilu indonesia 2009

pasangan zenazah yg aneh

29 07 2010
Infotainment Is A Warm Gun « Legal Alien

[…] mengejar, mencegat dan memukul-mukul mobil Nicky Astria? Yang pernah menayangkan secara utuh mayat Alda Risma dari dekat dengan –maaf- pakaian dalam yang kelihatan di sana sini? Masih perlu teori dan diskusi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: