Jakarta 478 Tahun Kemudian

22 06 2005

Dulu, suatu saat ketika tengah bergelantungan dalam bis kota yang penuh sesak dan bau, saya pernah mengeluarkan sebuah sumpah:

“Saya benci setengah mati pada kota ini! Suatu saat saya harus pergi jauh! Kemana saja, asal bukan di kota keparat ini..”

Pergilah saya kemudian. Tidak jauh memang, cuma satu setengah jam dengan pesawat ke arah utara. Ke negara kota yang katanya sering jadi contoh buat membangun kota Jakarta.

Sebulan, setahun, dua hingga lima, benar kata ungkapan: “You don’t know what you got until it’s gone!”. Saya rindu kota ini.

Kini, masih di dalam bis yang tambah sesak dan semakin berbau. Sayapun kembali bersumpah:

“Saya benci setengah mati pada semua manusia keparat -apapun derajat, pangkat, dan jabatannya- yang telah membuat kota ini menjadi semakin keparat!! Terlaknatlah mereka semua!!”

*Sebuah ucapan ulang tahun untuk kota yang tak akan pernah pergi dari hati.

Advertisements

Actions

Information

2 responses

23 06 2005
Anonymous

ya, jakarta….

daku pernah mengalami hal2 yang mirip,
meninggalkan jakarta,
rindu jakarta,

dan sebaliknya,

lalu ku coba mendifinisikan nya mengapa…
juga arti kampung halaman misalnya…

sampe akhirnya ku simpulkan…

kota…
kampung halaman..
adalah …
tempat di mana cinta kita berada …

mungkin istri kita…

geocities.com/ridei_mail

15 10 2006
giffari

depok…
ketika naik motor malam di jalanan depok…
meskipun dingin, seram, ketika angin menembus tubuhku,
tetapi tetap aku cinta depok.
depokku, depok tersayang.

(pura2 jadi penyair gadungan)




%d bloggers like this: