Mencari Sebentuk Hikmah

19 01 2005

Ustad yang nampak masih muda itu tengah berkhotbah di atas mimbar di hadapan ratusan umat di sebuah masjid di kota tempat saya tinggal. Suatu hari pada jumat pertama setelah tsunami mencakar-cakar satu sisi besar dari kawasan Asia.

Hikmah. Ia mengajak semua orang untuk melihat hikmah di balik bencana yang merengut nyawa banyak orang itu. Suasana siang yang remang membuat suasana menjadi tambah syahdu. Bersama jemaah lain, saya pun duduk terpekur, larut dalam suasana. Alunan ayat-ayat Quran yang dibacakannya terdengar bak tangisan pilu.

Namun kesahduan yang saya rasakan menjelma menjadi kegundahan ketika sang ustad menyebut-nyebut “kemurkaan Tuhan”” dalam khutbahnya. Gundah itu pun menjelma kesedihan ketika ia kemudian mengaitkan bencana itu dengan kebiasaan orang pamer aurat di pinggir pantai.

Yang membuat saya gundah dan sedih adalah karena pasca bencana terbesar dalam sejarah manusia itu, entah kenapa kita menjadi mudah sekali membuat kesimpulan yang menyalahkan Tuhan. Tuhan, katanya, marah karena orang Aceh selalu sibuk berperang ketimbang menegakkan syariat Islam. Tuhan, katanya, murka karena banyak yang suka pamer aurat di bibir pantai. Lirik lagu Berita Kepada Kawan-nya Ebiet G. Ade pun jadi menyebar kemana-mana dan bisa jadi merupakan lirik lagu yang paling banyak dikutip dan dipertukarkan dalam beberapa minggu terakhir pasca tsunami, khususnya bagian: Mungkin Tuhan sudah bosan melihat tingkat kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…. Cuma itukah yang bisa kita pikirkan? Cuma itukah hikmah yang bisa kita petik?

Maaf, saya bukan Tuhan sehingga saya tidak tahu dan tidak akan pernah tahu alasan di balik setiap kehendakNya. Tapi menyimpulkan bahwa Tuhan marah pada umat manusia karena banyak yang suka pamer aurat di pinggir pantai sehingga ia pun mengirimkan gelombang setinggi puluhan meter, bagi saya adalah kesimpulan yang sangat menyedihkan. Sayapun tidak berniat membela Tuhan karena jelas sekali dia tidak memerlukan apapun dari saya. Saya, seperti halnya banyak orang, hanya tengah mencoba mencari hikmah dari tragedi ini.

Sementara itu nun jauh di Aceh sana, dari hasil bidikan seorang kamerawan amatir yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi Indonesia, nampak seorang ibu tengah shalat di atap seng sebuah bangunan di kawasan Meulaboh, sementara air terus mengalir deras, meluluhlantakkan bangunan di sekitarnya. Tak ada ketakutan apalagi kemarahan di wajahnya. Yang nampak di mata saya adalah ketenangan yang terpancar dari wajahnya.

Di bagian lain, stasiun televisi itu juga menayangkan gambar ekslusif dari suasana di Meulaboh saat air mulai menyerbu masuk menggenangi rumah, menyeret nyawa siapapun yang menghalangi jalannya. Namun di sela-sela derasnya suara aliran air dan bangunan yang roboh, ramai terdengar suara menyebut-nyebut nama Tuhan. Tak ada cacian, tak ada makian. Yang ada hanya pujian terhadap Sang Maha Kuasa, Sang Maha Penyayang. Masya Allah, tak pernah saya mendengar nama Tuhan disebut dengan begitu indahnya, dengan begitu syahdunya, dengan begitu ikhlasnya. Ya, di tengah keadaan bencana yang setiap saat bisa merengut nyawa siapapun dengan mudahnya, saya justru mendengar suara Tuhan disebut-sebut dengan penuh ke ikhlasan. Bukan kepasrahan.

Ikhlas bahwa kekayaan, kemiskinan, sehat, sakit, bahagia, sedih, anugerah, bencana, hidup, mati, semuanya ada dalam genggaman Tuhan. Ikhlas bahwa kehendak Tuhan seringkali adalah rahasia terbesar yang tidak pernah bisa kita tahu maknanya sampai nanti kita akan merasakannya sendiri. Ikhlas bahwa Tuhan tidak akan pernah menyengsarakan ciptaanNya sendiri.

Sekali lagi, Ikhlas! Bukan pasrah..!

Tanpa disadari, saya dan keluarga yang tengah ikut menyaksikan tayangan televisi malam itu pun ikut bergabung bersama mereka menggumamkan nama Nya. **

____________
Catatan:
Ada artikel menarik tentang bencana tsunami dan kepercayaan pada Tuhan yang dimuat di situs islam online. artikelnya ada di sini. Selamat membaca!


Actions

Information

One response

1 07 2005
lingga

I could not agree more with you on this one. Saya juga sedih kalau mendengar orang menyimpulkan bahwa peristiwa ini adalah bentuk kemurkaan Tuhan kepada orang Aceh (dengan berbagai alasannya, apakah itu karena hanya menjalankan syariat Islam setengah-setengah maupun alasan-alasan lain yang lebih “keji”) . Saya sedih karena, pertama, hal ini berarti seolah-olah kita “menghukum” orang Aceh, padahal keadaan mereka sendiri sedang sangat sulit. Ini seperti kalau ada orang tertimpa musibah, tetapi kita malah menyorakinya (kasarnya – maaf – “sukurin…” atau – maaf karena lebih kasar lagi – “mampus…” ). Kedua, kita rasanya kok jadi “sok tahu” karena seakan-akan tahu persis “emosi” Tuhan. Ketiga, ini membuat kita merasa seakan-akan lebih “suci” dari orang Aceh, hanya karena peristiwa tersebut “kebetulan” tidak terjadi di tempat tinggal kita. Seakan-akan kausalitas itu begitu jelas bahwa orang yang sedang tertimpa musibah sekarang ini adalah orang yang sedang dimurka Tuhan karena orang tersebut begitu jahatnya sehingga layak dihukum oleh Tuhan. Wallahu a’lam.–>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: