Sensitif

4 07 2005

Anda tahu artinya sensitif? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua halaman 916, sensitif itu artinya:

    1. Cepat menerima rangsangan; peka: alat perekam itu sensitif sekali. 2. Mudah membangkitkan emosi: tiap konflik antar suku yang timbul harus diatasi karena masalah kesukuan sangat sensitif.

Sementara itu dari hasil pencarian di dictionary.com, sensitif itu artinya memperhatikan atau mempertimbangkan sikap, perasaan atau keadaan dari orang atau pihak lain.

Maaf, bukannya mau sok menggurui, tapi pagi ini saya makin dibuat sangat amat khawatir bahwa kata-kata itu kini semakin tidak bisa dipahami artinya. Lebih khawatir lagi saya karena merasa banyak kata-kata lain yang kini semakin kehilangan makna saat ia digunakan dalam berbahasa sehari-hari.

Betapa tidak khawatir? Kabar burung yang saya dengar beberapa hari terakhir ini ternyata dibenarkan oleh beberapa surat kabar pagi ini. Ya, anggota dewan kita yang -sangat amat super duper maha- terhormat akan mendapatkan kenaikan tunjangan untuk para anggota dan pimpinannya.

“Oh ya, tolong dipahami, yang naik itu bukan gaji ya. Tapi tunjangan untuk memperlancar kerja anggota DPR!” Begitu kurang lebih komentar seorang petinggi di gedung rakyat kita. Wah, makin khawatir saya. Saya dari dulu tidak pernah bisa menemukan beda makna antara tunjangan dan gaji. Terus terang saya bingung. Bahkan saya pernah nyaris gila gara-gara otak saya dipaksa bekerja ekstra keras waktu tahu bahwa dari salah seorang anggota Komisi Pemilihan Umum bahwa ternyata mereka tidak mendapatkan gaji. Yang mereka dapatkan tiap bulan hanyalah “Tunjangan Uang Kehormatan”.

Ya, patut rasanya kalau saya bingung. Saya sudah tanyakan hal ini ke saudara saya yang pegawai negeri dan punya jabatan lumayan hebat. Ternyata menurutnya memang tunjangan itu berbeda dengan gaji. Gaji itu, katanya adalah apa yang kita dapat setiap bulan dari hasil kerja atau jerih payah kita. Sementara tunjangan itu katanya adalah uang yang diberikan sebagai sokongan atau tambahan pendapatan di luar gaji. Biasanya ini karena pekerjaan kita. Misalnya tunjangan untuk jabatan, atau tunjangan kesejahteraan keluarga, tunjangan untuk perjalanan ke luar kota dan lain sebagainya. Oh, padanlah dengan penjelasan pejabat DPR di atas tadi.

Tapi saudara saya itu jadi ketularan bingung begitu saya masih belum menemukan dimana bedanya? Bukankah tunjangan dan gaji itu juga bentuknya uang dan diterima secara rutin. Mengapa tidak sekalian disebut gaji? Ujung-ujungnya saya pun diusir oleh saudara saya tadi. “Aku banyak kerja,” katanya ketus sambil kembali duduk di belakang meja kantornya, mengangkat kaki, lalu membentangkan koran menutupi mukanya yang mulai memucat.

Nah, anda mau membantu menghilangkan kebingungan saya? Atau mau ikut bingung bersama saya? Oke, coba saya kutipkan bagian berikut ini yang saya ambil dari harian Kompas edisi pagi ini, (04/07/05) di halaman satu:

    Kenaikan tunjangan yang dimatangkan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR bervariasi, yakni 72-85 persen atau sekitar Rp. 65 juta per bulan untuk Ketua DPR dan 34 persen atau sekitar Rp. 38 juta perbulan untuk para anggota.

Nah, kalau menggunakan pemahaman saudara saya tadi, berarti konsep tunjangan adalah untuk menyokong gaji pokok. Lah, kalau tunjangannya Pak Agung Laksono saja sudah 65 juta perbulan, gajinya beliau berapa ya?

Ah sudahlah. Saya coba berpikir positif saja seperti saran A’a Gym: Mungkin ini hanya kekeliruan permaknaan, atau malah kekeliruan pengutipan dari surat kabar yang bersangkutan. Mungkin pula saya yang tidak paham dengan urusan administrasi seperti ini. Atau malah jangan-jangan otak saya volumenya terlalu kecil sehingga tidak bisa memahami hal seperti ini. Mungkin saja toh?

Ya kalau memang begitu, sekali lagi maaf. Seperti saya bilang di awal, saya cuma sangat khawatir bahwa makin banyak orang yang sudah tidak bisa lagi memahami makna kata-kata yang sering digunakan sehari-hari. Mungkin sudah waktunya benda yang bernama kamus itu dicetak berjuta-juta eksemplar dan dibagi-bagikan kepada seluruh instansi pemerintah, swasta, sekolah dan rakyat kebanyakan.

Mungkin dengan cara itu kita bisa lebih meningkatkan lagi pemahaman tentang makna-makna kata dan lebih dari itu dapat menggunakannya dengan tepat dalam bahasa sehari-hari.

Nah, setelah kita kembali pandai menggunakan kata-kata dengan tepat dalam berbahasa, barulah kita melangkah ke tahap berikutnya, yakni melatih indra penglihatan kita. Buat apa? Nah ini kekhawatiran saya yang berikutnya:

Saya khawatir bahwa banyak diantara kita yang sudah lupa bagaimana cara menggunakan indra penglihatan dengan baik. Bahkan saya takut bangsa kita ini tengah dilanda penyakit kebutaan kronis.

Maaf, bukannya saya sok tahu, tapi kenyataannya demikian. Coba lihat sekeliling kita. Coba lihat televisi lah, kalau anda malas keluar rumah. Banyak anak-anak yang sakit bahkan mati karena kelaparan atau terkena penyakit seperti polio dan muntaber. Banyak anak gantung diri karena tidak bisa bayar uang sekolah yang cuma beberapa ribu perak. Tapi herannya, kenapa mereka seolah tidak nampak ya?

Oke, mari kita berpikir positif lagi. Mungkin inilah alasan mengapa dengar-dengar kabar ada sejumlah anggota dewan kita yang -sangat amat super duper maha- terhormat ingin memanfaatkan masa reses mereka bulan ini dengan pergi ke Amerika Serikat dan Perancis. Soalnya konon di sana ada rumah sakit khusus untuk pengobatan mata dengan teknologi super canggih.

Oya pak, dengar-dengar pula, di kedua negara itu ada rumah sakit khusus untuk pengobatan masalah syaraf yang sangat bagus. Tolong di cek sekalianlah pak. Jangan lupa tanyakan biayanya dan cara pergi ke sana. Siapa tahu kita semua bisa memeriksakan kenapa akhir-akhir ini syaraf perasa kita semakin tidak sensitif..

Bekasi, Awal Juli 2005.


Actions

Information

7 responses

4 07 2005
Mas Tom

Hehehehe… kalo di mata saya, analoginya kurang lebih begini:

gaji = income
tunjangan = income

Jadi gaji dan tunjangan itu pada prinsipnya sama.

Kalo di mata anggota dewan:

gaji = income
tunjangan = income

Tapi gaji dan tunjangan itu pada prinsipnya berbeda.

Saya nggak tahu siapa yang lebih waras kalo begini… :p

4 07 2005
sa

jap, itu gambar kondom kah?😆
*maaf mata saya sensitif* .. nah masuk ga kata sensitif itu di sini?

menurut daku sih kata gaji dan tunjangan itu artinya beda. ‘arti’ loh. sedangkan praktek itulah yg menyamarkan perbedaan arti tsb.
bandingkan dengan THR yang Tunjangan Hari Raya, yang diberikan hanya pada saat hari raya. kan benar2 mendukung ‘arti’ dari kata tunjangan itu. menunjang adanya hari raya.

jika kemudian ada tunjangan2 lain.. ya makin tidak jelaslah perbedaan yg ada.

ngomong2, tunjangan itu di-PAJAK-i juga ga? besarnya pajak berapa?
kalo iya, yo wis, jaf. nda usah binun. toh dipajaki. asalkan pajaknya setara dg jumlah tunjangan. dan pajaknya utk kesejahteraan rakyat.

6 07 2005
udung

itu dia, untuk menghindari pajak makanya ganti jadi tunjangan. lom juga kelihatan kerjanya udah mintak tunjangan, padahal beberapa bulan lalu sempet adu tinju! payah…!!!

7 07 2005
Ozzie

Yup, emang mau naik katanya. Ck ck ck, udah ada Tsunami, terus busung lapar, trus insiden pemulung yang harus ngebopong anaknya yang meninggal, trus virus polio, skandal di bidang pendidikan, korupsi yang masih amat sangat tinggi, mark-up tender – tender pemerintah, BBM yang abis gara – gara tikus – tikus got di Pertamina…

Ga habis pikir, mereka memang memilih timing pada waktu yang sangat ‘tepat’.

12 07 2005
paulus

mau gaji kek, mau tunjangan kek, ujung2nya tetap sama, take home pay. Jadi daripada para anggota dewan yang terhormat ribut-ribut mempersoalkan gaji dan tunjangan, mbok ya dibikin jadi pendapatan akhir bulan ajah.

Mungkin perlu dibikin survey, pendapatan bulanan para anggota dewan, dibagikan dengan pendapatan per kapita orang Indonesia. Jadi kira-kira bisa ketauan, satu orang anggota dewan itu gajinya sama dengan gaji berapa orang indonesia.

ah tapi kan pendapatan per kapita nggak menunjukkan kondisi sebenarnya?

Atau mungkin harus dibagi dengan upah minimum regional di Jakarta, jadi bisa ketauan gajinya anggota dewan itu sama dengan gaji berapa orang buruh itu?

waduh, gua ngomong apa sih? ha ha ha

14 07 2005
Anonymous

wah gambar kondom mu bikin aku tambah mual2 nih hehe.
makasih ya udah susah payah nitipin CD ke zuhdi. meski pas zuhdi nengok aku dia belom bongkar2 barang bawaan tapi aku sudah seneng duluan karena cepat atau lambat kiriman bakal ada.
maksih ya jaf.
doakan aku biar gak mual2 bgini

-maknyak-

20 06 2013
andri

sensitif= mudah hidup/ mudah bergerak

kalo menurut saya
gaji= ya gaji tiap bulan yang harus di terima
tunjangan= mungkin lebih ke bonus agar kinerja semakin bagus /lebih semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: