Kue Klepon Si Ayah

15 12 2004

Bagi saya mendidik anak itu mirip makan kue klepon. Kalau makannya tidak hati-hati, gulanya bisa muncrat ke muka kita sendiri. Bahkan sudah ekstra hati-hati pun, si klepon bisa tiba-tiba memberi kejutan dan muncrat ke muka kita. Masih untung kalau makannya sendiri. Kalau ada orang yang melihat, bagaimana hayoo?

Oya, sebelumnya, bagi yang belum tahu mahluk apa itu klepon, silahkan klik disini untuk informasi lebih jauh. Bagi yang sudah tahu, read on my friend..   

Sampai dimana tadi? Oya, klepon.. Jadi itulah kesimpulan saya. Mendidik anak itu memang gampang-gampang susah, sama halnya dengan makan klepon. Beruntung sejak dulu, jauh sebelum saya terpikirkan untuk kawin apalagi punya anak, saya sudah banyak “pengalaman” yang kelak terbukti akan sangat bermanfaat ketika akhirnya saya pun harus makan kue klepon.. eh maksudnya membesarkan anak sendiri.

Pernah suatu hari saat ikut emak pergi arisan dengan sesama ibu-ibu dharma wanita – ya.. ya.. saya memang dulu senang mengantar emak arisan..– , kebetulan ada kawan emak yang juga bawa anak kecil. Sepanjang arisan si anak kawan emak saya itu terus menatap wajah seorang ibu yang tak lain adalah istri seorang petinggi di kantor bapak saya. Harus diakui, untuk ukuran anak kecil ada yang aneh di wajah si ibu ini, cuma waktu itu saya tak tahu apa. Toh akhirnya saya tahu juga. Ketika ibu yang sangat disegani ini membuka mulutnya untuk memberi kata sambutan, ruangan yang tadinya penuh ocehan para ibu mendadak jadi hening. Keheningan itulah yang kemudian dimanfaatkan anak kawan emak saya tadi untuk tiba-tiba berteriak ke arah beliau:

“Makanya tante, jangan kebanyakan makan permen. Kata mamah, kalau banyak makan permen giginya jadi item-item kayak tante.. hi hi hi..”.

Saya masih ingat sekali. Di ruangan yang penuh ibu-ibu itu yang tertawa cuma saya sendiri. Ya. Cuma saya sendiri. Seharusnya sih berdua dengan anak tadi, tapi dia keburu nangis karena pantatnya di cubit ibunya.

Nah, sekarang anda tahu kan apa maksud saya dengan mengibaratkan mendidik anak itu seperti makan kue klepon? Oke, kalau belum tahu, mari saya beri contoh lagi.

Suatu hari kami sekeluarga diundang makan siang ke rumah seorang saudara dekat. Saat kami semua sedang berkumpul di ruangan makan, anaknya yang saat itu masih berumur 5 tahun keluar dari kamar menghampiri kami dan langsung duduk di meja makan. Rupanya dia baru bangun tidur. Ia hanya mengenakan celana dalam dan menenteng bantal lecek kesayangannya. Ibunya langsung menegur dan menyuruhnya mengenakan baju.

“Iiih, udah gede kok tidurnya nggak pakai baju..”, emak saya meledeknya. Dengan mata yang masih sayu dan rambut masih awut-awutan, si anak dengan entengnya berkata:

“Mamah aku juga kalau tidur telanjang…” . Crooottt!! Klepon itu muncrat ke muka si mamah.

“Papah juga begitu. Iya kan, pah..?” Crooottt!! Muncrat juga ke muka si papah.. hehe

Nah begitulah sodare sodare, singkat cerita filosofi makan klepon itu pun akhirnya saya terapkan ketika akhirnya saya pun diberkahi seorang anak. Apalagi saat ini anak saya tengah memasuki usia dimana ia sedang cerewet-cerewetnya bicara tentang berbagai hal, kepada siapapun, dimanapun dan dalam kesempatan apapun. Hasilnya? So far keadaan aman-aman saja sampai akhirnya minggu kemarin terjadi sebuah ‘insiden’ kecil yang sebenarnya lebih karena kesalah pahaman saja. Toh sudah cukup untuk membuat muka saya merah padam, semerah gula di dalam klepon.

Ceritanya, seperti biasa setiap hari minggu kami bertiga pergi berbelanja di supermarket dekat rumah. Seperti biasa pula, si kecil selalu kami dudukkan tempat yang tersedia di troley belanja. Saya yang bertugas mendorong troley sementara si nyonya seliweran kesana-kemari. Nah, minggu itu antrian kasir lumayan panjang dan lama. Sambil menunggu antrian, iseng-iseng saya memperhatikan deretan bermacam-macam jenis kondom yang dipajang di dekat kasir. Well, I’m not the condom kind of guy. Jadi baru sadar kalau kondom itu unik-unik. Lucu-lucu. Ada yang rasa stroberi, ada yang coklat, ada yang ekstra tipis, ada yang bergerigi, ada yang ekstra licin, ada yang…

“Ayah…!”, tiba-tiba saja si kecil yang masih duduk di troley di hadapan saya menegur. Saya menoleh ke arahnya hanya untuk menemukan tatapan tajam dari mata kecilnya. Jari telunjuknya di gerak-gerakkan persis seperti ayah atau bundanya kalau lagi melarang ia melakukan sesuatu.

“No, ayah.. No !! Nanti giginya sakit….”

Gigi? Ah rupanya dia mengira saya sedang mengamati deretan coklat yang dipajang persis di bawah kotak-kotak kondom tadi. Salah kaprah dia. Sayapun berusaha menjelaskan. Tapi dia tetap menggerakkan jari telunjuknya dengan gaya persis seperti orang dewasa.

“No! Aku bilang No!”

Rupanya ada yang memperhatikan perdebatan kami. Saya menoleh dan mendapati si kasir sedang tertawa geli. Yaaahh.. dia pun salah kaprah.. Crooott.. klepon itu akhirnya muncrat juga di muka saya.. hehe. Ya sudahlah, apa mau dikata. Cepat atau lambat memang klepon itu harus muncrat juga.. hehe

Epilogue:

******* [ maaf bagian ini terpaksa disensor. ada yang protessssss.. hehehe sorry, dear..] *********


Actions

Information

3 responses

15 10 2006
giffari

kenapa disensoooooooorrrrr????????????????

hix….

23 03 2007
indah

klepon makanan favorit indah lhoomas rane..di singapura apa yah?

2 04 2007
jglf

TEST

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: