Blog dan Jurnalisme: Memang Bisa? Memang Harus?

26 12 2006

blogpresent.jpgCatatan: Ini materi presentasi yang saya bawakan waktu diajak kawan-kawan Himatektro ITS untuk ikut mengisi Seminar Jurnalistik “Speak Up With Blog” tanggal 17 Desember 2006 lalu di Surabaya. Beberapa bagian sudah saya rubah sesuai dengan sejumlah masukan yang saya dapat dari seminar itu.

Paper yang saya tulis dengan gaya ngeblog dan sangat tidak mengikuti kaidah penulisan paper yang baik dan benar ini diawali dari sejumlah penjelasan tentang apa itu blog dan apa itu jurnalisme yang saya sebut sebagai sebuah upaya demistifikasi guna ‘membersihkan’ berbagai anggapan yang ‘keberatan’ tentang blog dan jurnalisme. Selanjutnya baru saya memaparkan bagaimana para blogger juga bisa memasukkan unsur-unsur jurnalisme, yang sebenarnya bukan hal baru dan sama sekali tidak ‘menyeramkan’ bahkan sudah banyak diterapkan oleh para blogger. Kepada para peserta yang kebanyakan mahasiswa dan anak SMA saya juga sampaikan bahwa tidak ada salahnya ngeblog untuk curhat atau catatan harian, tapi kalau boleh blogger itu juga harus punya tanggung jawab dan juga bisa memberikan sumbangan bagi kekayaaan konten blog di Indonesia. Idealis? Mungkin! Tapi kenapa tidak?

Kalau masih minat baca naskah lengkapnya, silahkan lanjut.. Kalau tidak, ya dengan berhenti disini juga anda sudah tahu inti presentasi saya itu. Oya , ulasan tentang seminar ini juga akan saya sampaikan di posting berikut. Semoga bermanfaat ya..

~~~

BLOG DAN JURNALISME:
MEMANG BISA? MEMANG HARUS? *

 

A. SEBUAH DEMISTIFIKASI

Demistifikasi! Istilah boleh keren bo’, padahal maksudnya sederhana saja: Seringkali sebelum mempelajari sesuatu hal kita sudah terlebih dahulu memiliki gambaran yang tak jarang sangat berlebihan tentang hal tersebut dan itu sudah membuat kita ‘takut’ atau enggan memulai. Jadi sebelum memulai bahasan kali ini ada baiknya kita terlebih dulu menghapus segala ‘misteri’ di dunia blogging dan jurnalisme.

1. MAHLUK ITU BERNAMA BLOG!

BLOG atau WEBLOG ?

Istilah blog berasal dari dua kata: web (internet) dan log (catatan atau jurnal) yang digabung menjadi weblog namun kemudian lebih populer disebut blog. Jadi secara mudah, blog adalah catatan atau jurnal dalam bentuk situs web di internet. Tapi jangan terjebak dalam istilah jurnal ini, karena kini blog juga berkembang menjadi macam-macam bentuk, lebih dari sekedar catatan atau jurnal.

BLOGGER atau BLOGGING ?
Blogger adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang yang melakukan aktifitas ngeblog. Aktifitas ngeblog ini juga disebut blogging. Jangan tertukar!

BLOG atau WEBSITE ?
Blog pada dasarnya adalah website atau situs web di internet. Lantas dimana bedanya? Meskipun sekarang nyaris tidak ada bedanya, namun berikut beberapa perbedaan mendasar dari blog dan website:

  1. Website cenderung lebih statis. Blog di disain untuk lebih aktif dan dinamis karena –seharusnya- sering di update
  2. Website cenderung bersifat impersonal. Blog lebih bersifat personal karena dibuat oleh individu-individu tertentu.
  3. Website cenderung bersifat satu arah. Blog lebih bersifat dua arah karena memiliki sistem untuk memungkinkan orang meninggalkan pesan baik melalui apa yang disebut commenting system ataupun shoutbox.

Masih banyak lagi perbedaan lain yang bisa ditulis disini, namun kenyataannya blog kini berkembang lebih jauh sehingga nyaris tidak ada perbedaan lagi. Banyak website yang kini juga lebih aktif, memiliki sistem komentar dan bersifat dua arah dan bahkan sekarang berkembang kecenderungan yang disebut sebagai company blog atau blog perusahaan. Singkat kata: blog kini telah berkembang menjadi lebih dari sekedar tempat menyimpan catatan-catatan pribadi bak sebuah catatan harian.

Namun menurut saya dari semua perkembangan itu, ada satu hal penting yang harus digaris bawahi dari fenomena kemunculan teknologi blog ini, yakni:

“Kini SEMUA ORANG bisa memiliki website sendiri di internet yang dengan mudah pula bisa diperbaharui kapan saja.”

Apa artinya ? Artinya siapa saja bisa memiliki tempat untuk bersuara di internet, untuk berbagai kepentingan. Dan kalau disebut siapa saja, artinya anda tak perlu lagi menjadi seorang programmer atau pakar untuk bisa membuat website. Cukup dengan akses internet anda bisa sudah bisa punya blog, dan yang lebih menyenangkan lagi, semua itu bisa dilakukan secara gratis!!!

Kalau sudah begini, pertanyaan yang paling penting sekarang adalah: Apa yang anda mau buat dengan blog anda? Mau dijadikan catatan harian atau tempat curhat? Tempat menyimpan kumpulan cerpen atau puisi? Tempat cerita tentang tokoh idola? Menyimpan koleksi fotografi? Semua bisa!

Pertanyaan berikutnya, ketika saya sudah punya media, maka bisakah blog itu dikaitkan dengan jurnalisme? Bisakah saya menerapkan prinsip jurnalisme di blog saya? Haruskah blog ditulis dengan kaidah jurnalistik? Bisakah saya menjadikan blog sebuah media sebagaimana layaknya media jurnalistik lainnya? Bisakah saya dan kawan-kawan saya membuat media seperti detik.com atau seperti kompas cybermedia atau media-media serupa itu?

Jawabnya bisa macam-macam, seperti:

Gile bener.. Memang situ wartawan? Wartawan itu kan harus sekolah jurnalistik, harus belajar lama, harus ikut tes ini test itu, harus ada akreditasi.. Punya kartu pers nggak? Punya Ijin terbit nggak?

Atau bahkan..

Lho kenapa tidak? Medianya kan sudah ada! Tinggal bikin liputan, wawancara orang, tambahkan foto, pasang di blog. Beres!! Nggak beda dengan detik.com kan? Kartu pers? Bikin sendiri aja. Toh kita bukan wartawan tanpa media. Kita punya media. Namanya blog! Ijin terbit? Emang jaman Orba?

… atau macam-macam jawaban lain. Tapi sebelum itu ada baiknya kita juga ikut mengenal mahluk bernama jurnalisme.

2. MAHLUK ITU BERNAMA JURNALISME

Mari kita mulai dengan bermain keyword. Ini istilah internet untuk sebuah atau beberapa buah kata kunci yang mengacu kepada istilah tertentu. Ya kurang lebih seperti saat kita sedang googling lah. Caranya, coba jawab pertanyaan ini:

“Jika anda mendengar istilah JURNALISME, kata apa yang pertama terlintas di benak anda?”

Jawabnya bisa macam-macam seperti yang saya asal tulis di bawah ini:

Wartawan, Media, Berita, Liputan, Investigasi, PWI., Kartu Pers, Surat Kabar, Kompas, Tempo, Gatra, Detikcom, Liputan 6, El Shinta, Suara Surabaya, Pulitzer, CNN, BBC, VOA,

.. dan masih banyak kata kunci lain yang pasti bisa anda dapatkan atau muncul di kepala anda. Salahkah? Tidak juga! Memang jurnalistik selalu terkait dengan kata-kata di atas.

Sekarang mari kita bermain definisi tentang jurnalisme yang pernah dibuat orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan:

Journalism is a discipline of collecting, verifying, reporting and analyzing information gathered regarding current events, including trends, issues and people. (Wikipedia)

The collection, preparation, and distribution of news and related commentary and feature materials through such media as pamphlets, newsletters, newspapers, magazines, radio, motion pictures, television, and books. (Encyclopedia Britannica)

Melihat definisi di atas, pada dasarnya jurnalisme adalah kegiatan yang terkait dengan tahapan dari mulai pengumpulan, penulisan, analisa sampai distribusi informasi yang aktual.

Kalau mau dicari, masih banyak pemahaman lain tentang jurnalisme, namun saya tidak mau berpanjang-panjang di bagian ini. Tapi dari berbagai sumber yang pernah saya dapat, menurut saya ada dua hal penting yang akan banyak berperan saat kita membicarakan antara blog dan jurnalisme:

a. Jurnalisme sebagai praktek dan jurnalisme sebagai profesi
Ini mungkin akan ditentang sejumlah wartawan, tapi menurut saya siapa saja bisa mempraktekkan prinsip-prinsip jurnalistik, walaupun tidak semua orang bisa menjadi seorang wartawan atau jurnalis.

b. Jurnalisme dan Medianya
Mengapa ini harus dipermasalahkan? Tidak lain dan tidak bukan karena seperti namanya, media hanyalah sebuah sarana, sebuah medium dan bukan jurnalisme itu sendiri. Sekali lagi, media bukan jurnalisme! Media hanyalah media!

Nah, kedua pemahaman di atas akan banyak mengemuka di sela-sela lanjutan pembahasan tentang jurnalisme dan blog ini.

B. BLOG DAN JURNALISME: Memang Bisa? Memang Harus?

Dalam bukunya “The Elements of Journalism” yang konon sering dijadikan acuan para jurnalis di seluruh dunia, Bill Kovach dan Tom Rossenstiel menulis sejumlah elemen penting dari jurnalisme berikut ini:

1. Journalism’s first obligation is to the truth.
2. Its first loyalty is to citizens.
3. Its essence is a discipline of verification.
4. Its practitioners must maintain an independence from those they cover.
5. It must serve as an independent monitor of power.
6. It must provide a forum for public criticism and compromise.
7. It must strive to make the significant interesting and relevant.
8. It must keep the news comprehensive and proportional.
9. Its practitioners must be allowed to exercise their personal conscience.

Rumit? Emberrrr… Justru karena itulah tidak sedikit jurnalis yang merasa bahwa tidak semua orang bisa melakukan apa yang mereka biasa lakukan.

Memang Bisa?

Banyak jurnalis yang merasa mereka sudah melalui berbagai macam pendidikan yang lama dan memakan biaya, dan melalui berbagai proses seleksi yang sangat ketat.

Banyak jurnalis yang merasa apa yang mereka lakukan itu harus benar-benar sejalan dengan prinsip-prinsip jurnalisme, tidak asal tulis, harus melalui jalur editorial yang ketat, sebelum akhirnya bisa dilepas atau diterbitkan ke masyarakat.

Banyak jurnalis yang merasa apa yang mereka lakukan itu tidak bisa tergantikan oleh seseorang yang kebetulan punya akses ke internet, bisa memanfaatkan layanan gratis di internet untuk membuat blog, rajin mengupdatenya dan lantas menyebut diri mereka blogger.

Karena itulah ketika ada pertanyaan: Memangnya bisa sebuah blog menjadi media jurnalisme? Tidak semua orang akan menganggukkan kepala dengan mudah. Tidak bisa! Enak aja.. Emang jurnalisme itu pekerjaan mudah! Saya sekolah bertahun-tahun untuk jadi jurnalis dan sekarang blog membuat semua orang bisa berlagak jadi jurnalis! Huh!!

Memang Harus?

Tapi di sisi lain tidak sedikit pula blogger yang merasa bahwa mereka memang bukan jurnalis dan tidak perlu menjadi jurnalis.

Banyak blogger yang merasa bahwa media yang mereka punya itu dibuat untuk iseng belaka, untuk sekedar menceritakan keseharian mereka tanpa ada keinginan untuk menjadikannya sebuah karya jurnalistik.

Banyak blogger yang bahkan merasa mereka menerbitkan blog tanpa ada beban apakah blog itu akan dibaca oleh orang lain atau tidak.

Bahkan tidak sedikit blogger yang menjadikan blog mereka hanya untuk sekedar penyaluran diri, sarat subjektifitas dan tak jarang diterbitkan secara anonim alias tidak bernama atau dengan identitas samaran.

Karena itulah ketika ada pertanyaan: Haruskah sebuah blog diterbitkan mengikuti kaidah jurnalistik? Tidak semua orang juga akan menganggukkan kepala dengan mudah. Dih, emang kita wartawan! Saya hanya menulis apa yang saya mau tulis dan belum tentu benar buat orang lain. Kalau ada yang terpengaruh ya maaf deh.. Salah sendiri gitu loh..

Jadi bisakah? Haruskah?

Seribu satu alasan bisa dibuat sesuka kita baik untuk membenarkan maupun menentangnya dan inilah penjelasan versi saya. Silahkan didebat, dibantah atau malah diterima.. Itu hak anda!🙂

Adalah hak seseorang untuk membuat blog dengan cara apapun, tapi tidak semua orang menyadari bahwa apa yang mereka buat itu bisa dibaca dan diakses oleh orang lain padahal itu bisa menimbulkan macam-macam dampak.

Itulah sebabnya saya tidak setuju kalau blog disebut sebagai media personal. Blog adalah media publik!

Anda yang rajin menelusuri internet mungkin pernah sekali waktu bertemu dengan cerita-cerita semacam ini:

Seorang pramugari menulis blog dan memasang gambar-gambar dirinya sedang berpose seronok di dalam pesawat. Yang bersangkutan dipecat.

Seorang karyawan di google dipecat karena menulis blog dan dianggap membocorkan rahasia perusahaan yang memang dijaga sangat ketat.

Seorang anak SMA bermusuhan dengan kawan baiknya gara-gara si kawan itu menulis tentang dirinya di blog dengan identitas yang terbuka.

Tanya kenapa?

Sekali lagi ada satu hal mendasar dari blogging yang mungkin belum dipahami banyak orang yakni bahwa apa yang mereka terbitkan itu bisa menjadi konsumsi publik, bisa dibaca dan diakses siapa saja di muka bumi dan mungkin planet lain yang memiliki akses ke internet.🙂

Dengan kata lain, blog bisa digunakan sebagai sarana komunikasi antara manusia.

Dan kalau sudah melibatkan hubungan dengan orang lain, maka tentu saja ada prinsip-prinsip, ada aturan-aturan tak tertulis, aturan sosial yang membuat hubungan antar manusia jadi bisa terus berjalan dengan baik.

Saya pribadi percaya pada prinsip kebebasan di internet. Tidak boleh ada yang membatasi kebebasan berekspresi di internet, baik itu negara apalagi individu. Tapi di sisi lain saya percaya bahwa internet bukanlah dunia yang tidak nyata walaupun ia sering di istilahkan dengan dunia maya atau dunia saiber (Cyber konon berasal dari kata Siberia yang dulu merupakan tempat antah berantah entah dimana alias tempat jin buang anak🙂 ). Internet adalah dunia nyata dimana manusia juga berinteraksi, dan tentu saja interaksi itu tidak jauh berbeda dengan interaksi kita di luar alam saiber.

Dan salah satu unsur penting dari interaksi antar manusia itu adalah apa yang di kampung saya disebut adat istiadat. Ada yang menyebutnya norma, tata krama, sopan santun, tanggung jawab dan lain sebagainya. Tapi saya lebih suka menggunakan kata-kata etika.

Oke sebelum anda menuduh saya sebagai ‘polisi moral’ langsung saja saya jelaskan poin yang ingin disampaikan disini:

Etika adalah hal yang mengatur hubungan antar manusia agar berjalan lancar, dan hal itu kemudian dipindahkan dalam bentuk tertulis dan tersusun dengan rapi dalam berbagai aturan kehidupan antar manusia. Dalam jurnalisme ia disebut Kode Etik Jurnalistik.

Wah, apakah ini berarti harus ada aturan yang disebut Kode Etik Internet atau Kode Etik Blogging?

Tidak juga. Percaya atau tidak di internet dikenal sesuatu yang disebut netiquette atau netiket, yakni seperangkat aturan dalam berinteraksi di internet dan itu bukan aturan tertulis. Itu bukan UUD nya internet. Netiket itu berangkat dari kelompok-kelompok tertentu di internet yang ingin memastikan komunikasi mereka berjalan lancar dan terbukti berhasil meskipun ada juga yang gagal. Rings a bell? Ya dalam kehidupan saja aturan masih dilanggar kok..🙂

Jadi bisakah blog dibuat dengan kaidah jurnalisme?

Kenapa tidak bisa?

Haruskah blog diterbitkan mengikuti kaidah jurnalisme?

Kenapa harus?

Maksud looohhhh??

Kita bahas di bagian berikut ini..

C. PRINSIP JURNALISME DALAM BLOGGING

Mungkin pertanyaan pertama yang muncul adalah: Emang gue wartawan?

Memang bukan. Justru karena itulah dari awal saya sudah mengatakan harus dibedakan antara jurnalisme sebagai profesi dan jurnalisme sebagai praktek.

Tetapi ada prinsip-prinsip dalam jurnalisme yang mungkin bisa menyumbangkan sesuatu kepada dunia blogging dan prinsip itu sebenarnya diambil dari keseharian kita juga. Ini beberapa diantaranya. Sekali lagi, hanya beberapa diantaranya.. :

Bebas
Seorang rekan jurnalis di sebuah majalah di Jakarta mengatakan, dengan blog ia justru merasa lebih bebas dalam mengemukakan pandangannya karena tidak terkait dengan aturan-aturan editorial yang terkadang membuat ia merasa kebebasannya dibatasi.

Kemane aje lu, bang?

Dari dulu para blogger sudah ‘berpesta pora’ dengan kebebasan. Mereka bisa menulis apa saja tanpa harus takut kenapa pecat bos apalagi di breidel.

Tanggung Jawab
Hallah..!! Bebas tapi bertanggung jawab! Sebuah kata-kata yang mengingatkan pada masa ORBA. Tapi pada kenyataannya memang seseorang harus bertanggung jawab pada setiap tindakan yang diambilnya. Tidak usah menoleh dulu pada etika jurnalistik, dalam etika keseharian saja, tanggung jawab adalah hal penting dalam hubungan antar manusia.

Akurasi
Dalam dunia jurnalistik, akurasi adalah keharusan. Mulai dari hal sederhana seperti penyebutan nama, tempat, istilah sampai ke hal-hal lain seperti deskripsi fakta yang terkait dengan apa yang kita tulis.

Berimbang
Prinsip berimbang ini sering jadi perdebatan. Semua orang pasti memiliki subyektifitas tersendiri, walaupun dia wartawan. Memang benar! ‘Tidak ada wartawan yang tak retak’, tidak ada blogger yang tak obyektif. Harus diakui.

Dan dimana muara dari semua prinsip itu? Buat saya -sekali lagi menurut saya- ia adalah:

Keterpercayaan!

Sekarang tanyakan pada diri anda sendiri, sudahkan anda menerapkan prinsip-prinsip itu dalam blogging? Bisa jadi secara tak sadar anda sudah melakukannya, walau sekarang ia disebut prinsip jurnalisme. Itu kan hanya istilah..

D. PENUTUP

Jadi bisakah blog dibuat dengan kaidah jurnalisme?

Haruskah blog diterbitkan mengikuti kaidah jurnalisme?

Itu pilihan anda semua para blogger.

Mungkin anda berpikir, blog yang anda buat itu bukan blog serius. Dia hanya kumpulan coretan yang tidak penting, tidak sepenting tulisan-tulisan para pakar atau para wartawan kondang. Mungkin benar! Para wartawan itu punya waktu banyak, punya sistem editorial tersendiri yang menjamin tulisan itu akurat, jujur, berimbang dan seterusnya. Tapi bukan berarti ia lebih penting dari blog anda yang cuma cerita soal hobi anda memancing, misalnya.

Buat saya, apapun yang ditulis dalam sebuah blog, baik tentang pacar, tentang kucing peliharaan, tentang anak atau bahkan tentang skandal korupsi di sebuah perusahaan besar, misalnya, haruskah mewakili prinsip keterpercayaan.

Mengapa?

Setiap huruf, setiap kata, setiap halaman yang kita terbitkan di blog itu adalah sebuah sumbangan bagi kekayaan khazanah pengetahuan di internet khususnya dalam bahasa Indonesia yang relatif masih sangat terbatas. Pertanyaannya, maukah anda menyumbangkan sesuatu? Tidak ada yang memaksa, meskipun tidak ada yang bisa mencegah anda !

Jadi Bisakah? Haruskah?

Kalau belum ketemu jawabannya, mari kita diskusikan bersama..!

Singapura, Awal Desember 2006

La Rane Hafied (Rane aka JaF)

Email:
jafmail @gmail.com

Blog:
http://suarane.com (blog radio),
https://anotherfool.wordpress.com (blog pribadi/ random)

~~~~~~~~~~

* Disampaikan dalam seminar “Speak Up With Blog” di ITS Surabaya.


Actions

Information

13 responses

27 12 2006
prayogo

Saya setuju bahwa kalau bisa para blogger Indonesia itu memperkaya khazanah dari ke Indonesiaan. Dan memang banyak sekali blog yang bertebaran di internet. Bahkan menurut satu sumber, di perkirakaan tahun 2007 nanti jumlah pengguna blog akan mencapai puncaknya, yakni mencapai 100 juta blog. Sebuah pertumbuhan yang sangat luar biasa.

Banyak tipe blog yang saat ini ada, sebenarnya sangat menguntungkan. Misal saja blog yang menceritakan sebuah perjalanan ke tempat wisata yang ada di tanah air. Bukankan secara tidak langsung itu juga mempromosikan pariwisata kita. Kemudian, tentan budaya, etika dan lain-lain, blog bisa menyampaikan itu semua.

Mungkin ini, dan saya yakin apapun bentuk blog itu pasti ada manfaatnya untuk orang lain….

Sukses selalu untuk pak JaF….

27 12 2006
Dewi

Nice post om. Thx for sharing.🙂

27 12 2006
neeya

Setiap huruf, setiap kata, setiap halaman yang kita terbitkan di blog itu adalah sebuah sumbangan bagi kekayaan khazanah pengetahuan di internet khususnya dalam bahasa Indonesia yang relatif masih sangat terbatas. Pertanyaannya, maukah anda menyumbangkan sesuatu? Tidak ada yang memaksa, meskipun tidak ada yang bisa mencegah anda !

Meski masih terbata-bata, masih berantakan, masih perlu dikritik, masih perlu banyak belajar dan tentu saja perlu tidak putus asa. Aku memang berniat untuk menyumbangkan secuil blog di hamparan samudera internet ini.

Makasih ya pak, tulisannya membuat aku sadar kalau blog ku yang kupikir tak berarti, ternyata tetap merupakan bagian dari kekayaan internet🙂

27 12 2006
maknyak

jaf,
saya selalu berusaha memberi kepercayaan diri kepada orang-orang yang ngeblog tentang urusan pribadi mereka. bagi saya, ngeblog tentang kehidupan pribadi adalah sebuah prestasi juga. Ada unsur proses belajar disitu. proses menulis, proses mengemukakan ide, proses mencatat sejarah diri sendiri yang lambat laun akan berkembang menjadi sebuah kontribusi pengetahuan entah itu sosial, psikologi bahkan politik.

aku pernah nulis di sini http://tulisansadja.blogspot.com

jadi aku paling gak setuju dengan istilah blog kudu disampaikan dengan cara ilmiah dan mengusung persoalan global. bagiku blog dengan mengusung persolan global itu perlu dan blog-blog personal juga tak bisa dianggap enteng dan dipandang sebelah mata bahkan diolok-olok.

27 12 2006
JaF

#prayogo : ya gitu lah, mas. masalahnya mungkin masih banyak diantara kita yang masih harus banyak belajar menghargai perbedaan. Thanks for the comments..🙂

#dewi : ur welcome.. and merry xmas ya mbak..

# neeya: nyambung jawaban komen dari mas prayogo.. di sisi lain banyak blogger yang juga harus percaya diri dengan apa yang mereka lakukan.. hehe. terus ngeblog, mbak..

# maknyak : can’t argue with that, mak.. buat aku sih unsur jurnalisme itu bisa membantu untuk membuat conten blog kita lebih bagus, lebih akurat dst tanpa harus melihat jenis blog mereka..🙂

27 12 2006
arul

bahasa blog yang lugas dan apa adanya menjadikan blog disenangi orang-orang yang tidak suka aturan, makanya ekspresi bebas yang tuangkan blog menjadi alternatif bagi mereka.
makanya jangan menyalahkan seleb blog, dana jangan pula meremehkan blog orang-orang biasa karena semua mengartikan sebuah kebebasan buat mereka sendiri

27 12 2006
sa

panjanggg….. euy.
yg terlintas hanya satu, malah masalah bahasa. saking tiap awal bulan mesti rapihkan tulisan2 yg bakal muncul di biji… JURNALISME, si .. -isme itu ga masuk dalam kategori ‘aliran’ ya? aliran yg suka jurnal2an? makan dijurnal, minum dijurnal, apa2 dijurnal..

28 12 2006
JaF

#Arul: wehehe.. nyambungnya ke seleblog.. jadi ingat kampanye yang ‘kontroversial’ itu.. hehe

#Sa: hallah.. biji itu juga bisa masuk kategori jurnalisme.. kalau semua dijurnal kenapa gak masuk jurnalisme? hehe

30 12 2006
endang

sip! blog dgn prinsip jurnalisme, kalo itu menyangkut blog2 yg urusan tulisannya pribadi, akhirnya bisa membuat kita mengerti siapa jurnalis di belakangnya. Maksudnya, dari gayanya ‘bicara’…dan benar, meski itu tentang sebuah catatan harian, akan lebih baik kalo ada sebuah nilai di dalamnya yang bisa dijadikan bahanbelajar bagi para pembacanya. Kan kita belajar tidak selalu harus dengan materi yang membuat kening bertingkat terasering?

31 01 2007
ahmad raihan

bagaimana gabungnya?

3 03 2007
satria

Mas Jaf .. abis baca tulisannya ane Jadi pengen coba ngeblog nih tapi kayanya ane masih (ma’af go-blog) maklum baru bisa nulis dikit gitu. ga’ harus ngikutin kaidah jurnalistik ga’ nape-nape ye?

25 01 2009
komikb4

yup,pers bukan dewa
siapa saja bisa melakukannya
salam kenal
komik b4

26 12 2015
suarane.org | [Reblog] Blog dan Jurnalisme: Memang Bisa? Memang Harus?*

[…] jauh dari ilmiah, tapi sepertinya masih relevan untuk saat ini. Artikel ini pertama di posting di blog lama saya tepat 9 tahun lalu. Lama ya.. Tapi mudah-mudahan artikel ini masih […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: