Doyan Pelesir Rame-rame

16 05 2008

Permisi.. bapak-bapak.. ibu-ibu.. maaf mengganggu perjalanan anda. Kami pengamen blog ingin mempersembahkan beberapa buah lagu untuk anda, semoga terhibur..

*jreng.. jreng.. jreng..*

Lagu pertama berjudul “Doyan Pelesir Rame-rame”

Mau tau gak mafia di senayan
Tiap rapat gak pernah bisa lengkap
Giliran plesir..
anak bini semua komplit

Reff:
Kacau balau..
Kacau balau..
Negaraku ini.. 

Pernahkah lo denger istilah studi banding?
Katanya ini agenda amat penting
Studi dua jam..
pikniknya empat jam! Yeahh!!

Reff:
Kacau balau..
Kacau balau..
Negaraku ini..

Ya.. demikian bapak-bapak ibu-ibu.. lagu berikutnya dari kami pengamen blog.. Don’t Cry For Me Argentina.

*Jreeeng*

Don’t cry for me Argentinaaaa
The truth is we don’t know what’s true
They’re wasting our money
But say it’s for our good
Do you think their naive?
Or just plain stupid..?

Demikian bapak-bapak ibu-ibu, semoga terhibur dan sampai jumpa di kesempatan lainnya..

*Buka topi, mulai ngumpulin duit, buat bayarin mereka studi banding lagi..*

———————
(diadaptasi sesuka hati dari Lagu Gossip Jalanan-Slank, serta Don’t Cry For Me Argentina - dipersembahkan buat mereka-mereka yang rela pergi jauh-jauh untuk studi banding demi kepentingan kita.. Hebat!)





Orde Capek Deh!

19 04 2008

Selamat datang di era ORCA. Dalam opininya di Kompas, A’a Effendi Ghazali menyebut ORCA sebagai Orde Capek Antri yang dicirikan dengan antrian panjang dimana-mana mulai dari beli minyak tanah, minyak goreng, gas, beras, pekerjaan, semuanya antri! Saya sih lebih suka menyebutnya Orde Capek Deh! 

Entah siapa yang memulai, tapi ungkapan capek deh biasanya diikuti dengan gaya menempelkan punggung tangan yang terbuka di jidat, mirip gaya orang yang menghapus peluh di dahi. Biar lebih pas lagi diikuti dengan ekspresi wajah yang merupakan gabungan antara bosan, penat dan kesal. Silahkan coba sendiri! :) Read the rest of this entry »





Belanja Belanji Para Politisi

17 11 2007

pdi.jpgPunya banyak duit itu enak karena bisa beli apa saja. Liat saja ‘ulah’ Pangeran Al Waleed yang membeli pesawat penumpang tergendut di dunia saat ini untuk pesawat pribadinya. Lihat juga apa yang dilakukan oleh Tuan Ambani di India yang membangun gedung canggih berlantai 6 untuk rumah rumah pribadinya. Oh, maaf maksudnya 6 lantai pertama untuk tempat parkir, sisanya masih ada 21 lantai lagi. Orang mau misah misuh sampai kepala pecah dengan otak sampai terburai juga ya terserah. Itu uang mereka kok. Lagipula mereka pasti punya perhitungan sendiri, tidak seperti saya yang baru punya uang lebih sedikit saja sudah dihabiskan semena-mena. Mumpung kaya..

Bicara perhitungan belanja belanji, saya yakin para politisi lokal di Bekasi pasti juga punya perhitungan tersendiri ketika mereka membelanjakan uangnya menjelang Pilkada yang sebentar lagi tiba. Partainya Bu Mega yang terhormat misalnya memasang baliho mentereng yang lebih tinggi dari rumah kontrakan saya di Bekasi, tentu tak lupa juga menyertakan foto Si Ibu yang ayu dengan kerudung merahnya, meskipun masih kalah besar dengan foto Kang Haji Rudy bos partai mereka di Jawa Barat. Politisi yang lain juga tidak mau kalah.. Read the rest of this entry »





Dicari: Presiden Peduli Lingkungan!

15 10 2007

wanted1.jpgKetika Al Gore gagal menjadi presiden Amerika gara-gara ‘dicurangi’ oleh sistem pemilihan negaranya sendiri beberapa tahun silam, tak banyak yang ambil pusing. Toh konon ia adalah sosok presiden paling tidak populer di negara itu. Saking tidak populernya, bahkan ia terlalu sering ia menjadi bulan-bulanan lelucon bangsanya sendiri.

Tapi ketika Gore terpilih sebagai pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 2007 ini berbagi dengan Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Cuaca (IPCC), keadaan berbalik. Tiba-tiba saja banyak yang menjilat ludah dengan memintanya bertarung kembali di Pemilu mendatang. Tanya kenapa?

Oleh panitia Nobel Perdamaian Tuan Gore yang belakangan jadi aktifis lingkungan hidup, dianggap berjasa menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat soal ancaman perubahan cuaca global dan membuat makin banyak orang sadar bahwa sesuatu harus kita lakukan untuk menyelamatkan masa depan kita bersama. Read the rest of this entry »





Senyum Ical dan Para Korban Banjir

7 02 2007

senyumical.jpgMenteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie menyalahkan media massa yang telah membesar-besarkan bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya. Sebab pada kenyataannya, jelas Aburizal, banyak pengungsi banjir yang masih dapat tersenyum. “Kalau kita lihat para korban itu masih ketawa. Jangan sampai dikondisikan seolah-olah dunia mau kiamat seperti yang televisi Anda (SCTV) katakan demikian,” kata Aburizal di Jakarta, Selasa (6/2).” - Liputan 6.com

Dari perspektif seorang Aburizal ‘Ical’ Bakrie yang juga korban banjir meskipun konteksnya berbeda (ingat banjir lumpur Lapindo?), saya agak bisa memahami pernyataan ini. Buktinya senyum beliau masih tetap mantap setiap di sorot kamera, walau mungkin hatinya remuk redam. Seperti itulah mungkin penderitaan para korban banjir di ibukota tercinta saat ini. Namun dari perspektif beliau sebagai seorang pejabat, pernyataan itu membuat saya geram. Gerrrrrrrrrram sekali! Untung saya masih lapar. Kalau tidak mukanya (lebih tepatnya layar televisi saya) pasti sudah berlepotan roti coklat.  Read the rest of this entry »





Sensitif

4 07 2005

Anda tahu artinya sensitif? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua halaman 916, sensitif itu artinya:

    1. Cepat menerima rangsangan; peka: alat perekam itu sensitif sekali. 2. Mudah membangkitkan emosi: tiap konflik antar suku yang timbul harus diatasi karena masalah kesukuan sangat sensitif.

Sementara itu dari hasil pencarian di dictionary.com, sensitif itu artinya memperhatikan atau mempertimbangkan sikap, perasaan atau keadaan dari orang atau pihak lain. Read the rest of this entry »