Jas, Dasi dan Safari

22 02 2005

“Ingin jadi pejabat yang dicintai dan dekat dengan rakyat? Lepaskan jas dan dasi. Tanggalkan baju safari. Gunakan baju sehari-hari..”

Beberapa kawan yang mendengarkan solusi saya itu kompak terbahak. Bagi mereka masalah negeri ini jauh dari sekedar jas dan dasi atau baju safari. Kalau semua atribut itu dilepaskan, apakah ada jaminan rakyat akan mencintai? Apakah ada jaminan korupsi langsung hilang, perekonomian meningkat, rakyat hidup adil, aman sejahtera? Semua pertanyaan itu mereka berondongkan pada saya. Asap rokok mengepul-ngepul dari mulut mereka..

Okelah. Ini bukan solusi yang brillian memang. Tapi kalau saya pejabat, langkah inilah yang akan saya lakukan pertama kali. Hak saya dong. Yang jadi pejabat kan saya.. Mengapa?

Pertama, mahal! Pernahkah anda mencoba cari tahu berapa biaya untuk membuat satu stel baju safari? Saya pernah. Di tukang jahit kelas bawah saja, untuk buat baju safari harganya sudah ratusan ribu. Tapi kan tidak mungkin seorang pejabat jahit baju di sana. Minimal harus kelas menengahlah. Nah, di tukang jahit kelas menengah di Blok M, satu baju safari minimal satu juta perak. Itu baru safari. Kalau jas satu setel bisa lebih lagi. Nggak percaya? Tanya sendiri..

Pernahkah pula anda tahu berapa anggaran baju pejabat? Saya tahu. Tahun lalu di DPRD salah satu propinsi saja ada anggaran baju yang mencapai 15 juta untuk satu orang wakil rakyat. Anggaran untuk gubernurnya malah dua kali lipat. Mahal, bo’ !!

Kedua, gerah! Pernah anda pakai jas dan dasi atau paling tidak baju safari? Saya pernah dan sumpah saya tidak mau lagi. Kita ini hidup di negara tropis (baca: panas yang bikin gerah). Bagaimana mau berpikir kalau kita sibuk menahan gerah. Kalau saya pejabat, saya mau bisa bergerak bebas tanpa harus kegerahan atau tercekik lehernya oleh belitan dasi dan balutan jas atau safari karena saya tahu tempat saya bukan di ruang sejuk ber AC tapi di bawah sana bersama rakyat.

Ketiga -dan ini yang bagi saya paling penting-, berbeda! Pernahkah anda lihat orang biasa keluyuran kesana kemari pakai jas, dasi atau safari? Pernah? Nggak mungkiiin.. Baju-baju semacam ini hanya membuat kita berbeda dari orang kebanyakan. Padahal kalau saya pejabat, saya mau jadi bagian dari rakyat saya supaya saya bisa tahu seperti apa kehidupan mereka yang menjadi tanggung jawab saya.

Masalahnya, entah siapa yang memulai, tapi jaman ini sudah menjadi jaman simbol. Baju safari menyimbolkan sosok pejabat. Jas dan dasi pasti menyimbolkan pejabat yang lebih menjabat lagi. Inilah yang saya benci.

Karena itulah saya sibuk mengutuki layar televisi waktu melihat sang ‘Presiden Ganteng’ kita menengok korban tsunami di Aceh dengan pakai baju safari. Bukankah itu cuma menjarakkan kita dengan rakyat. Apa salahnya pakai jins dan kemeja? Apa salahnya pakai t-shirt atau kaos polo? Bukanlah lebih enak dilihat, dan akan lebih nampak simpatik?

Di Singapura, beberapa kali saya pernah lihat perdana menterinya membacakan pidato kebangsaan dengan mengenakan kemeja biasa tanpa dasi pula. Saat kunjungan ke masyarakatpun ia hanya mengenakan kaos polo atau kemeja putih. Di Amerika -yang katanya pusat trend dunia- presidennya berkunjung ke rakyat pakai jins dan t-shirt. Malah di jamannya presiden Clinton, dia sering keluyuran lari pagi pakai celana pendek dan kaos.

Memangnya kalau berpakaian seperti rakyat biasa, kita tak akan dikenali sebagai pejabat atau tak akan dihormati rakyat? Bukankah sebaliknya itu akan mendekatkan kita dengan rakyat? Bukankah dicintai rakyat adalah cita-cita pejabat manapun, apalagi kalau menjelang pemilu?

Karena itulah kawan-kawan, sekali lagi saya bersumpah kalau saya jadi pejabat, saya akan tanggalkan jas, dasi apalagi safari. Saya mau pakai baju sehari-hari saja. Toh yang penting rapi.

“Tapi boleh dong sekali-sekali untuk acara kenegaraan atau menerima tamu dari luar negeri. Bukankah pejabat juga adalah simbol negara. Jangan malu-maluin.” Kata seorang kawan saya yang rupanya tertarik pada prinsip saya ini, karena hanya dia yang nampak menyimak omongan saya. Yang lain sibuk dengan rokoknya..

“No! Tidak!”, tegas saya.

“Pernah lihat Gandhi pakai jas? Pernah lihat leher Arafat dibelit dasi? Pernah lihat Khaddafi pakai safari?”, saya mulai berapi-api.

Rrrrinnggg!!!, handphone salah seorang kawan saya berbunyi..

Yes ma’am.. okay.. We’ll be right there..“, kawan saya mengangguk-anggukan kepala sambil cengegesan..

Bos nyari!“, katanya sambil buru-buru mematikan rokok..

Gimana mau jadi pejabat, waktu makan siang saja masih di korupsi!

hehehe..“, kami pun berlarian masuk ke kantor..

-Singapura, Suatu Hari Sehabis Makan Siang-


Actions

Information

8 responses

14 03 2005
Uyet

Ha.. Ha.. Ha..

asli cuman bisa nyengir baca entry ini, ngebayangin ngikutin upacaran 17’an di lapangan, dengan sengatan matahari pagi dan titik titik peluh yang mauli membasahi balutan safari dan jas bapak-bapak itu…

12 04 2005
Hendra

kapan nih jadi pejabat pak Jaf

14 04 2005
Anonymous

Om Jaf .. maap OOT.

Makasih atas ucapan slamatnya ya …
-ITHA-

2 05 2005
gani

Intinya emang di berbeda itu Pak. Banyak pejabat (ngga semua) yg merasa penampilan berbeda dari rakyat tetap dibutuhkan. Berbaju mewah dgn mobil impor utk menunjukkan bahwa mereka itu seorang pejabat, sbenernya bukan spy dihormati tapi mungkin sadar bahwa kalo berpakaian biasa dan hanya dilihat dari kelakuan, akan sulit dibedakan dgn penjahat.

5 05 2005
--ambar--

kita kan ada power syndrome tho. Gimana agar kita terlihat lebih berkuasa. Salah satunya ya…pake asesories itu.Eh manjur koq buat rakyat kecil.–>

15 10 2006
giffari

jadi inget lagu iwan fals..:D

6 03 2007
IWAN

assalammu’aliaikum om jafar.. saya cukup senang dengan pendapat anda..
presepsi orang tu beda – beda nggakmasalah ya om ya…
kalau menurut saya pribadi, pake pakaian jas, dasi, safari itu kan juga selera..
tergantung dari niataan si pemakai sendiri..
pejabat pake jas ya itu memang layak seperti itu toh mereka mampu..selain itu juga kan biar kelihatan rapi, gagah n berwibawa..nah yang jadi masalah adalah dengan berpakaian yang rapi tetapi tidak diiringi dengan komitment dalam bekerja yang rapi, bersih serta jujur. Itu om kalo menurut saya.
aq doain semoga om kesampean jadi pejabat..tapi aq juga pengen om, so doain juga ya…thanks…wassalammualiakum.

10 10 2014
nyahrisss

pak, memakai dasi itu selain diatur dengan perundangan (level …., entahlah),
dibayarin pake duitnya wong-wong cilik mung bisnae mendelik,
juga disosialisasikan dengan membayar ratusan juta tukang bicara lho,
tukang omong, pake bikin sepandoek guedhe gweeedhhhheeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: