Punya banyak duit itu enak karena bisa beli apa saja. Liat saja ‘ulah’ Pangeran Al Waleed yang membeli pesawat penumpang tergendut di dunia saat ini untuk pesawat pribadinya. Lihat juga apa yang dilakukan oleh Tuan Ambani di India yang membangun gedung canggih berlantai 6 untuk rumah rumah pribadinya. Oh, maaf maksudnya 6 lantai pertama untuk tempat parkir, sisanya masih ada 21 lantai lagi. Orang mau misah misuh sampai kepala pecah dengan otak sampai terburai juga ya terserah. Itu uang mereka kok. Lagipula mereka pasti punya perhitungan sendiri, tidak seperti saya yang baru punya uang lebih sedikit saja sudah dihabiskan semena-mena. Mumpung kaya..
Bicara perhitungan belanja belanji, saya yakin para politisi lokal di Bekasi pasti juga punya perhitungan tersendiri ketika mereka membelanjakan uangnya menjelang Pilkada yang sebentar lagi tiba. Partainya Bu Mega yang terhormat misalnya memasang baliho mentereng yang lebih tinggi dari rumah kontrakan saya di Bekasi, tentu tak lupa juga menyertakan foto Si Ibu yang ayu dengan kerudung merahnya, meskipun masih kalah besar dengan foto Kang Haji Rudy bos partai mereka di Jawa Barat. Politisi yang lain juga tidak mau kalah..
Hampir setiap hari bahkan mungkin setiap jam, suara calon dari Partainya Bang Tiffatul juga menggema dengan pesan-pesan bijaknya di radio setempat, tentu tidak lupa menyertakan kalimat sponsor di akhirnya. Calon partai lain juga tidak kalah set. Mereka berceloteh panjang lebar mulai dari pesan anti narkoba sampai pesan untuk selalu menguatkan persaudaraan di sela-sela alunan lagu dan iklan di radio. Boleh tanya sama orang radio di sana berapa ongkos memutar satu menit iklan. Kalau murah, wah jangan-jangan radio yang bersangkutan lagi cekak.
Praktek yang tidak kalah umum adalah poster, spanduk dan baliho, mulai dari poster ukuran folio yang ditempel tumpang tindih dengan iklan rokok, badut pesta sampai sedot tinja. Mulai dari spanduk standar yang membentang dari satu tiang listrik ke tiang listrik lain hingga ke baliho bahkan billboard yang ngujubileh besarnya sampai bikin leher pegal untuk membacanya saja.
Pesan yang diusung juga macam-macam, mulai dari sekedar memperkenalkan diri, pesan kebersihan, persaudaraan, anti narkoba sampai sekedar tulisan “Kami Anti Korupsi” seperti billboard yang dipasang Bang Awing dan Bang Ronny di dekat Giant Hypermart Bekasi, entah siapa mereka. Saking besarnya saja, diperlukan tiga lampu sorot agar wajah mereka tetap mentereng di malam hari. Mungkin tagihan listrik untuk tiga lampu sorot itu saja lebih besar dari tagihan listrik kebanyakan rumah di sekitarnya. Hebat!
Silahkan anda misah misuh kalau mau. Tapi itu kan uang-uang mereka sendiri. Terserah mau dapat dari mana, yang penting itu uang mereka jadi mereka berhak melakukan apa saja. Tetapi ketika uang itu dikeluarkan untuk kepentingan mendapatkan simpati rakyat agar mereka dipercaya jadi pemimpin, kok ya rasanya gimana gitu.. Kurang sensitif!
Bagaimana tidak sensitif ketika misalnya dibawah billboard Bang Awing sama Bang Ronny yang mengusung anti korupsi masih ada praktek pungli para petugas eh maksud saya oknum berseragam instansi pemerintah yang hobi malak supir omprengan dan bis. Atau di bawah balihonya Kang Rudy dan Bu Mega masih ada sungai yang semakin menyempit hingga setiap musim hujan airnya melimpah dan merendam rumah-rumah di sekitarnya sampai ke atap. Ya, wajah si akang dan si ibu sih rasanya tidak akan terendam. Wong balihonya tinggi gitu kok.
Maaf, saya tidak anti partai apalagi anti pilkada. Kalau saya ada di Bekasi pas pilkada nanti, insya Allah saya akan nyoblos. Saya cuma gemas melihat semua pesan-pesan sponsor itu terpasang begitu saja tanpa ada manfaatnya. Kalaupun ada manfaatnya, paling nanti habis pilkada spanduknya bisa buat menutupi tenda warung pecel lele langganan saya di Jati Asih, sementara tripleks bekas baliho bisa untuk menambal dinding warteg yang mulai lapuk dimakan umur.
Kalau saya salah satu calon, saya akan bayar orang banyak untuk aksi massal membersihkan kali dan memperbaiki got di setiap jengkal kota menjelang musim hujan. Setiap orang , setiap traktor, truk bahkan cangkul sekalipun akan saya beri kaos dengan muka saya tercetak besar-besar. Kalau masih ada sisa uang, saya akan berikan kepada para supir omprengan Koasi agar mereka tidak tarik-tarikan mengejar setoran atau bikin macet di setiap depan pintu keluar masuk kompleks demi menunggu satu orang penumpang. Tidak lupa di setiap angkot saya tempel foto saya sebesar mungkin.
Pokoknya kalau mau dipilih lalu dicintai, didengarkan dan dituruti warga, kampanyenya jangan tanggung-tanggung dong, bos!
Apa? Tidak mungkin? Ah, kata siapa? Belum dicoba, kan? Rasanya tidak ada yang tidak mungkin di muka bumi ini, apalagi kalau punya uang. Lihat saja itu Wan Al Waleed dan Encik Ambani.
Oya, kalaupun masih ada lebihan uang lagi, saya akan cor semua jalan di Bekasi yang rusak parah, agar tidak lagi membuat para warga harus ber off-road ria setiap hari, lagi-lagi dengan memasang foto saya di setiap truk, mobil giling, kaos para pekerja sampai ke sepatu mereka sekalian kalau perlu.
Eh tunggu dulu, jalan rusak berkilo-kilo itu memang lagi di cor kan ya? Hmm.. jangan-jangan .. ah sudahlah!
Salam buat semua penghuni Bekasi, kota yang selalu saya kangeni..
JaF














@jaf
setuju om, kalo maw disenangi warga ya ikutin kemauan warga, trus inget dia tuh hanya sebagai perpanjangan tangan dari warga, yang selama ini seperti ngerasa ngemimpin warga dengan semena2 trus bukan berdasarkan suara rakyat pula…
btw, Mas kpn blk ke bekasi ?
oh ya di singapura ada kerjaan bwt Hacker ngak mas ato biar ngak salah persepsi , kerjaan buat master security…?
http://road-entrepreneur.com
mending uang belanja belanji buat kepentingan rakyat kecil yang semakin menderita ini saja….
jadi nyoblos siapa om?
Waduh… kalo ane mo ikutan pilkada jadi gmana ya boss kalo ga ada duitnya, buang-buang banner di blog aja ya kali ada yang mau bwakakaka… ato bagi-bagi batere kali lebih bertenaga kalo mau nyoblos
kekekkee *ngacirrr
Udah bikin baliho segala macem ga ada gunanya, pas ada angin ribut malah bikin orang laen celaka, ya om
gak nyoblos yang lagi ngecor dimana nih? pan banyak yg lagi dicor, banyak juga yg habis dicor eh berantakan lagi, meh ngomong opo neh jal?
gila tuh ulah sang pangeran…..
kalo emang bener2 butuh untuk transportasi pribadi yang memadai akan lebih bijak memilih Boeing 747 seperti Air Force One misalnya, agar bisa masuk ke International airport di banyak negara…
*
membeli A380 untuk pesawat pribadi!!! ck.. ck.. ck…
tapi kan pesawat itu tidak bisa mendarat disembarang airport, harus mempunyai panjang runway yang mencukupi, jadi kyknya mobilitasnya masih kurang atuh… yah ke Indonesia aja belum bisa. mungkin cuma mau ngejar gengsi aja kali yah
*perasaan jadi OOT gini deh…
hmm kita liat kang performance mereka … jangan2 hanya janji tinggal janji
hiks, bung JaF misah misuh kalah tampang sama yang di billboard, tapi idenya mantep tuh … nanti saya praktekin pas mao nyalon jadi bupati Jampang (Sukabumi Selatan -red) atau Bupati Sukabumi Barat ….
loh emang bolak-balik bekasi om, kok mo ikutan nyoblos
siap lah nyaingin adinoto si raja batere, mungkin perlu calon bupati dari aliansi blogger independen he he he
Pokoknya…dukung pemimpin peduli blogger!!
yg jelas…gak mungkin deh satu negara bisa survive dgn aman sentosa dan stabil kalo ada banyak partai. Mau diomong ngalor ngidul juga……nonsense !
om JaF, nggak berniat jadi presiden singapura, atau nyaingin bos vavai for bekasi …?
Lho, itu kan uang mereka…? ngapain bahas uang mereka coba…? *siul2* :p
Kapan yah, para politisi perang program yang realistis dan down to earth.
Daripada perang spanduk, umbul2, baliho, termasuk jargon2 ga mutu!
Sayangnya orang KPUD nggak bisa menindak baligo kampanye macam begitu. Ketua KPUD Depok, malah bilang, belum tentu mereka yang pasang baligo bakal maju jadi calon gubernur Jawa Barat.
Lah kalau belum tentu buat apa coba mereka buang duit bayar baligo?
Payah.. payah..
pilih yg jenggotan aja,Om.mudah2an pas pilkada bekasi,saya boleh libur.Amin….
O ya,rumah Om kebanjiran ya belum lama ini.rumah teman2 saya di ViNus pd kebanjiran tuh…