Dicari: Tuhan Yang Baik

5 11 2006

sinetron.jpgBuat saya pribadi, tulisan ini mungkin lebih tepat diberi judul “Dicari: Obat Penurun Darah Tinggi“. Ini gara-gara ‘hobi’ saya mengutuki layar televisi di jam-jam prime time, sampai kepala pusing dan darah tinggi kumat he.. he..

Tapi tulisan ini bukan buat saya. Ini buat mereka yang terlibat di balik produksi sinetron-sinetron bertema religi yang masih terus saja menguasai jam prime time di televisi-televisi Indonesia. Sinetron-sinetron yang membuat saya merasa bahwa Tuhan yang baik hati, yang Maha Pengasih dan Penyang itu telah hilang entah kemana.

Anda tidak percaya? Coba saksikan tayangan televisi di jam-jam prime time. Hampir setiap malam Tuhan selalu dicari-cari oleh macam-macam orang di layar televisi. Mulai dari tukang sayur yang gerobak dagangannya disabotase oleh orang kaya sampai terguling, suami yang tak habis pikir kenapa istrinya tiba-tiba jadi jahat bahkan tega membuang bayinya di tempat sampah, istri yang stress karena suaminya serong dan suka memukulinya, ayah atau ibu yang dicaci maki dengan kata-kata kurang ajar bahkan ada yang mengancam akan membakar orang tuanya, anak yatim yang hampir mati karena dipaksa mengemis siang malam oleh ibu pengasuh panti asuhan tanpa memperdulikan bahwa ia sedang demam tinggi, dan saat si anak akhirnya mati si ibu pengasuh panti asuhan mencuri semua uang derma dari pelayat untuk dibelikan perhiasan dan untuk mabuk-mabukan.

Mereka semua mencari Tuhan sambil menangis sesenggukan di atas sajadah seusai sholat. Semua mencari Tuhan. Tuhan yang baik, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong. Dan kemana Tuhan? Beliau hanya ‘kebagian peran’ di menit-menit terakhir, di sela-sela ucapan Ustad, Ustadzah atau orang baik lainnya muncul dan menutup acara dengan kata-kata manis dan wajah yang tidak kalah manisnya.

Dulu sih ada sinetron dimana Tuhan ‘kebagian peran’ cukup banyak dan salah seorang penggagasnya bilang pada saya bahwa ini adalah alternatif lain dari ‘sinetron-sinetron kuburan’ itu. Tapi kini, sinetron itu juga sudah ikut arus dalam mengedepankan kekerasan, kekejian dan menyisakan Tuhan di bagian terakhir saja, sama seperti yang lain.

Ya, harus diakui, dunia memang keras dan kejam! Manusia-manusia yang jenis kekejamannya hanya bisa disaingi oleh Firaun dan anak buahnya banyak ditemui dalam keseharian kita. Tapi ketika kekejian mereka itu dihidupkan kembali di layar televisi dengan dalih bahwa toh kebaikan pada akhirnya akan mengalahkan mereka, tidakkah terpikirkan oleh sutradara itu bahwa banyak pesan lain yang juga ikut terbawa?

Tidakkah terpikirkan betapa caci maki anak-anak durhaka di layar kaca itu bisa ditiru oleh anak-anak yang tengah belajar bicara? Tidakkah terpikirkan betapa sikap istri atau suami yang hanya bisa manyun padahal sudah dizalimi berulang-ulang itu mengajari kita sikap pasrah yang berlebihan? Tidakkah terpikirkan bahwa di balik manfaat dari sinetron ini, juga banyak unsur mudharatnya?

Ini mengerikan buat saya.. Lebih mengerikan lagi karena justru para penulis cerita itu seolah ‘adu kreatifitas’ dalam menciptakan manusia-manusia yang sejahat mungkin dan tak jarang membuat saya -atau mungkin juga anda- berpikir: “Memangnya ada orang yang jahatnya sampai kayak gitu, ya?

Saya kasihan pada Tuhan. Ya memang Tuhan tidak perlu dikasihani bahkan Tuhan tidak memerlukan kita manusia, tapi saya tetap kasihan pada Tuhan karena ia diremehkan oleh manusia. Di sinetron-sinetron itu Ia cuma ‘kebagian peran’ di akhir cerita. Di acara-acara ramadhan namanya diseru berbarengan dengan iklan-iklan obat sakit perut, iklan makanan, iklan motor, atau di pertanyaan-pertanyaan kuis yang membuat penjawabnya harus berlaku bodoh untuk bisa mendapatkan hadiah tak seberapa.

Lebih menyedihkan lagi karena di salah satu acara dakwah, yang jelas-jelas harus membawa nama baik Tuhan, sempat terselip dialog yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

Artis Top: Ustadzah, saya pernah berselisih paham dengan seorang teman baik dan akhirnya kami tidak bertegur sapa. Tapi setelah dua tahun saya sadar bahwa itu salah. Katanya tidak bertegur sapa selama dua hari saja sudah dosa. Lha, saya yang dua tahun ini gimana Ustadzah?

Ustadzah Top: Ya selama dua tahun itu semua sholat dan ibadah kamu tidak sah!

Duh Gusti, mana tadi obat darah tinggi saya ya..?🙂

~~~~~

 

Sekedar Catatan Penutup, Penurun Tekanan Darah Tinggi🙂 :

Saat selesai mengetik tulisan ini dan siap mempublishnya ke blog, televisi di ruang tamu tengah menayangkan sosok Ustadzah yang sedang ‘menyimpulkan’ jalan cerita sinetron yang baru saja berlalu. Istri dan anak saya pun bangkit dari depan televisi dan memulai rutinitas persiapan tidur. Sambil ganti baju seusai sikat gigi terdengar dialog ini:

Televisi itu cuma buat tontonan, Put. Ambil yang baik dan buang yang buruk. Kamu harus bisa menyaring sendiri!

Ah, itu suara nyonyaku tercinta nan cantik jelita yang langsung disambung celetukan si Tuan Putri Kecil imut-imutku tersayang:

Lha, emang makanan disaring?

BWA HA HA HA HA HA … !!! Untung di Singapura siaran televisi Indonesia hanya dua stasiun saja yang bisa tertangkap (RCTI dan SCTV). Kalau lebih banyak, Si Tuan Putri harus menyaring lebih berat hehehehehe….

~~~ UPDATE: 06/11/2006 ~~~
Ternyata saya punya seorang teman yang punya potensi menjadi penulis naskah sinetron. Paling tidak cerpennya yang ini sudah di adaptasi ke dalam salah satu sinetron religi itu (sinopsisnya bisa dibaca disini). Selamat buat Daeng Amril!

Pesan saya cuma dua: (1) Jangan bikin naskah-naskah sinetron model menyebalkan itu ya, Daeng. (2) Titip pesan sama para sutradara yang terhormat itu, ya mbok Kang Eeng Saptahadi dikasih peran yang lebih menantang kemampuan aktingnya gitu loh. Saya respek banget sama kemampuan akting beliau tapi kenapa selalu dapat peran jadi orang jahat yang norak hue he he he he ..


Actions

Information

36 responses

5 11 2006
Gabrielle

LOL!

5 11 2006
aRdho

ini ustad jefri?😛

*sok tau*

5 11 2006
sa

padahal sih tinggal pindahin channel aja ya… otomatis ga perlu jd pasien darah tinggi toh.
atau.. siaran singapore malah bikin sakit jantung??😉

6 11 2006
Mel

my god..kemana saja anda selama ini?
kemana saja saya selama ini?
kok saya bisa mengalami hal yang sama dengan anda sehingga de ja vu habis2an baca entry ini..

sedikit perbedaan : saya memang serius punya darah tinggi sehingga masa2 agonising di depan TV itu bener2 nyiksa!
sementara..*drum rolls* suami saya adalah penggemar sinetron model begitu, wallahualam karena memang suka atau karena dia cuma ingin matanya menatap tv tapi otaknya roaming mikir yang lain..cuma tuhan yang tau ..

suami saya cuma mendelik males kalau mendengar saya teriak2 lagi di depan tv “Nah tuh! liat! Pasti matinya entar ditabrak mobil lagi!” “Terus pas mau mati baru tobat!”
Gaaaaaaaah!!!!!

kemana semua logika tukang bikin script-nya sih???

sampai sekarang saya kepaksa harus berantem dengan anak perempuan saya karena dia juga entah kenapa menikmati sinetron2 demikian. mungkin sebenarnya itu cuma bentuk penasarannya terhadap sinetron2 Indonesia yang tidak pernah kita tonton selama 8 tahun tinggal di Singapore. *sigh*
bodo amat, berantem2 deh..daripada anakku harus terpapar dengan kekasaran dan kekerasan yang ada dalam sinetron tersebut yang membuat dia bisa “belajar” bagaimana caranya ngamuk yang baik..

puhlezzzzz !
*rolls eyes*

dan saya tidak bisa percaya pada diri saya sendiri waktu suatu hari dia merengek ingin nonton sinetron berbalut religi tapi menyesatkan itu dengan bilang, “Neng, forget it! I will NOT allow you to watch that kind of sinetron no more!”
lalu dia balik berteriak pada saya

6 11 2006
Priyadi

tips: switch channel dari RCTI atau SCTV ke Discovery atau NGI🙂

6 11 2006
lemi4

Paradigma media massa berdasar rating. Ketika logika dipaksa mengikuti selera (berdasarkan nilai rating yang, katanya, representatif)

6 11 2006
Anangku

artikel yang sangat bagus… top..!! televisi sekarang hanya mengedepankan rating… mutu tentang sinetron nomer ke sekian… yang penting banyak yang nonton.. selesai titik…

6 11 2006
ina

SETUJUUUUU!!!!!!

bapak menggambarkan unek2 di kepalaku dengan tepat….
Alhamdulillah dirumah, bisa terbebas dr tontonan penuh Azab tersebut…
tp kemarin waktu mudik ke kampung, hrs menghadapi isi rumah yg hobi banget sm tontonan itu….

Allah Maha Pengasih Maha Penyayang….smoga masih banyak yg sadar akan itu.
Smoga banyak yg membaca artikel ini (terutama anda para pembuat skenario..yap anda..), dan smoga anda pun tercerahkan….

6 11 2006
ekSi

Benar Sekaliii! Saya juga sering termehe-mehe membanyangkan, “Apa ada orang sejahat itu, atau saya yang naif?”😛 Hehehehe padahal Allah itu Ar-Rahman Ar-Rahim… Mending bikin acara apa gitu kek yang mendidik, daripada nakut-nakutin begitu😀

6 11 2006
Bajangkirek

Makanya nonton Srimulat aja.. Tuhan sungguh Maha Baik telah menciptakan Tessy, Timbul dan Gogon yang bisa menjadi obat penurun darah tinggimu itu, hehe…

6 11 2006
pepeng

nonton bola aja deh..!!!!
lbh netral..!!!

6 11 2006
bucin

ketika dominasi kapital menggagahi semua, bahkan tuhan pun tak dapat mengelak. tapi memang dasarnya tuhan itu liberal ya. kalau otoriter, jadi penguasa negara; bukan alam semesta. qeqeqe.

7 11 2006
Endang

Ne…kalo gw liat sinetron yg tampar2an…lsg komentar:”namapr melulu isinya..bosen…semua jadi jahat apa ya?” atau kalo yg sebelum mati keliatan badannya berdarah dgn benjol 2 menjijikkan,komenku lsg: ” emang dosa bener2 bejendol apa ya? Moso’ bisa memprediksi azab Tuhan kayak gitu,kayak Tuhan itu jahat aja..!” Eh, anakku lsg nangkep n setiap ngeliat yg kyk gitu lsg sebel dan cuma ketawa sebel ajah…that’s the point of my comment , pointed straight to my sons…

7 11 2006
amril

Thanks atas artikelnya yang mencerahkan, sekaligus promosi gratis profil saya di blog anda yang sangat populer di blogosfer ini..hehehe

Saya akan teruskan kritik anda ke rekan saya. Untuk Eeng Saptahadi,hehehe..iya..ya..koq beliau dapat peran antogonis melulu ya ? :))

7 11 2006
Dewi

hahahaa..emang menyedihkan om. Untungnya saya gak pernah nonton TV kecuali discovery channel. Abis, banyak berkeliaran sinetron yg gak mutu. huekkk…

7 11 2006
yanti

Kiamat sudah Dekat, agak lumayan🙂

8 11 2006
erwin

Yah begitulah sinetron kita, kapan hari ketemu mantan temen sekantor, dan cerita2 tentang keluarganya. Dia sempet kaget ketika anaknya sempat bilang “aku remukkan kepalanya lo”, temen saya ini katanya kaget bukan kepalang🙂
Anak yang belum genap 5 tahun bisa ngomong begitu, tapi kalo hal ini kita sampaikan kepada tim yang terlibat dalam produksi sinetron pasti mereka menyebut “hal itu bagian dari kreatifitas”, “hal itu ada dalam masyarakat kita, makanya kita angkat untuk jadi pelajaran”.
Tapi yang ada di lapangan justru sebaliknya🙂 tapi kita sebagai yang menonton memang harus lebih dewasa😉
Kalo gak mau susah2, ikuti aja saran pak Pri diatas🙂

oya, thanks udah main🙂

10 11 2006
nila

om JaF…….

terima kasih utk tulisannya, memang ini merupakan “KENGERIAN” yang super duper dahsyaT…..horor yg mencekam utk perkembangan anak2 kita,
itu salah satu sebabnya, sy undur diri dari dunia balik layar persinetronan yg menurut kacamata bisnis konon kabarnya sangat menguntungkan itu…..
saya rela merogoh kocek sedikit lebih, demi pasang kabel TV utk anak sy yg suka cartoon netwrk, disney channel or animal planet….

salam buat istrinya yg cantik dan anaknya yg imut2 itu ya mas JaF

12 11 2006
bintangjatuh

bagaimana kalo sinetron religius diwajibkan untuk melibatkan “konsultan” yang terpercaya misalnya Aa Gym untuk meng-audit skenario-nya ^^

salam om J, jadi ke Surabaya?

12 11 2006
zuki

hmm … udah lama berhenti nonton TV … apalagi sinetron atau sejenisnya …

13 11 2006
-syl-

Oom JAF, aku setoedjoeee!!! sekarang jadi lebih ketat lagi jadi polisi TV, secara anak-anak juga suka kecolongan lagi nonton sinetron yang isinya anak memaki ibunya **duh** kenapa sekarang kesannya banyak sekali anak durhaka di Indonesah kuw tertjinta ini?? **apa emang demikian?**

13 11 2006
tukang nggedeblues

dulu, saya jarang nonton tivi, karena di kos gak ada televisi khusus anak kos, sementara saya males nonton tivi di rumah ibu kos.
terus, saya bisa beli tivi setelah mendapat rezeki. saya cukup kecanduan acara tertentu. tapi kalo sinetron? go to hell untuk KEBANYAKAN sinetron bertema ecek2, percintaan remaja, bahkan saya tidak berminat menonton dunia tanpa koma, yang mengangkat kehidupan wartawan, profesi yang saya tekuni.

saya masih bisa menerima sinetron religi. tapi, sungguh, saya tidak tahan mendengar suara orang memaki-maki dengan kata kasar, mata melotot mau keluar, sumpah serapah yang tidak pantas diperdengarkan ke khalayak, menghiasi sinetron yang di akhir cerita menghadirkan keteduhan Gusti Allah. apa tidak ada angle lain sinetron religi, yang memberi pemahaman bahwa Gusti Allah Maha Segalanya, tanpa harus dengan sumpah serapah caci maki dan mata melotot? duh …. meski bisa menerima, karena saya tidak tahan dengan adegan penuh sumpah serapahnya, saya lebih sering langsung mengganti channel atau malah memutar VCD untuk nonton film.

saya bisa sedikit mengecualikan untuk sinetron Kiamat Sudah Dekat. meski saya nontonnya sekilas, masih ada muatan moral, di sini, menurut saya. lainnya? saya nggak tahu.

di friendster saya, pada kolom acara TV favorit, saya menulis gini “nggak hobi nonton tivi. tivi itu racun, kalau kita nggak pandai memilahnya”. ya, sampai sekarang, saya masih merasa tivi itu racun. meski saya kecanduan beberapa racun yang ditebarkannya.

14 11 2006
distrojablai

Tak ada manusia yang bisa berubah dari tontonan spiritual seperti yang marak di pertelevisian di Indonesia. Umumnya penonotn hanya menilai tontonan dari “sapa sech artisnya?, cantik atau ganteng kagak?”. Nah apakah sebagai manusia muslim mempertontonkan sesuatu yang seharusnya menjadi bimbingan berubah menjadi sesuatu yang tak lazim untuk di kerjakan.

Jadilah muslim yang sepenuhnya, dan be your self.

15 11 2006
ambar

Semoga yang bikin sinetron jadi lebih penyayang sehingga bisa bikin yang lebih santun.

15 11 2006
Lita

Sinetron bukannya justru paling banyak ya di RCTI atau SCTV itu ya, om? :p

17 11 2006
dini

setujuuuu…emang kok keknya yg jahat suka keterlaluan ….yg baik dan tertindas suka kelewat pasrah

minum obat aja deh biar pala ga cekot cekot

21 11 2006
bryan

gw sih curiga, ini skenario terselubung hasil kerjasama dgn layanan tv kabel.
supaya orang muak dan cari alternatif lain, sehingga orang memilih utk berlangganan tv kabel!

30 11 2006
Aulia

keren oiiii… kerennn…. beda pandangan dengan tulisan saya, tapi senapas. jadi merasa tidak sendirian nihhh….

3 12 2006
Wi Slamet

Haiyah..ketemu Bryan disini:P….Untung pak, saya ndak pernah nonton sinetron, ketauan banget nggak logisnya sih….

5 12 2006
Fay

Setuju, sinetron yang beredar sekarang cuma cari untung, berlindung dibalik misi dakwah, padahal malah bikin rusak akhlak. Orang jadi takut, bukannya cinta pada Allah.

18 12 2006
dianika

mas ..mas… udah saya link ke blog saya
Makasih… thanks untuk pertemuan berkesan meski singkat di ITS Minggu (17/12) kemarin…

Hmm.. saya tertarik juga nih.. Saya termasuk penggemar sinetron beginian… Tapi suka risih klo lht dramatisasi yang kadang sangat kelewatan. Masak iya sih ada org2 model kayak begitu ya…

dan ujung sinetron seperti itu… biasanya cuma ada satu kalimat buat yang ketiban ‘adzab’ ,”Kapok!!!” Apa itu yang namanya mendidik… Duh…

10 03 2007
kakilangit

hihihi…baru baca…
in senada sama tulisanku yang ini
tapi pemaparan om Jaf lebih asik…
thanks om..

10 03 2007
kakilangit

weh..linknya gak keluar..
maksudnya yang ini loh

29 01 2008
anita

memang tv indonesia tuh sekarang sudah ga ada isinya.

di waktu prime sinetron pembodohan massal, siaran berita provokasi massal yang hampir setiap saat tidak dibarengi dengan riset mendalam (asal ngabab doang dan lihat deh liputan 6 sctv – pembawa acaranya seperti tegang dan marah2 terus).

di waktu siang lebih parah lagi acara “selidik kriminalitas” tidak bermutu yang siapa yang jadi korban pembunuhan/pemerkosaan mukanya dipampang besar2 tanpa ada sedikit pun niat untuk menyamarkannya walau jenazah mereka membiru, bonyok dan sungguh mengganggu untuk ditonton oleh masyarakat banyak (juga sungguh menyakitkan bagi keluarga si jenazah)

sungguh memalukan

apa memang selera orang kita yang sebegitu rendah dan tidak terdidiknya,

atau para programme directors/share holders perusahaan2 media yang sebegitu tidak pedulinya lagi akan efek sosial negatif yang mungkin mereka ciptakan pada masyarakat?
apa mereka tidak pernah menonton program televisi yang berkualitas seperti yang ditayangkan oleh BBC Inggris?

mau ganti channel juga percuma, semua channels menayangkan program yang serupa. akhirnya keponakan2 saya hanya diperbolehkan nonton tv kabel oleh kakak saya (yang sekarang jadi kerepotan karena si ponakan2 mulai bertingkah seperti lizzie mcguire, artis2 high school musical, semua artis remaja di disney channel yang sebenarnya ga sesuai dengan ponakan yang umurnya 7 – 9 th)

paling mending memang didik masyarakat terutama anak kecil untuk membaca buku. ini baru, mengasah imajinasi dan memperluas wawasan, pengertian manusia🙂

1 05 2009
sa yang

iya saya juga ngak suka ama tayangan yang menunjukan korban kriminalitas secara jelas jelas ataupun cuma kakinya gak enak ditonton dan kasian keluarganya. pelaku kriminal juga sekarang di tunjukan jelas padahal jaman dulu paling tidak ditutupi matanya

3 06 2012
Kancah Sinetron Indonesia di Negeri Jiran: “Indonesia tu dah macam Hollywood Asia Tenggara, lah!” « salamduajari

[…] kemewahan berlebihan, kekasaran berbahasa dan bersikap terhadap sesama, bahkan sampai yang mengkomersialkan Tuhan dan Setan dengan cara yang menggelikan (untuk tidak menyebutnya menggelisahkan). Oya, tahukah anda bahwa […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: