Gie: Yaaa, gitu deh!

14 07 2005

Nangkep nggak lo?
Yaaa, gitu deh!

Sekelumit dialog ini samar terdengar di sela-sela keramaian orang-orang, beberapa diantaranya anak-anak muda, yang tengah beringsut pelan, menelusuri lorong berdinding biru muda, menjauhi pintu keluar Teater 4, keluar ke halaman bioskop Megaria, Jakarta.

Yaaa gitu deeeh??? Dasar anak kemaren sore! Produk generasi instan! Nggak menghargai sejarah! Kampungan! Setan-setan kapitalis! Budak-budak mal..!!

Saya sudah bisa menebak kurang lebih bakal seperti itu reaksi saya mendengar dialog di awal tadi. Reaksi khas yang muncul dari gabungan antara sikap romantisme sejarah dan kesombongan khas yang sering muncul pada diri sebuah generasi yang merasa memiliki lebih banyak lembaran sejarah hidup (baca: tua) sehingga merasa jauh lebih hebat, lebih tahu dan merasa hidup di jaman yang jauh lebih bagus dari sekarang (baca: tetap saja, tua!). Namun pandangan dan sikap saya berubah, sekeluar dari bioskop malam itu.

Sejak Mira Lesmana cs gencar mempromosikan film terbarunya, “Gie”, saya memang jadi sering bersikap aneh. Saya misalnya kesal sekali ketika melihat muka Nicholas Saputra muncul di sampul buku “Catatan Seorang Demonstran” cetakan terbaru. Mulut saya pun tersenyum nyinyir ketika seorang anggota mailing list menanggapi posting saya tentang rencana pemutaran film Gie dengan kata-kata “Gie itu apa/siapa, mas?”. Jidat saya bahkan pernah sampai merah karena saya tepuk berulang-ulang di depan televisi. Waktu itu seorang pembawa acara infotainment dengan semangat bercerita bahwa film terbaru yang dibintangi Nicholas Sahputra ini di adaptasi dari sebuah buku berjudul “Gie”. Dengan jidat masih merah saya langsung kirim email ke infotainment itu yang isinya memaki-maki si pembawa acara yang cantik jelita dan untungnya bukan pacar saya. Dan seolah melengkapi keanehan saya itu, tekanan darah saya rasanya mendadak naik ketika membaca salah satu komentar terhadap posting di sebuah blog yang menulis tentang Soe Hok Gie. Komentarnya begini:

pokoknya aku pasti nonton
jarang2 ada film remaja yg bertema perjuangan
itung2 nimbulin jiwa nasionalisme
niko keren lagi🙂 hihihi

Jangan tanya kenapa tekanan darah saya mendadak naik. Itu hanya masa lalu. Saya sekarang justru merasa harus minta maaf kepada si penulis komentar di atas, kepada si pembawa acara infotainment, kepada kawan-kawan di sejumlah milis serta termasuk juga kepada Nicholas Saputra –kalau suatu saat saya bisa bertemu dengannya-.

Kenapa?

Saya merasa film ini bukan ditujukan kepada saya. Gie buat saya lebih ditujukan kepada generasi yang tak pernah mengenal sosok aktifis mahasiswa itu. Generasi yang membalas posting email saya dengan pertanyaan “Gie itu apa/siapa, mas?”. Generasi pembawa acara tivi yang menyangka Gie itu judul buku. Generasi yang –saya yakin bukan karena salah mereka- seringkali lebih mementingkan penampilan fisik seorang aktor, ketimbang isi film itu sendiri.

Kepada mereka inilah saya persembahkan review film yang sangat subjektif ini. Kepada merekalah saya ingin minta maaf dari dasar hati yang paling dalam karena ketimbang membantu memperkenalkan mereka kepada tokoh yang luar biasa ini, justru malah saya jadikan bulan-bulanan kesombongan pengetahuan dan pengalaman saya yang masih seujung kuku. Kepada mereka lah saya ingin berbagi sedikit cerita tentang Soe Hok Gie dengan harapan akan bermanfaat bagi mereka yang ingin menonton film ini, lebih dari sekedar menyaksikan sosok ganteng Nicholas Saputra.

Oya, sekali lagi maaf. Tidak ada maksud merendahkan pengetahuan siapapun tentang Soe Hok Gie. Saya justru ingin mempersembahkan tulisan berikut ini untuk mereka yang mungkin sama sekali belum kenal dengan sosok aktifis mahasiswa itu.

Oke kita mulai.. Klik DI SINI, atau copy paste alamat ini:

https://anotherfool.wordpress.com/2005/07/14/gie-sebuah-mudah-mudahan-pengantar-nonton/

.


Actions

Information

8 responses

18 07 2005
scorsag

Hmm, grumpy old man! Jangan keburu marah melulu kalau melihat satu fenomena. Sayang kan kalau hal itu malah kemudian mengaburkan pandangan kita.

19 07 2005
paulus

saya belum liat film-nya, tapi seperti anda juga, saya sempat “eneg” lihat sampul buku Catatan Seorang Demonstran yang dipasangi foto Nikolas. Mungkin itu pengaruh ego pribadi ya, yang merasa tersinggung ketika sesuatu yang kita anggap sangat berharga, ternyata sama sekali tidak dikenal orang lain.

Tetapi apa yang dilakukan oleh Mira Lesmana patut diacungi jempol. Kalau istilah kawan-kawan dulu, dalam memasarkan sebuah ide, kita mesti “masuk dari pintu mereka”, dan berharap “mereka keluar dari pintu kita”🙂.

Tidak sabar untuk segera nonton film-nya, he he he

14 07 2006
Just Another Fool » Blog Archive » Iya deeh!!

[…] Comments (RSS) « Gie: Yaaa, gitu deh! Mati Muda? » […]

14 07 2006
Just Another Fool » Blog Archive » Gie: Sebuah (mudah-mudahan) Pengantar Nonton

[…] Comments (RSS) « Don’t Give Up ! Gie: Yaaa, gitu deh! » […]

16 07 2006
JaF » Blog Archive » Iya deeh!!

[…] ps: Reviewnya sudah ada jadi. Baca di SINI dulu atau kalau nggak suka basa basi, langsung ke SINI. Banyak sekali yang ingin saya tulis, akhirnya jadinya begini. […]

16 07 2006
JaF » Blog Archive » Gie: Sebuah (mudah-mudahan) Pengantar Nonton

[…] Catatan: Tulisan ini adalah semacam review yang saya persembahkan kepada mereka yang belum atau tidak kenal dengan sosok Soe Hok Gie. Penjelasan lengkapnya klik di sini. […]

2 09 2006
aRdho

hehehe.. jeritan hati seorang veteran ya.. :p

23 11 2006
Lawrance

entah knapa,,, saya kok rasanya agak jijik dengan idealisme,,, idealisme saya adalah pragmatisme,,, coba http://www.toilet-kecil.tk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: