Dunia Tanpa Si Kumis

21 10 2006

mallarangeng.jpgPernah dengar istilah cameo? Dalam dunia perfileman, cameo itu artinya kurang lebih kemunculan singkat seseorang (biasanya aktor atau sosok yang sangat terkenal). Saya bukan pakar film, tapi berkat bantuan mat gugel, saya menemukan bahwa peran cameo itu tujuannya macam-macam, mulai dari yang terkait dengan adegan tertentu dalam film tersebut hingga ke urusan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan film tersebut seperti sekedar iseng atau untuk keperluan publisitas.

Contoh paling klasik dari peran cameo ini adalah kemunculan Alfred Hitchcock dalam film-film karyanya, entah ketika digambarkan tengah menunggu bis, menyeberang jalan, membuang sambah atau bahkan ketika fotonya muncul di koran yang tengah dibaca aktor dalam film tersebut. Meskipun tidak penting, tetapi kemunculan cameo Pak Hitchcock selalu ditunggu-tunggu bahkan sering jadi bahan tebak-tebakan para penggemar filmnya. Contoh lain adalah ketika Frank Abagnale Junior muncul sebagai polisi di film Catch Me If You Can yang menceritakan kisah nyata hidupnya yang diperankan Leonardo Di Caprio. Atau ada yang pernah nonton Taxi Driver? Sadarkah anda bahwa sang sutradara, Martin Scorsese sempat muncul sebentar di film itu? Oooh, jadi ternyata selain untuk lucu-lucuan, peran cameo ini juga sangat efektif untuk publisitas dari film yang bersangkutan dan ini terbukti efektif di berbagai film. Ah, saya paham sekarang..

Nah, justru karena pemahaman inilah saya dipaksa maklum dan urung kecewa ketika menyaksikan episode ke 7 Dunia Tanpa Koma (DTK) yang menampilkan Andi “Si Kumis” Mallarangeng yang dalam sinopsisnya dikatakan “tampil cameo”. Dalam adegan singkat itu digambarkan Raya Maryadi (Dian Sastro) dan Bramantyo Bayu Bagaskara (Tora Sudiro) tengah makan siang dengan Andi Mallarangeng yang berperan sebagai dirinya yang juru bicara Pak SBY itu. Dalam adegan singkat itu digambarkan bagaimana Raya dan Bram Bayu bertanya soal layanan sms Pak SBY yang dijelaskan dengan cukup meyakinkan oleh Andi Mallarangeng. Raya juga sempat memancing Andi Mallarangeng untuk membocorkan nama calon Kapolri baru yang ceritanya akan diumumkan SBY. Raya kemudian menuliskan kata “Sutanto” di atas selembar kertas dan menyodorkannya pada Si Kumis yang lantas memuji habis-habisan ‘kehebatan’ Raya. “Ketemu dimana wartawan bagus begini,” kurang lebih begitu komentar si Kumis pada Bram Bayu sambil senyam-senyum sendiri.

Ya kalaupun ada kekecewaan saya yang tidak bisa diredam dari adegan cameo itu adalah ketika usai ngobrol dengan Andi Mallarangeng, Raya digambarkan sangat senang dan bangga dengan pekerjaannya sebagai seorang wartawan karena bisa bertemu dan ngobrol dengan orang-orang terkenal seperti Pak Kumis itu. Disitulah ia sempat digambarkan ‘berkontemplasi’ tentang profesi yang baru ditekuninya itu. Okelah, adegan kontemplasi si Raya usai bertemu dengan Andi Mallarangeng memang wajar-wajar saja, tapi kenapa adegan itu tidak digambarkan ketika Raya yang wartawan baru itu sukses besar dengan liputannya yang menjadi cover story dan dipuji-puji habis oleh si bos? Lain halnya kalau untuk bertemu si tokoh terkenal itu sang wartawan harus berjuang keras dengan berbagai cara dan berhasil. Itu baru kebanggaan menjadi seorang wartawan dalam menembus nara sumber.. Kalau cuma ketemu Andi Mallarangeng saja, rasanya wartawan manapun bisa. Lha nomor HP nya saja sudah beredar kemana-mana di kalangan wartawan kok. Namanya juga juru bicara yang setiap harinya harus berurusan dengan wartawan. Tul nggak?

Ya.. ya.. ya.. ini memang cuma adegan kecil. Tapi ketika sosok Andi Mallarangeng harus digembar-gemborkan secara besar-besaran bahkan menurut saya cenderung berlebihan dalam setiap promosi Dunia Tanpa Koma dan membuat orang seperti saya penasaran lalu hasilnya ternyata cuma begitu saja, ya mendingan Dunia Tanpa Koma dibuat menjadi Dunia Tanpa Si Kumis saja sekalian hehe.. Kalau kemudian dikatakan bahwa tujuan kemunculan jubir Pak SBY ini adalah untuk kepentingan publisitas, memangnya bintang-bintang terkenal yang bertebaran di sinetron itu masih kurang menjadi jaminan publisitas? Dian Sastro gitu loh.. Atau memangnya nama Leila Chudori sebagai penulis skenario masih kurang jadi jaminan publisitas? Yang bener aja Pak Leo..🙂

Ya.. ya.. ya.. saya tahu diri kok. Saya ini cuma ibarat penonton bola yang seolah merasa bisa main lebih baik ketika menonton sebuah pertandingan. Lagipun menurut saya yang cuma penonton ini, secara keseluruhan sinetron Dunia Tanpa Koma sudah cukup baik bahkan jauuuuuuuuh lebih baik dari sinetron-sinetron ABG atau sinetron-sinetron kuburan itu. Saya juga sering dibuat senyum sendiri melihat sejumlah adegan-adegan yang menggambarkan kehidupan para wartawan yang sudah tidak asing lagi buat saya. Tapi pada saat yang sama saya juga dibuat manyun dan selalu tidak sabaran menunggu iklannya yang –buset– banyak sekali hehehe.. Kenapa tidak iklan DTK dibuat sedikit tapi ratenya mahal.. Jadi akan tetap menguntungkan buat Pak Leo cs tapi pada saat yang sama juga nyaman buat penonton.. Tul nggak penonton???

Ya.. ya.. ya.. saya paham.. saya cuma penonton…😉


Actions

Information

10 responses

21 10 2006
tukang nggedeblues

emang sinetron itu bagus ya bang? saya soalnya nggak tertarik untuk nonton. males abis. dulu pas episode perdana, pernah sekilas nonton. tapi begitu nonton sedikit, pas adegan yang menurut saya gak asyik. jadi sampe skg, saya males nonton lagi. pas sekilas nonton pun, cuma buat liat wajah jeng dian beberapa detik, terus tak ganti lagi….hehehehehe

btw, lebaran mudik ke kampung bang?
btw lagi, sekalian mau mengucapkan ….. selamat hari raya Idul Fitri. Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Minal aidin wal faizin. mohon maat atas segala salah dan khilaf, yang sengaja maupun yang tidak sengaja, kata-kata yang menyinggung perasaan, dan sebagainya.

hoooorrrreeeeeeeeeeeeeeeeee……….muuuddddiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkk

22 10 2006
IndraPr

Pak JaF mudik tidak? Kalau tidak mudik, apakah berminat ikut kopdaran di VivoCity, sehari setelah lebaran?🙂 Silahkan klik disini untuk informasi lebih lanjut.🙂

22 10 2006
paman tyo

salam untuk si kumis.
selamat idul fitri untuk anda.
di indon, kalo libur, kegiatan online turun😀

22 10 2006
paman tyo

kumendan jaf kan kayak perwira auri. bisa mendaftar ke biro jodoh.😀

22 10 2006
sa

kirain omongi diri sendiri. ttg pak kumis. emangnya kumismu dikemanain.😆

met lebaran ya, om. salam buat tante n ponakan.
maap lahir batin.

22 10 2006
paman tyo

rumahynya mbak incaran sampeyan itu antara jatiwaringin dan jatimakmur😀

cocok untuk auri😀

23 10 2006
fitri mohan

hehe, setuju sama mas jaf. mosok cuma ketemu si kumis aja udah hebat bener. walahhhh. namanya juga jubir gitu lho.

oot, audacity mau diajarin ke kita2 kapan mas? oh iya, selamat lebaran ya. mohon maaf lahir dan batin.

23 10 2006
Endang

Perasaan sih Tora itu di DTK namanya Bayu…yg Bram itu Fauzi Baadillah…hahahaha…ketauan nih yg nonton sinetron…

23 10 2006
JaF

Irf The Blues Man: Aku ra dadi mudik. Rencana berantakan hehehehe. Salam sama Kebumen yo..

Pak Indra: Insya Allah ya pak.. Pas kebagian mulai tugas hari itu..

Mbah eh.. Paman Tyo: Antara Jatiwaringin dan Jatimakmur? Hayooo.. kok tau.. hayooo….

Elsa: Kumis gue mah bukan buat dipajang hehehe..

Fitri: audacity..? hayoh.. sapa takut hehe

Endang: TOOOPPP…!! Jeli bener si ibu ni.. Maksudnya Bayu bukan Bram.. Sudah tak rubah.. hehe

24 10 2006
-- a metamorphoself of gabrielle

Happy Eid 1427 H!

To my muslim friends…

P.S. The person in the animation (the artist, I think) looks like me!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: