Kasihan Deh, Ayah..

8 06 2005

Image hosted by Photobucket.comSudah lima tahun lebih saya menjadi ayah, dan ternyata dari hari ke hari saya terus berkembang menjadi orang tua yang sangat amat khawatir pada pengaruh lingkungan terhadap anak saya. Setelah cerita ‘Putri Salju yang tertidur karena makan durian’ dan juga ‘tragedi Kue Klepon’, ini ada lagi kisah nyata tentang suka-duka menjadi orang tua seperti saya.

Ceritanya begini. Setiap jaman, setiap generasi, selalu punya bahasa pergaulan sendiri, termasuk istilah-istilah atau ekspresi yang digunakan dalam percakapan. Sejak jaman saya sekolah hingga sekarang, ekspresi-ekspresi percakapan itu selalu berubah-ubah, dan rasanya ketinggalan jaman sekali kalau tidak menyelipkannya dalam percakapan sehari-hari.

Dulu jaman saya SMP hingga SMA, yang paling umum digunakan adalah ekspresi-ekspresi seperti bo’ atau gile bo’, yo’a atau yo’i, do’i, choy, cuek, memble, atau juga ekspresi seperti buset deh! Entah dari mana asalnya, yang jelas dalam setiap percakapan dengan teman-teman, otomatis ekspresi-ekspresi itu selalu terikut dengan sendirinya, atau disengaja supaya tidak terkesan ketinggalan jaman atau anak sekarang mungkin akan bilang jadul alias jaman dulu.

Saya masih ingat bagaimana dulu guru mengaji saya yang betawi asli marah besar karena kami senang sekali menggunakan kata buset atau taelah atau ceileh. Menurut dia buset itu adalah singkatan dari Ibunya Setan. (biasanya penjelasan itu akan diikuti oleh gumaman buset deh dari kami para muridnya, saking kagetnya hehe..) Sementara taela atau ceileh kata guru mengaji saya itu diambil dari kata pertama kalimat La Ilaha Ilallah, yang kita tahu artinya Tiada Tuhan selain Allah. Nah, kata guru ngaji saya, taelah itu berasal dari kata La Ilah, yang artinya tiada Tuhan atau tidak mengakui Tuhan. Ibu saya juga sering mengomel karena tanpa sengaja saya sering membalas perintahnya dengan kata-kata yo’i jek atau oke choy..! (hehe kelewatan sih emang). Tapi mau bilang apa lagi? Daripada nggak dibilang gaul.. Tul nggak, choy? Hehe

Duniapun berputar, jaman berganti. Tibalah saat ketika saya harus berada pada posisi guru mengaji atau ibu saya.

Sudah menjadi kebiasaan ketika bangun tidur, kami selalu bercanda-canda dulu dengan si kecil di atas tempat tidur. Suatu hari, saking serunya bercanda, tanpa sengaja saya terjatuh dari tempat tidur. Melihat saya jatuh, spontan si kecil tertawa dan mengeluarkan kata-kata “Kasihan deh, luh..!”, sambil jari telunjuknya digerak-gerakkan. Usut punya usut, ternyata dia meniru ekspresi kata-kata itu dari salah satu sinetron di televisi.. Saya lupa apa judul sinetronya, tapi di situ digambarkan ada satu tokoh yang selalu sial. Dan setiap kali dia dilanda kesialan, entah jatuh atau tersiram air atau tertimpa pot kembang, maka ada sejumlah tokoh anak-anak di sinetron itu yang akan mentertawai sambil bernyanyi kurang lebih seperti ini “kepompong ulet bulu, kasian deh lu.. “ (koreksi kalau saya salah, maklum jarang nonton sinetron).

Saya langsung marah karena menurut saya sikap seperti itu tidak baik. Pertama, karena orang yang sedang kesusahan -nasihat saya pada si kecil- harus di tolong. Bukan di tertawai, apalagi di ejek dengan kata-kata seperti itu. Kedua, karena tidak pantas memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan lu atau elu. Si kecil pun nurut dan saya yakin dia sering bingung karena teman-teman di sekitar rumah sering sekali menggunakan kata-kata “Kasian deh, Lu!”. Sering saya lihat dia menasehati teman-temannya agar jangan menggunakan kata-kata itu.

Ya,menurut saya ekspresi “Kasiaaan deh, lu” itu memang rada kurang ajar, karena terkesan mengejek kesusahan atau masalah yang sedang di hadapin orang lain. Dalam hati saya ketakutan juga karena ekspresi semacam itu banyak ditemui dalam bahasa sehari-hari, mulai tua hingga muda dan menurut saya hal itu hanya akan mengajarkan perilaku yang tidak pantas padanya.

“Kasiaan deh, lu” mengingatkan saya pada ekspresi seperti “memble aje, mending kece” yang menurut saya juga tidak sopan. Ia juga mengingatkan saya pada ekspresi “cuek aje, bebek aje cuek” yang menurut saya adalah wujud dari sikap individualis. Lebih dari segala ekspresi itu, yang paling saya tidak suka adalah “Emang Gue Pikirin atau EGP” dan “Emang enak!” yang menurut saya benar-benar melambangkan sifat egois dan tidak peduli pada sesama. Kedua kata yang paling saya benci itu kemudian memiliki ‘saudara’ di jaman sekarang, yakni ekspresi “SWGTL atau So What Gitu Looh”.

Gaya sih gaya, ikut trend sih ikut trend, tapi tetap saja harus mengedepankan unsur sopan santun. Karena itulah ketika anak saya sudah mulai kenal dengan semua ekspresi itu, terutama dari TV dan pergaulan dengan teman-teman di sekitar rumah, saya pun sibuk menjelaskan satu persatu padanya betapa ekspresi itu sangat tidak baik dan mengajarkan kita jadi anak yang jahat. Anak saya, walaupun nampak bingung, hanya mengangguk-anggukan kepala. Siapa yang tidak bingung? Lha, oleh ayahnya dilarang, tapi di televisi ia sering digunakan.

Sayapun dibuat tambah kerepotan, karena dari hari ke hari selalu saja muncul istilah atau ekspresi baru yang ditemukan oleh anak saya. Tapi saya pantang menyerah. Saya ingin anak saya menjadi anak yang terbaik, percaya diri, tidak sekedar ikut trend, tapi juga punya sikap. Itulah modal utamanya untuk kelak menghadapi dunia di depan yang pastinya akan lebih keras, lebih individualis. Melihat anak tumbuh menjadi anak yang sopan santun, baik hati dan sesuai dengan apa yang kita ajarkan, rasanya sangat menyenangkan.

Maka betapa bangganya saya ketika suatu hari saat pulang kantor, anak saya menyambut di pintu, memberi salam, mencium tangan, lalu memeluk saya dengan erat. Itulah perasaan ternikmat di dunia bagi para ayah.

Saya pun mencium kening anak saya dan menggendongnya masuk ke rumah, menanyakan kabarnya, menanyakan kegiatannya di sekolah dan di rumah. Karena anak saya sering malas makan, tak lupa saya pun bertanya, “Hari ini si cantiknya ayah makannya pinter, nggak?”

Dengan santai anak saya menjawab: “Yaaaa, gitu deeehh!”

Heh.. kasihan deh, ayah…

**


Actions

Information

3 responses

10 06 2005
Anonymous

wakakkakakaka
kau marah karena kata2 “kasihaaaaaaaaaan deh elu” di ucapkan oleh anakmu kepada kau, ayahnya.
kemarahan itu, menurutku lebih karena harga dirimu sebagai seorang ayah merasa terlewati. iya kan? hihi
coba kau memposisikan sebagai anakmu. pasti gak akan apa-apa.

dan yang terakhir pasti karena KARMA ketika kau kecil jappppppp………..hahaha ngakak dolo ah. kasiaaaaan deh lu jap hihihi

-maknyak-

1 08 2006
Nana

Yah, gitu ajah protes. Gaul dong, Yah:-P

29 09 2006
lila

hahahahhahaa, sama Ne
anak gue Laras juga udah faseh bgt pake istilah2 gaul.
sekarang lagi zaman, minta tolong
“Ma, minta tolong ambilin minum botol ya”
20 detik kemudian ada sahutan
“ga pake lama ya Ma”

gue: #$$%&&^%$#$%$#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: