Izinkan Saya Untuk Tidak Ikut Berbangga

2 06 2005

Image hosted by Photobucket.com“Untuk pertama kali Indonesia masuk 15 besar Miss Universe. Semifinal, man! Akhirnya ada yang bisa kita banggain!”

Begitu isi sms seorang kawan yang tinggal di Bangkok. Sedikitnya hari itu saya menerima 5 sms serupa. Sama-sama ada kata “Bangga”-nya. Ini –seperti anda pasti tahu- berhubungan dengan sosok Artika Sari Devi yang menjadi satu-satunya wanita asia yang masuk dalam semifinal pemilihan ratu sejagat atau Miss Universe 2005 yang memang banyak memicu kembali rasa bangga sebagai sebuah bangsa. Namun dalam kasus ini saya memilih untuk tidak ikut bangga dengan keberhasilan Indonesia di ajang pemilihan tersebut..

Nah, mungkin saat anda membaca sampai di bagian ini, anda akan langsung berpikir bahwa saya ini pasti anggota kelompok agama yang menolak keras pengiriman utusan Indonesia ke pemilihan ratu sejagat. Bisa jadi juga anda menganggap saya tidak nasionalis, tidak patriotis, atau bahkan mungkin anda menilai saya munafik. Kalau dugaan saya itu benar, ya tentunya saya tidak bisa melarang bukan? Silahkan berhenti membaca sampai disini kalau anda tidak berkenan. Tapi kalau mau tahu, ya monggo lanjutkan…

Nah, seperti judul di atas, sekali lagi saya memilih untuk tidak ikut berbangga dengan keberhasilan Mbak Artika. Tidak ada alasan apapun yang mendasari, kecuali bahwa saya dari dulu memang tidak pernah percaya pada konsep pemilihan ratu kecantikan seperti Miss Universe.

Kenapa? Ya, kenapa tidak?

Buat saya, kegiatan miss-miss an itu tidak punya misi yang jelas. Konsep 3B, brain, beauty dan behaviour, yang konon jadi tolok ukur dalam memilih sosok figur wanita yang memiliki karakter kuat pada akhirnya terkesan cuma tempelan belaka.

Dan yang membuat saya lebih tidak setuju dengan ide kegiatan semacam ini adalah karena berkat sorotan media yang luar biasa besarnya, ia pada akhirnya menjadi semacam panutan bagi sosok fisik wanita ideal yang harus tinggi semampai, langsing menjuntai, dan pandai berlenggak-lenggok dengan aduhai. Itulah sosok wanita ideal. Sementara unsur non fisik, mana pernah mereka sentuh.

Akibatnya, ramailah wanita di dunia ini ingin menjadi seperti mereka walau itu berarti harus melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Sementara mereka yang sosok fisiknya bertentangan dari gaya macam mereka ini banyak yang harus kehilangan kepercayaan diri.

Acara pemilihan ratu sejagad ini bagi saya tak lebih dari semacam showcase, lemari pajangan bagi produk-produk kecantikan dan kesehatan, tempat-tempat wisata terkemuka dunia, dan –ini yang bisa jadi kontroversi- tempat memuaskan mata para pria.

Munafik? Ah, tidak juga, rasanya. Saya teramat suka melihat wanita cantik dan seksi, tapi itu hanya untuk konsumsi pribadi. Bukan untuk lantas di umbar dan diberi embel-embel trend, mode apalagi budaya. Konsep semacam Miss Universe bagi saya adalah salah satu manifestasi kekalahan akal budi manusia dengan naluri purbanya. Padahal akal budi itulah yang justru membedakan antara manusia dengan binatang.

Memang harus diakui bahwa pada akhirnya, sang ratu sejagad ini nanti akan menjalankan berbagai macam kegiatan sosial di berbagai belahan dunia. Tapi manfaat itu tidak sebanding dengan kerugian yang dimunculkan dari acara semacam ini. Karena itulah saya memilih untuk tidak ikut berbangga dengan keberhasilan Mbak Artika di Bangkok.

Tidak nasionalis? Wah, Kalau bicara nasionalisme dan kebanggaan sebagai orang Indonesia, saya harus bilang bahwa saya ini produk sekolah di era Suharto. Itu era dimana Suharto dan kroni-kroninya berhasil menanamkan rasa bangga sebagai orang Indonesia yang dimulai dari berbagai macam mata pelajaran dan kegiatan kebangsaan di sekolah-sekolah. Inilah produk generasi yang kalau mendengar Indonesia berhasil di forum internasional, dadanya akan mengembang bangga. Inilah produk yang kalau mendengar lagu Indonesia Raya, apalagi di forum pertandingan internasional akan meneteskan air mata. Dengan kata lain, jangan bicara nasionalisme pada saya karena dari kecil, rasa itu sudah tertanam atau ditanamkan dalam otak saya.

Ini cuma pendapat saya. Anda boleh tidak sepakat, karena perbedaan adalah hal yang biasa dan bukannya semacam penyakit yang memalukan. Kalau berkenan, mohon sampaikan pendapat anda dengan mengklik bagian “komentar” di akhir tulisan ini. Tentu dengan cara beradab, dan bukan dengan mengandalkan naluri purba.😉

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan meniru idola saya, Mpok Minah, yang sosoknya secara fisik jauh dari para miss-miss itu.. Beliau hanyalah tokoh dalam sitcom Bajaj Bajuri yang dalam penafsiran saya adalah sosok wanita yang penyabar, rendah hati, selalu takut menyakiti hati orang lain dan selalu menghargai perbedaan pendapat.

Maaf..
Bukannya saya tidak nasionalis sebagai anak negeri.
Bukannya saya bermaksud menghina dan merendahkan bangsa ini.
Bukannya saya tidak suka melihat wanita cantik dan seksi,
apalagi pakai bikini.
Maaf..
Tapi izinkan saya untuk tidak ikut berbangga diri

Maaaffff..

Ya paling tidak bagi saya meniru cara bicara Mpok Minah jauh lebih baik daripada bilang: “So what, gitu loooohhh!

***


Actions

Information

5 responses

2 06 2005
sa

hehehe… dia juga ikutan ngomongin miss universe.

Akibatnya, ramailah wanita di dunia ini ingin menjadi seperti mereka walau itu berarti harus melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Sementara mereka yang sosok fisiknya bertentangan dari gaya macam mereka ini banyak yang harus kehilangan kepercayaan diri.
** sapa bilang, jaf? tergantung diri wanita itu sendiri. sayah tidak cantik, tp sayah percaya diri. soalnya klo percaya orang lain, bakalan susah.😆

Konsep semacam Miss Universe bagi saya adalah salah satu manifestasi kekalahan akal budi manusia dengan naluri purbanya. Padahal akal budi itulah yang justru membedakan antara manusia dengan binatang.
** jauh bener. trus, yg menang akal budi itu yg kek bijimana?

Maaf..
Tapi izinkan saya untuk tidak ikut berbangga diri

** emangnya perlu minta maaf ya klo ga ikutan bangga. hihi.. sayah mah biasa2 ajah. itu kan cuman kontes2 an, jaf. suka ya nonton; ga suka, ya matiin tipi. (NERUSIN TM! Hoiiiiii.. minta disi***???)😆

6 06 2005
Anonymous

ah, saya dari dulu selalu merasa PD dengan apa yg saya punyai. celakanya sampe sekrangpun saya tak pernah berdandan dan berupaya untuk memperbaiki diri. “mentang2 udah laku,” kata swami saya.
lho kok komennya gak nyambung yaaa

-maknyak-

11 06 2005
bee

hmmm… setuju ama jaf. konsepku sih sederhana: “gw percaya gw ganteng, cuman blom bisa aja ngebuktiin ke orang2” bwahahahaha… :D–>

15 10 2006
giffari

setuju sama om jaf…

23 09 2009
Student

Ada pro dan kontra, ada suka ada benci, ada bangga dan cuek saja, namun miss universe tetap jalan terus sampai sekarang🙂 Kalo saya sih menggap kegiatan itu biasa-biasanya saja, selama saaya tidak punya kekuatan untuk melarang atau melanjutkan. Tapi pernah juga sih melihat acara finalnya, tapi hanya beberapa segmen saja, terutama pas menjawab pertanyaan🙂 Tapi kalo pas acara tersebut ada siaran langsung sepakbola atau acara lain yang lebih menarik, ya langsung pindah saluran TV hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: