Gie: Sebuah (mudah-mudahan) Pengantar Nonton

14 07 2005

Catatan: Tulisan ini adalah semacam review yang saya persembahkan kepada mereka yang belum atau tidak kenal dengan sosok Soe Hok Gie. Penjelasan lengkapnya klik di sini.

Gie itu siapa/apa, mas?

Gie itu nama orang. Lengkapnya Soe Hok Gie. Bukan.. dia bukan orang Cina atau Tionghoa atau Chinese. Dia orang Indonesia yang kebetulan berasal dari keturunan orang-orang yang ditakdirkan bermata sipit dan berkulit putih, dan mungkin memang punya nenek moyang dari tanah Cina sana. Tapi sekali lagi, dia orang Indonesia, bukan Cina.

Soe atau Gie, begitu nama panggilannya, lahir di Jakarta, tanggal 17 Desember 1942.

Gile, jadul banget! Itu mah angkatan bokap gue!

Emberrr..! Jadul banget memang, tapi waktu muda dia juga seperti kamu, saya dan banyak orang lain. Tidak ada bedanya, tidak ada istimewanya. Dia memang dikenal pintar, sudah berkenalan dengan buku-buku karya pengarang terkenal Indonesia dan dunia dari usia belasan tahun, berani membantah ajaran guru yang dia anggap tidak benar, bahkan pernah nyaris memukuli gurunya yang menyebabkan dia tidak naik kelas. Tapi memangnya tidak ada anak muda jaman sekarang yang seperti itu? Banyak!

Gilee.. Funky banget ni orang kayaknya..

Yo’i, man!. Waktu kuliah di Fakultas Sastra UI, angkatan 60-an, dia dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah tapi anti pengelompokan mahasiswa berdasarkan ideologi politik. Baginya, pengelompokan semacam itu hanya merusak perjuangan mahasiswa dalam menekan pemerintah yang korup dan tidak memperdulikan nasib rakyat.

Wah, kayak sekarang dong ya? Liat aja tuh anggota DPR. Kerjanya minta naik gaji melulu. Padahal banyak anak kena busung laper, polio dll..

Betul. Sama kan keadannya dengan dulu? Dan Gie itu sama seperti kamu yang sudah bosan melihat semua kebobrokan itu. Bahkan Gie itu dulu ikut demo mahasiswa yang menyebabkan Presiden Sukarno jatuh.

Waahh, kayak jaman Suharto dong..

Yo’i. Tapi di luar itu, Gie juga mahasiswa biasa. Suka pacaran, punya teman nge-gang dan sangat doyan naik gunung. Sama persis dengan banyak mahasiswa jaman sekarang, bukan? Sayang dia meninggal pada usia muda, 27 tahun, gara-gara hobinya naik gunung. Tapi bukankah banyak juga diantara kita yang ditakdirkan mati muda?

Iya sih. Banyak yang begitu. Memangnya kenapa?

Ya, intinya saya mau bilang, mulailah mengenal Gie sebagai seorang biasa, karena meletakkan dia sebagai seorang yang sangat istimewa hanya akan menjadi semacam pembenaran bahwa kita tidak bisa meniru semangat hidupnya karena memang dia tidak biasa. Itu salah! Dia adalah anak muda biasa. Dia bukan nerd yang tiap hari kerjanya baca buku sama kuliah. Dia orang biasa..

Salah satu penggambaran favorit saya tentang Gie ditulis oleh John Maxwell, seorang professor dari Australia yang pernah menulis thesis tentang dirinya, dan kebetulan dikutip di blog milik Jay:

“Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional”

Sekali, dan sekali lagi, Soe Hok Gie adalah orang biasa, seperti anda, saya dan banyak orang lainnya.

Oke deh, om. Terus..?

Ya gitu aja dulu. Kalau kamu mau kenal lebih banyak, ketik saja Soe Hok Gie di google atau beli “Catatan Seorang Demonstran“, catatan hariannya yang telah dibukukan dan sekarang di cetak ulang dengan sampul bergambar muka Nicholas Saputra.

Nicholas? Aduuuhhh.. gue nge fans berat sama dia!! Itu yang jadi Rangga di AADC kan? Yang kemana-mana bawa buku Chairil Anwar kan? Gue punya tuh bukunya!
Hehehe.. Betul sekali. Lewat AADC (Ada Apa Dengan Cinta) Nicholas pernah memperkenalkan kamu sama Chairil Anwar dan puisinya yang keren itu. Nah, sekarang dia mau memperkenalkan kamu sama Soe Hok Gie. Dialah yang dipilih sama Mbak Mira dan Riri untuk memainkan peran Soe Hok Gie di film Gie.Mmm, pasti ada hubungannya sama buku yang di covernya ada gambar si Nicholas itu, kan?

Ya gitu deh. Buku itu judulnya Catatan Seorang Demonstran, bukan Gie. Gie itu judul filemnya. Jangan tertukar. Isinya ya catatan harian Gie mulai dari umur belasan tahun sampai menjelang dia meninggal. Tapi kisah Gie bukan hanya diambil dari isi buku itu. Selain catatan harian, Gie juga banyak menulis buku lain. Riri Riza sang sutradara juga mewawancarai banyak orang, termasuk Arief Budiman, kakaknya yang tinggal di Australia, dengan teman-teman Gie semasa kuliah, bahkan konon juga dengan seseorang yang pernah dekat dengannya dulu. Konon.. Pastinya sih cuma Riri yang tahu. Nah, hasilnya ya seperti yang bakal kamu lihat di film itu.

Emang ceritanya gimana? Seru nggak?

Nah ini dia. Sebelum kamu nonton film ini, ada beberapa hal yang rasanya perlu di ingat.

Pertama, ini bukan film seperti kisah si Rangga sama Cinta. Ini kisah nyata, yang sebagian besar diambil dari buku Catatan Seorang Demonstran itu. Karena itu saya saran supaya kamu baca bukunya dulu lah.

Maksudnya film dokumenter, gitu? Atau biografi?

Ya bukan juga. Dokumenter atau biografi itu harus berdasarkan kehidupan aslinya seperti apa. Film Gie ini lebih merupakan interpretasi Riri Riza, si sutradara, terhadap kisah hidup seorang anak muda biasa yang bernama Soe Hok Gie. Ini poin kedua yang kamu harus ingat. Film ini kisah nyata, tapi dibuat berdasarkan hasil interpretasi sang sutradara.

Tapi bukan berarti film Gie ini fiksi. Dia diambil dari kisah nyata. Cuma sama si sutradara, ditambahkan juga beberapa unsur lain. Maklum, Gie ini kelewat biasa, kayak kamu dan saya dan kita semua. Cuma ada beberapa bagian dari hidup Gie yang kayaknya sih kurang jelas datanya, sehingga akhirnya Riri harus berimprovisasi.

Misalnya, Gie itu dikenal memang agak tertutup. Di catatan hariannya dia cerita tentang beberapa teman ceweknya, tapi tidak jelas apa itu betul ceweknya atau cuma teman. Karena itu sutradanya menambahkan tokoh-tokoh cewek ini berdasarkan improvisasi dia. Salah satunya adalah anak seorang pengusaha terkenal bernama Sinta yang di film itu dimainkan oleh Wulan Guritno. Dia itu naksir berat sama Gie. Gie juga sempat suka, bahkan di film itu ada adegan kissing antara Gie sama Sinta. Wuuiihh… Tapi, lagi-lagi berdasarkan improvisasi si sutradara, Gie akhirnya nampak lebih cinta sama Ira, teman kuliahnya, yang diperankan oleh Sita (dari trio Rida Sita Dewi). Bicara cewek, di film ini juga sempat muncul Happy Salma yang menjadi seorang wanita P yang disuruh menggoda Gie. Ceritanya Gie lagi dikerjain sama Donny (Indra Birowo), salah satu teman nge-gang nya di kampus. Cuma sebentar sih Happy nonggol, tapi aktingnya, man.. Bikin merinding.. Pasti si Nicholas sempat panas dingin juga tuh. Haha..

Ada juga bagian yang menggambarkan seorang aktifis mahasiswa yang selalu berantem dengan Gie. Tapi waktu Sukarno jatuh, dia jadi anggota DPR. Kemana-mana pake safari dan mobil bagus gaya pejabat.. Itu juga rekaan si sutradara, walaupun dalam kenyataannya orang seperti itu ada.

Yo’i. Sekarang juga banyak orang kayak gitu. Terus ceritanya gimana?

Ya sekali lagi, alur film ini tidak seperti film biasa. Dia lebih merupakan potret-potret atau penggalan kehidupan Gie dari masa belasan tahun sampai masa kuliah, terus jadi dosen dan akhirnya meninggal. Jangan berharap alurnya akan mengalir seperti sebuah film yang ada ceritanya.

Nah, tapi penggalan-penggalan kehidupan Gie itu yang menarik untuk kita ikuti, yang menunjukkan Gie sebagai seorang manusia biasa. Ini poin ketiga yang menurut saya penting kamu ingat kalau nonton film ini. Contohnya, ada adegan Gie yang mau memukuli gurunya karena gara-gara guru itu dia tidak naik kelas. Eh waktu diikuti pulang ke rumahnya, ternyata si guru itu hidupnya sengsara. Anaknya juga masih kecil-kecil. Gie akhirnya kasihan dan batal memukuli si guru.

Penggalan lain yang juga menarik adalah tentang kehidupannya di kampus, hobinya naik gunung, hobinya memutar film asing dan di diskusikan, pertemuannya dengan tokoh gerakan mahasiswa yang kemudian jadi orang terkenal, adegan ehm.. pacaran bahkan adegan dia dengan Happy Salma yang wuiiihhh.. Banyak juga penggalan tentang dia dan buku hariannya.

Oya, penggambaran kehidupan anak muda di film ini juga menarik. Mereka juga udah kenal dugem, kenal nonton bareng, kenal nge date, ngomong jorok dll ..

Oke. Keliatannya asik sih. Ada poin lain yang perlu gue tau?

Yap. Poin ke empat. Waktu nonton film ini, jangan lupa perhatikan unsur settingnya. Cerita itu berlokasi di Jakarta jaman dulu yang masih sepi dan bebas macet. Becak juga masih keluyuran dimana-mana. Tapi karena di Jakarta sudah tidak ada tempat seperti itu, maka lokasinya dipindah ke sebuah tempat di Semarang. Perhatikan pula tempat-tempat menarik yang biasa jadi tongkrongan anak muda jaman dulu. Anak muda dulu ternyata juga sudah biasa nonton film di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) dan Goethe Institute.

Oya, poin ke lima. Kalau kamu suka sejarah, perhatikan baik-baik setting jaman peristiwa ini terjadi, yakni jaman peralihan dari Sukarno ke Suharto. Simak juga peran mahasiswa dalam menggulingkan Sukarno, hubungannya dengan ABRI, serta juga kiprah Partai Komunis Indonesia dimulai dari masa jaya mereka saat dekat dengan Sukarno, sampai masa mereka dicaci maki, bahkan sampai bagaimana pendukungnya dihabisi. Rumah-rumah anggota PKI ditandai, dan anggotanya dibantai. Bahkan teman baik Gie juga jadi korban.

Ada lagi?

Ada. Poin ke enam: Simak baik-baik musik di film ini. Keren abiiisss.. Ada lagu “Gie” yang dibuat oleh Eros ‘SO7’ dan dinyanyikan oleh seorang vokalis asal Jogja bernama Okta. Terus ada juga yang nge-rock, yakni lagunya Bob Dylan, Like A Rolling Stone yang dinyanyikan oleh kelompok asal Bandung Speaker 1st bersama Andi Riff. Mereka juga menyanyikan lagu Mr. Ego yang jadi latar belakang musik waktu para mahasiswa demo. Keren banget. Oya, jangan lupa ada untuk simak lagu Donna-donna. Ini lagu lama banget yang dulu dinyanyikan sama Joan Baez, tapi tambah keren waktu dinyanyikan oleh Sita.

Dan paling akhir: Jangan membayangkan Nicholas akan berperan seperti tokoh Rangga di AADC. Buang jauh-jauh gambaran sosok Rangga waktu nonton film ini.

Tapi tetep keren, kan?

Ya gituu deh!

Maksud nya apa?

Hmm.. nonton aja deh. Nanti cerita ke saya sehabis nonton..

Oke deh..

~~~

CATATAN KECIL PASCA NONTON “GIE”

Gimana? Udah nonton kan? Keren?

Keren abis, man!! Cuma kok Nicholas jalannya gitu sih. Aneh banget!! Apa emang Gie yang asli jalannya begitu?

Ya mana gue tau! Trus ada komentar lagi?

Hmm.. mungkin ini cuma perasaan gue, tapi di beberapa bagian, peran Nicholas kok jadi ngingetin gue sama si.. si.. siapa itu.. itu tuh film yang diperanin sama Tom Hanks.. Mmm.. yang ada coklatnya.. Forrest..

Gump?

Ya… Forrest Gump..

Ha ha ha ha.. Ya gitu deeeehhh!!!

Jakarta, 14 Juli 2005


Actions

Information

14 responses

21 07 2005
jellyjuice

menarik..menarik..ulasannya cukup lengkap..so far saya cuman bisa komentar itu..i’ll come back soon as i’ve watched this movie..hehe, sori ya..btw kayanya JAF berbakat!!

26 07 2005
YNa

sebuah pengantar nonton pelm yg unik, seger dan yahud hehe…
btw pak, saya sempet jd males mo nonton pelm ini krn yg main nicholas lagi.. nicholas lagi.. (*maaf ya dik nicholas :D).

7 09 2006
ripz2

rada2 aneh,…walaupun critane ok & bwt filmnya dkampuzku pula,…tp bnyk adegan yang blm bisa diterima nalar,…kyk ayahnya si Gie (Robby tumewu) ngomong aj pke bayar kalee,..n’ dlm adegan itu g ada Gie yg lg muncak k semeru,..g dliatin matinya np? n pz adegan trakhir naik gunung dia bner sendirian truz koq ktemu han yh???!!! truz kmbali k masa jd kecil lagi,maen2 d laut,…maksudnya apa??? alurnya jd ga jelaz gtu . i’m confuse too…tp adegan yg bikin aq nangis pz ira baca suratnya GIE waduh terharu bgt dh,…tp yg jlz film nya ok koq

19 12 2006
Linda(Palangkaraya)

ASUIII, Aku mendingan nonton film porno. Bisa langsung kawin daripada nonton Gie. Mahasiswa kayak Gie cuman zaman dahulu yang suka demonstrasi, sekarang mereka suka kondom dan kawin. Gie ada adegan ciuman tapi sayang tidak kawiiin sekalian. Gie dikerjain Dony, kasihan banget ya. Anusnya sampai sobek segala. Mangkanya Gie langsung sex sama mr P. Mr P ya ternyata suka juga sama MrP(Happy salma). Gie jadi anggota DPR. Apa tidak ditambahi adegan Gie sex dengan artis Dangdut seperti terjadi antara Yahya dan Eva. Kalau Gie ketahuan ya dapat pecatan. Coba Gie meninggal karena Overdosis Narkoba, munkin ceritanya lebih tragis ya, apalagi ditemani pelacur murahannnn.

3 01 2007
esut

wah, gw sempet beli VCD orisinalnya waktu tahun 2005…pas ditonton…. huuu nggak seru….gw sampe ketiduran di depan TV dan pas pilemnye abis gw pun berteriak …PENONTON KECEWA…KEMBALIKAN UANG KAMI!!!! Sebagai mantan demonstran kayaknya gw malu be’eng nonton tuh pilem, demonstran tuh ga gitu2 amat deh ! lagian secara defacto si Nico itu bukan demonstran (jadi kurang menghayati), yang gw tau demonstran tuh jarang yg chakeups (kecuali gw…he..he). Pas gw nonton metrofiles ttg Soe Hok Gie, kok beda banget ya, Soe Hok Gie di Metro TV itu jago speak2 english, periang, murah senyum, suka ketawa2 sama temen2nya, agak2 ngocol, apalagi pas dia digotong n diceburin ke lumpur sama temen2nya…seru beda banget deh sama di film yang kayaknya Gie itu seurieus banget pemikir beratzz yang seakan menanggung beban dunia.

22 01 2007
kakilangit

crita yang diekspos malah pacaranya… gak seruu…
lebih mengetengahkan sisi lain gie, sebgai manusia biasa, daripada seorang pejuang

25 02 2007
joko

salut buat mira and riri yang dengan berani mengangkat GIE sebagai sebuah film.Indonesia butuh film2 yang bermutu (menurut saya lho, boleh kan) seperti ini.Salut untuk nicholas yang nurunin berat badannya demi peran GIE ini. Mengenai cara jalan nicholas yang aneh kabarnya memang berdasarkan cara jalan GIE yang asli.Riset gitu lho

25 03 2007
miqdam

bang…ada file buku catatan seorang demonstran ga?kl ada minta dunk..terserah, mo versi pdf or word…yg penting bentuk file. soale aku ga mungkin kl beli bukunya. skrg aku lagi ada di mesir, en skrg inibeenr2 butuh buku itubuat resensi..thanks. kl ada kabar ksh tau via email ya!soale aku hampir ga pernah buka halaman ini lagi…:) thanks

13 04 2007
putri

ya gituuuuuuuuuuuuuuu deccccccchhhhhhhhhhhhhhhh…………………………………pokkokknyaaaaaaaaaaaaaa mahhhhhhhhhhhhhhh bagussssssssssssssssssssssssssssssss!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

20 04 2007
nurul huda

jadi gni….

rul dah dua kali nonton gie….
mungkin gara2 agak budek…
jadi pembicaraanya agak kurang jelas.

kalo soal cakep..nicholas saputra kecakepan…

sebenernya aku bangga dengan mahasiswa yang kritis demo trun ke jalan.

TAPI!!!!!! ASALKAN BERPRESTASI!!!!!

BUKANNYA JADI BENALU DI KAMPUS, IP NASAKOM,
DIKEJAR2 DOSEN, BUKAN KRN PRESTASI TP MANG TERLALU KRITIS DAN MUNKIN KEBANYAKAN SOK KRITISISASI………………………..

AGAIN AGAIN AGAIN…………………………………..
bg para pendemo….yg pengen negara ini mengadakan perubahan……..

look at ure self first!

pantes gk?

mending ukir dulu prestasi…trus kan bisa kasih kontribusi!!!

daripada bikin keadaan gk kondusif.
kita mahasiswa…berpikr jg “maha” donk…

yup salut dehhh buat GIE!!!!
satu lagi.. yg bagus, GIE tuhhh PECINTA ALAM!!

look u,,, cinta alam pa cinta mall???
kita generasi selanjutnya man… yg bakal gantiin PENGUASA PENGUASA…

mulailah dari diri kita dulu.

salam buat semua.

HIDUP MAHASISWA!!!!

“NURUL HUDA”

23 04 2007
xodox

ada sebuah rasa dari film ini
rasa memiliki bangsa
yang dulu sempat hilang dari hati ini

12 06 2007
Partijo

Film ini sebetulnya dimulai dengan sutradara yang agak salah tafsir dengan sejarah Indonesia.

Begini ya, Indonesia dijajah dan dihisap bangsa asing yang sangat kuat. Lalu merdeka, sukurnya, salah satunya, karena ada perang dunia II.

Lantas kita merdeka, tapi perang dunia tak pernah berakhir, setelah perang eropa dan perang pasifik, perang dunia malah meluas ke mana-mana dalam bentuk perang dingin.

Dalam perang dingin ini kolonisasi terus berjalan, penjajahan tak pernah mati, mungkin bukan penjajahan secara fisik. Tapi secara ekonomi jalan terus. Belanda, atau negara-negara modal tidak lagi mengatur dan berpemerintahan sendiri di tanah jajahannya, tapi tetap berusaha mengatur pemerintahan pribumi itu.

Sukarno berusaha betul-betul memerdekakan rakyat di negerinya. Itu sebabnya dia bermusuhan dengan negara-negara yang melakukan neo-kolonialisme, termasuk AS, Inggris, dan konco-konconya.

Lalu terjadilah G30S, sebuah peristiwa yang masih gelap. Betulkah ada peran PKI di sana? Apa keuntungan PKI dari gerakan penculikan dan kemudian pembunuhan jenderal-jenderal itu? Mengapa gerakan itu mudah sekali dipatahkan? Siapa yang sebetulnya diuntungkan dengan gerakan itu? Dan seterusnya pertanyaan itu masih mengiang sampai hari ini.

Lalu Soeharto jadi presiden, lengkap dengan rejim militernya. Dan negeri Indonesia, kembali lagi dibagi-bagi untuk investor asing, minyak, tambang emas, hutan, perkebunan, dan seterusnya.

Neokolonialisme itu bernama globalisasi. Dan kita pun malah terjerat utang tak terbayar sampai hari ini.

Di manakah posisi Gie, yang dalam film digambarkan sangat dekat dengan orang-orang PSI? Para perancang Orde Baru itu? Sadarkah dia tentang apa yang dilakukannya?

Bagaimana film ini mengungkap cerita atau pemahaman mengenai G30S? Di mana posisi sutradaranya. Dalam film, mungkin ketidakjelasan posisi itu tergambar dalam adegan ketika Gie ditanya, “Kamu itu kiri atau kanan, sih?” Gie tidak menjawab.

Bagaimana posisi Gie bisa jelas dalam film tersebut, kalau sutradaranya sendiri, Riri Riza, tidak memposisikan dirinya sendiri dalam sejarah panjang Indonesia.

8 07 2007
shizukana

Hai salam kenal ya !
Masih penasaran nih, coz belum nonton filmnya + belum dapatin bukunya.
Mohon berikan infonya di manakah saya bisa mendapatkannya. karena setelah dicari di beberapa toko buku, sudah tidak beredar lagi.
Thx

23 01 2008
stevenerst

SUMMPAH NICHOLAS-NYA KEREN
SOE HOK GIE NYA PUN MELEGENDARIS

GAK NYESEL AMPE 100X NONTON TUH FILM AND BACA BUKUNYA DIBOLAK-BALIK AMPE KUMEL COOYYY…..

ANAK MUDA JAMAN SEKARANG CUMA BISA KOMENTAR. BUT PERJUANGANNYA NIHIL….!!! NOL BESAR.
KARYA SOE HOK GIE

> Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

(CSD, Selasa, 11 November 1969)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: