Di Persimpangan Jalan

29 07 2005

Jujur saja, saya bukan pengagum Goenawan Muhammad. Tak perlu lah saya jelaskan mengapa, karena hanya akan penuh dengan subjektifitas ala saya yang belum tentu terbukti benar oleh mereka yang mengaguminya atau belum tentu ada manfaatnya bagi orang lain. Tapi membaca “Catatan Pinggir”nya berjudul “Ahmadiyah” pada Tempo edisi 31 Juli 2005, saya merasa menemukan sesuatu jawaban atas keresahan, tepatnya kemarahan saya pada sekelompok orang yang berani-beraninya mengatasnamakan umat Islam, untuk melakukan tindakan kekerasan pada kelompok lain, kelompok yang kebetulan punya penafsiran berbeda tentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW, agama yang di anut dan ditafsirkan oleh konon hampir sepertiga masyarakat dunia, termasuk –insya Allah- saya.

Mas GM –begitu katanya ia biasa dipanggil- memulai tulisannya dengan mendeskripsikan pembantaian terhadap umat muslim Bosnia oleh pasukan Serbia dan Mentenegro yang terjadi di tahun 1992. Peristiwa ini, tuturnya, tidak membuat yang dianiaya punah, dengan atau tanpa iman yang teguh. Bahkan juga hanya membawa kepuasaan sesaat pada para pelakunya yang justru kemudian menerima kutukan dan hukuman.

Peristiwa ini menurutnya selalu berulang dalam sejarah manusia. Pelbagai anasir dalam agama –tulis GM- apapun ekspresinya, membentuk valensi yang berubah-ubah sebagai sebuah kekuatan. Ia bersifat “X” ketika pemeluknya ditindas dan bersifat “Y” ketika pemeluknya menindas.

Mas GM juga –dan ini adalah salah satu kebolehannya- mengutip Sajak penyair Inggris terkenal, William Blake yang berjudul “The Tiger”1 yang menggambarkan betapa kemahakuasaan Tuhan telah menyelamatkan domba yang lemah, tapi pada saat yang sama juga membuat macan yang ganas tampil gagah. Blake, menurut penafsiran GM, ingin menunjukkan bahwa Tuhan selamanya akan ditafsirkan oleh manusia. Namun justru karena itu, tulisnya :

Agama, di kancah pemeluk yang kuat dan berkuasa, dengan gampang membuka godaan untuk memilih Tuhan sebagai sang pencipta si raja hutan: “Tuhan yang menghadirkan kekuasaan, kecurigaan, dan kekerasan sebagai kelebihan mahluk-Nya” 2

Sikap ini –ini penafsiran saya- menunjukkan bahwa selamanya kita sebagai manusia akan selalu dilanda kegelisahan justru karena kita selalu merasa gagal menjadi seperti Tuhan yang Maha Sempurna karena memang kita tidak sempurna. Kegelisahan, atau dalam bahasa GM kecemasan, itu bisa mewujud dalam berbagai bentuk, mulai dari sikap pasrah, ikhlas, nrimo atau apapun istilahnya, atau bahkan dalam bentuk kemarahan yang meledak-ledak karena merasa orang lain tidak menghargai upaya kita untuk mengenal Tuhan dengan lebih baik.

Pengalaman hidup saya -yang mungkin belum seujung kuku Mas GM- menunjukkan bahwa sifat-sifat Tuhan adalah perwujudan ideal dari sifat manusia. Karena itulah manusia selalu berusaha untuk paling tidak menyamainya. Dan Mas GM telah kembali mengingatkan saya akan kenyataan itu. Sama seperti ketika Pak Sapardi Djoko Damono mengingatkannya pada saya lewat “Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta”nya 3, atau ketika saya ngobrol dengan Pak Wagisran, Tukang Bakso yang biasa lewat di depan rumah saya 4.

***

Nah, anda mungkin akan menganggap saya ini munafik dengan mengaku bukan pengagum Goenawan Muhammad, tapi pada saat yang sama mengaku menemukan sebuah jawaban dari tulisannya.

Kalau memang ada berpikiran demikian, ya silahkan saja. Itu hak anda, hak semua orang untuk menafsirkan tulisan saya. Namun saya juga berhak untuk mengatakan bahwa justru di sinilah inti pesan yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini, yakni bahwa: “Dalam perjalanan hidup, kita mungkin sesekali akan bersimpangan jalan dengan orang lain yang mungkin berbeda pandangan, berbeda kepercayaan atau berbeda kehidupan. Namun, ibarat pelangi, perbedaan adalah keindahan. Perbedaan adalah rahmat, kalau kita bisa melihatnya dari sisi itu. Karena dalam diri setiap manusia ada kelebihan yang bisa kita serap untuk memperkaya diri kita sendiri dan kekurangan yang bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita.”

Ah, itu mah kata-kata nya A’a Gym.

Bisa jadi. Soalnya saya juga sering bersimpangan jalan dengan beliau, walau kadang belum bisa ‘berjalan bersisian’ dengan beliau.

Sekarang, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, izinkan saya untuk kembali melanjutkan perjalanan hidup saya. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali bersimpangan jalan dengan Mas GM, Pak Sapardi, Pak Wagisran, A’a Gym, dengan para habib yang memimpin penyerangan terhadap Kampus Ahmadiyah di Bogor, atau bahkan dengan ajaran Mirza Ghulam Ahmad yang sampai sekarang belum bisa saya pahami. Siapa tahu. Bukankah dunia ini cuma selebar daun kelor, kata ungkapan.

Makasih, Mas Goen.

Permisi..

________________
Catatan Kaki:

1. William Blake adalah penyair Inggris yang hidup antara tahun 1757 – 1827. Sajaknya yang dikutip oleh GM antara lain bisa ditemui di sini: http://165.29.91.7/classes/humanities/britlit/97-98/blake/POEMS.htm#TYGER

2. ”Ahmadiyah” Catatan Pinggir Goenawan Muhammad, Tempo edisi 31 Juli 2005.

3. Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta (Sapardi Djoko Damono)

/1/
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
/2/
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
/3/
MencintaiMu harus menjelma aku.

4. Sebuah tulisan dari blog saya yang hilang dahulu kala yang bercerita tentang obrolan saya dengan Pak Wagisran yang sekarang beralih jadi penjual tahu dan masih sering mampir di rumah saya. Ada satu ucapannya yang masih saya ingat hingga kini : “Tuhan itu adil, mas. Rezeki ndak bakal ketuker. Lha wong maling saja kerjanya serius, masa saya ndak”


Actions

Information

5 responses

31 07 2005
durin

tiap org memang punya jalan dan jalur sendiri-sendiri ya Mas. Sekali berseberangan, bukan berarti selamanya berseberangan. Sekali beriringan juga belum tentu selamanya beriringan. Malah bisa jadi ada juga yg sebenernya sejalan dg kita cuman kita belum kenalan dengan mereka, jd belum tau kalo bisa saling menebeng🙂
OOT: saya baru tau kalo Mas Jaf pernah mampir di blogspot saya. pdhal dah lama bgt ya Mas. Blog asli saya bukan di sana. Account blogspot itu dibikin spy bisa nulis komen di blogspot. Jd, mohon dimaafkeun ya Mas!

durin.pitas.com
(lg libur ngeblog)

2 08 2005
zuki

Pak JaF, izinkan saya untuk berbeda pendapat ..🙂. Benar bahwa setiap orang punya jalan dan jalur sendiri-sendiri. Benar bahwa dunia ini bersifat relatif, tergantung satu sama lain. Namun menurut saya ada kebenaran hakiki, kebenaran yang dimiliki oleh Prima Cause, Sebab Utama hidup dan kehidupan ini.

Menurut agama yang saya anut, ada aturan-aturan jelas yang telah diberikan kepada kita. Meski kita masing-masing menempuh jalan sendiri-sendiri, kita melakukannya dengan aturan yang telah digariskan dan dengan tujuan akhir yang sama (mungkin ini kemudian ada hubungannya dengan posting pak JaF sebelumnya soal hidup dan tujuannya).

Benar pada akhirnya kembali kepada sang manusia yang mungkin khilaf dalam menjalankan aturan ini. Namun, setidaknya menurut saya kita perlu meletakkan konsep adanya kebenaran hakiki dalam topik ini …. Dengan demikian harapan saya kita bisa ‘mengukur’ situasi ini dengan alat ukur yang sama …

Maaf jadi kepanjangan dan untuk berbeda pendapat … good topics though!😀

3 08 2005
JaF

DURIN: Thanks commentnya. Ya mudah2an kita se ‘jalur’ ya. Kalaupun berbeda, ya ndak masalah toh..? Dimaafkeun.. hehe

PAK ZUKI: Permintaan maaf untuk berbeda pendapat diterima.. hehehe… Sebenarnya tidak berbeda pak, saya pikir. Saya posting tulisan ini dan juga tulisan yang lain yang menyangkut agama, ketuhanan dan spiritualitas dengan dasar dan kepercayaan pada sebuah kebenaran hakiki seperti yang mungkin Pak Zuki maksud ya (mudah2an sama maksudnya). Mungkin saya ‘took for granted’ bahwa semua orang akan tahu itu. hehe.. maap.

Namun menurut saya, dan itu tercermin dalam tulisan saya ini, bahkan untuk kebenaran yang hakiki itu pun sering ditafsirkan berbeda. Alat ukur yang seharusnya standar itu akhirnya jadi nggak standar.

Anyway makasih sudah posting. Senang rasanya punya teman diskusi soal hal seperti ini.

Buat John Doe: hehe.. maaf saya sebut demikian karena nggak mau namanya dicantumkan.

Makasih sudah kirim email ke saya. Yap, mungkin kita berseberangan jalan ya. Tapi saya berdoa semoga suatu saat kita akan bersimpangan jalan, berbagi bekal perjalanan atau sekedar bertukar senyum, lalu melanjutkan perjalanan masing2.

7 08 2005
zuki

pak JaF, terima kasih comment baliknya … senang saya dengan cara pak JaF menanggapinya … keep on blogging!

7 08 2006
wingoke

Wahhh…. berat ngebacanya Pak JaF,

Kalo aku sendiri sich, (sebenarnya) nggak peduli terhadap segala “perbedaan” yang selalu ada di masyarakat kita. Cuma kalo sudah bicara tentang aqidah yang haqiqi rasa-rasanya nggak rela dech, jika ada beberapa orang yang berusaha menafsirkan aqidah yang baku berdasarkan al qur’an dan hadits, sesuai dengan pendapatnya sendiri. Kemudian dengan segala kemahirannya bertutur kata bisa menyihir orang bahwa pada intinya keinginan menuju Tuhan itu satu cuma jalannya yang berbeda-beda.

Cuma ketidakrelaan saya tersebut cuma saya pendam saja, soalnya takut malah semakin menjadi bikin “panas” suasana.

Oh ya Pak JaF, thanks pernah mampir di blog saya, dan terus terang yang dikomentarin kemarin bukan karya saya, makanya saat ini tulisan tersebut saya hapus.🙂

nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: