Pak Aep

26 07 2006

aep.jpg

Kenalkan kawan baru saya. Namanya Aep Syaifuddin, biasa dipanggil Pak Aep. Umur 35 tahun. Pekerjaan nelayan dan juga tukang urut panggilan di sekitar pantai Pangandaran. Senin sore, 17 Juli 2006 lalu saat teman-temannya bersiap melaut, dia memilih untuk ‘ngagoyor’ atau memancing dengan cara berendam di laut sekitar 30-40 meter lepas pantai kawasan cagar alam Pangandaran. 

Tidak seperti biasanya, sore itu ia tidak berhasil mendapatkan ikan seekorpun. Ia lalu bergerak semakin ke tengah hingga ketinggian air laut mencapai dadanya. Namun tiba-tiba saja air di sekitarnya surut dengan cepat hingga ia bisa melihat kakinya sendiri. Ini tidak biasa, pikirnya. Ia menoleh ke sekeliling dan betapa terkejutnya ia melihat pulau Nusakambangan yang biasanya nampak di kejauhan kali ini hilang dari pandangan. Lebih terkejut lagi karena dari kejauhan ombak besar setinggi pohon kelapa tiba-tiba datang menyongsong.

Ia pun berlari sekuat tenaga ke arah kawasan cagar alam Pangandaran, beradu cepat dengan suara gemuruh air yang semakin dekat. Sampai di pinggir tebing ia hanya bisa memanjat setengah jalan karena air sudah mendahului. Sekuat tenaga ia berpegang pada akar pohon bakau di sekitarnya. Tubuhnya bergoyang keras ketika air laut pecah menghantam tebing. Entah mengapa, yang pertama terpikirkan di kepalanya adalah adzan. Sambil berpegang kuat pada akar pohon bakau, sekuat tenaga ia meneriakkan adzan berulang-ulang. Sekitar 40 menit ia tak bisa berbuat apa-apa ketika tubuhnya berulang-ulang dihantam pecahan air. Ia hanya berpegang sekuat tenaga sambil terus meneriakkan adzan, menggantungkan hidupnya pada Gusti Allah..

Pak Aep adalah salah satu saksi yang mengalami langsung berhadapan dengan gelombang tsunami besar yang melanda Pangandaran dan sekitarnya sore itu menyusul gempa bumi hebat sekitar sejam sebelumnya. Ia termasuk beruntung karena rumahnya jauh dari pinggir pantai dan istri serta ketiga anaknya selamat. Namun kini ia tak tahu harus berbuat apa untuk menyambung hidupnya. Para nelayan tak bisa melaut karena kehilangan kapal bahkan banyak temannya yang hilang. Rezeki dari memijat juga tidak bisa dijalani karena Pangandaran tidak lagi didatangi para tamu yang biasa berlibur ke sana. Toh ia hanya bisa memasrahkan hidupnya pada Allah yang sudah membantunya lolos dari terkaman gelombang air dahsyat.

Lima hari setengah peristiwa tak terlupakan itu, saya mengajaknya berjalan-jalan ke pinggir pantai tempat ia berjuang menghadapi maut. Tidak ada rasa trauma bahkan ia bisa tertawa-tawa menceritakan semua yang dialaminya. Namun ketika sore itu ia kembali mengumandangkan adzan di pinggir pantai, tangisnya pun pecah. Dengan terbata-bata ia menceritakan betapa beruntung dirinya karena Gusti Alloh yang punya kuasa masih melindunginya. Ia teringat pada ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan apa yang akan terjadi pada mereka kalau saja Allah berkehendak lain. Dibalik rasa syukurnya, ia tidak lagi terlalu memusingkan soal bagaimana ia harus memberi makan ketiga anaknya. Sudah diselamatkan saja sudah beruntung, katanya. Soalnya lebih dari 500 orang di sekitar Pangandaran hari itu harus meregang nyawa. Toh ia percaya bahwa Allah akan menunjukkan jalan pada untuk ke depannya nanti.

Kalaupun ada satu hal yang diinginkannya saat itu hanyalah sebuah sepeda. “Sepeda yang saya pakai waktu memancing hilang kebawa tsunami. Padahal itu punya anak saya. Anak saya nangis terus cari sepedanya..

Bagi kita harga sebuah sepeda mungkin tidak terlalu berarti. Tapi bagi Pak Aep sepeda mini baru yang hilang itu adalah segalanya karena ia membeli dari hasil menyisihkan rezeki melaut yang hanya sekitar 10 sampai 20 ribu rupaih perhari untuk menyenangkan anaknya yang masih kelas 5 Sekolah Dasar.

Mungkin sekarang sepeda itu di tengah laut.. hehe..” katanya sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya masih basah namun senyum tetap tersungging dari bibirnya yang masih menyisakan sedikit getaran.

Alhamdulillah! Sore itu Tuhan kembali mengajarkan saya ilmu ikhlas melalui seorang Pak Aep.

 

* Ditulis dalam perjalanan pulang ke Singapura, via Bandung, pada 22 Juli 2006. Terimakasih kepada kawan-kawan dari Mercy Relief Singapura yang sudah bersedia dijejali mahluk besar ini dalam misi kemanusiaan mereka hehe..

** UPDATE (27/07/06): Hasil perjalanan singkat ke Pangandaran sudah dipaket menjadi beberapa program radio. Salah satunya adalah untuk acara IMAJI yang mengulas tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat muslim di dunia. Apa hubungannya? Silahkan download programnya di multiply saya atau klik link ini —> (imaji-tsunami-mono.mp3)

aep2.jpg


Actions

Information

14 responses

26 07 2006
IndraPr

Loh, baru pulang dari Pangandaran dan Bandung toh? Mudik kok ngga bilang-bilang…

Ditunggu reportase berikutnya…🙂

27 07 2006
poetry

Menakjubkan bagaimana sebenarnya hidup kita sebagai manusia moderen di kota ternyata lebih mudah dijalankan dibandingkan hidup kawan2 kita di daerah.
Dan lebih menakjubkan lagi banyaknya pelajaran hidup yang bisa kita terima dari mereka. Lucu, terkadang betapa kita mengeluhkan hal2 kecil macam AC dikamar mati dan udara jadi panas🙂

27 07 2006
Sidicx

Kadang saya suka aneh ya Pak….di TV itu yang keluar beritanya tentang selebritis anu yang cerai sama si anu….padahal ga bermanfaat banget tuh berita….

Justru orang-orang hebat macam Pak Aep ini ga pernah di-expose sama media. Padahal dari tokoh seperti Pak Aep ini kita bisa memaknai hidup ini dengan lebih indah.

Ya Allah, Terima Kasih ya…..

27 07 2006
Nana

*speechless*

27 07 2006
yoga

Sorry off topic.
Ini Blognya Rane ya?
Thanks Ran, udah mampir blog gue.

27 07 2006
i er ef

subhanallah………………..
makasih pak aep, atas pelajarannya
makasih bung jaf, udah mau berbagi cerita soal pak aep

*selebihnya, tak bisa banyak berkata-kata. speechless*

28 07 2006
Dewi

Om Jaf, makasih sharingnya. Sederhana sekali yah keinginan pak Aep. Semoga terkabulkan.🙂

28 07 2006
iwok

Allahuakbar!
Pembicaraan yang sangat-sangat menyentuh Om!
Sorry, saya tidak bisa menyambut pas datang ke Pangandaran, mungkin laen kali kita bisa ketemu ya Om Jaf.

28 07 2006
Al

Mengucapkan turut berbahagia untuk para korban tsunami yang telah berpulang ke Rumah Sang Pemberi Segala Hikmah di balik segala bencana.
Untung gak jadi buka warung di Batu Karas….

3 08 2006
Mrs Taz

Tatkala saya mengetahui tentang kejadian tsunami ini. waktu itu saya dalam perjalanan membawa anak saya ke klinik kerana demam. Sebaik sahaja saya sampai dirumah, lalu saya menonton tv untuk mengetahui khabar lebih lanjut mengenai nasib penduduk2 yang tinggal berhampiran tapi malangnye stesen TV lebih memaparkan kisah Siti Nurhaliza dan Dato’ K dari kisah nasib mangsa tsunami …Saya rasa sungguh terkilan. …Saya hanya mampu berdoa agar Allah memelihara semua umat Islam di dunia ini..Hanya Dia yang Maha Mengetahui disebalik kejadian2 ini.

9 08 2006
Riyogarta

OOT: “Ohhh ini toh tampangnya Jaf” hehehe😀
Btw, saya baru tahu nih kalo Jaf pindah rumah, abis udah lama gak blogwalking.

15 08 2006
sand

sangat menyentuh, terimakasih postingannya

3 01 2007
las vegas pedestrian accident lawyer

las vegas pedestrian accident lawyer

Your post is on target. Keep it up.

30 07 2008
si pantul

wew

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: