Indonesia Raya, Roy Suryo dan Melek Media

23 08 2007

Judul di atas saya pelesetkan dari judul kolom yang ditulis oleh Roy Suryo di Majalah Gatra edisi 22 Agustus 2007 yang bertajuk “Indonesia Raya, Sejarah dan Multimedia” yang agaknya merupakan penjelasan resmi Roy yang pertama atas kontroversi ‘penemuan’ video lagu Indonesia Raya versi tiga stanza yang jadi ngetop itu. Tulisan itu dalam penafsiran saya mengulas tentang bagaimana awalnya ia menemukan video itu dan apa yang kemudian ia lakukan, sedikit ulasan kesejarahan dari lagu Indonesia Raya versi lawas itu, dan tak ketinggalan bertaburan bumbu tentang tanggapan orang yang disebutnya telah dikotori oleh kepentingan individu, kelompok dan keinginan untuk diakui eksistensinya.

Saya bukan pengagum Roy Suryo bahkan banyak pendapatnya yang tidak saya sepakati, mulai dari kasus pembuktian suara telepon Habibie dan Andi Ghalib, kasus foto-foto porno para artis, soal trend sesaat blog dan juga termasuk soal temuan video Indonesia Raya ini. Saking tidak setujunya saya termasuk yang ikut memasang banner ‘pesan cinta‘ buat Pakar Telematika itu pada hari Valentine 2005 silam. Tapi jujur, pada akhirnya saya mulai bosan dengan cara-cara menanggapi ulahnya yang menurut saya sudah sangat amat tidak lucu lagi dan sudah basbang alias basi banget atau mungkin lebih tepat disebut bosan banget. Bosan karena tidak lucu lagi, begitu-begitu saja dan tidak yang baru.

Saya tidak hanya bicara soal ulah penentang Roy, karena Roy di mata saya pun ulahnya setali tiga uang. Komentar-komentar sosok yang katanya pakar itu sudah penuh dengan hal yang tidak penting. Kolomnya di Gatra yang harusnya mencerminkan kepakarannya, malah dikotori dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Ia misalnya menyebut orang yang tidak sejalan dengannya sebagai ingin mengedepankan kepentingan individu dan kelompok, ingin diakui eksistensinya dan menusuk dari belakang. Ehm.. ini kolom pakar apa kolom infotainment ya.. Apa jangan-jangan ini kolom curhat? :)

Sayang sekali. Sayang karena dari sudut pandang saya sebagai orang media, Roy sebenarnya orang yang paham bagaimana mengolah citranya di media. Tanpa diminta pun dia rajin menghubungi para wartawan, termasuk ketika ia merasa menemukan lagu Indonesia Raya versi asli itu. Kalau saja anda punya akses ke data nara sumber sejumlah media, maka besar kemungkinan namanya ada di urutan pertama untuk kategori pengamat teknologi informasi. Bahkan ketika menghubungi seorang teman yang memegang rubrik teknologi di sebuah media besar untuk menanyakan nomor kontak pakar IT Indonesia, ternyata dia hanya punya nama Roy Suryo. Padahal kan masih ada Kang Onno, Mas Budi Rahardjo, Mas Budi Putra, Mas Priyadi dan sekarung nama orang yang juga layak jadi nara sumber bidang IT.

“Ah, ngapain juga ikut-ikutan jadi selebritis?” kata seorang teman yang sebenarnya layak disebut pakar IT juga, sewaktu saya sampaikan keluhan ini. Padahal intinya bukan soal jadi selebritis apa bukan. Ketika kawan-kawan yang lebih tahu soal IT merasa bahwa pendapat Roy itu tidak benar -kalau tidak bisa disebut menyesatkan- maka harus ada yang berani memberikan penjelasan lain atau paling tidak membantah lah. Saya pikir masyarakat berhak mendapatkan penjelasan dari berbagai versi agar mereka lebih pintar.

Memang pendapat saya ini bisa memicu debat kusir karena saya tahu pasti ada beberapa orang yang sebenarnya pernah berusaha menghubungi sejumlah media untuk mengimbangi pendapat Roy tapi pendapatnya tidak dimuat. Saya tidak menyalahkan upaya mereka malah sangat salut, namun janganlah berhenti sampai disitu.

Bagi saya ketimbang disebut Pakar Telematika, saya lebih sepakat kalau Roy disebut Pakar Komunikasi. Dia benar-benar jago urusan komunikasi ini. Dia jago mengelola citranya, jago mengelola pesan. Dia tahu persis bagaimana caranya mengemas pesan agar menarik dan bisa ‘dilahap’ oleh media.

Ya, melek media. Itulah menurut saya keyword nya. Orang media bukan orang sakti. Mereka tidak tahu segalanya tapi harus diakui mereka punya media dan apapun yang mereka sajikan dengan mudah dicerna oleh masyarakat. Orang komunikasi menyebutnya teori Agenda Setting. Ini adalah teori yang meruntuhkan anggapan ‘naif’ bahwa audience lah yang menentukan apa yang layak disebut sebagai berita yang dimuat media. “The Agenda-Setting Theory says the media (mainly the news media) aren’t always successful at telling us what to think, but they are quite successful at telling us what to think about” seperti kata situs ini.

Maaf, saya tidak pula bermaksud meremehkan media. Tidak sedikit orang media yang pandai. Tapi harus diakui ada juga yang take for granted dengan perannya sebagai orang media. Ada yang dengan mudah akan memuat apa saja yang keliatan ‘cakep’ dan bisa menaikkan oplah atau rating tanpa berusaha untuk sedikit saja mencari tahu kebenarannya. Masih banyak yang percaya bahwa orang menggigit anjing katanya lebih penting daripada orang digigit anjing. Akibatnya ketika misalnya saya merasa menemukan bahwa lagu Indonesia Raya ternyata ada versi tiga stanza (padahal sejak SD kita sudah diajarkan hal ini) dan saya melaporkannya ke media dan kebetulan ketemu orang media yang suka asal menelan informasi ini tanpa mau mempelajari dan mengecek kebenarannya dulu, maka… jreng! kalau kembali ke teori Agenda Setting tadi, maka audience pun akan menganggap laporan saya yang sudah dimuat itu sebagai temuan terbesar abad ini.

Sekali lagi saya tidak meremehkan media. Buktinya banyak media besar yang tidak asal memuat kasus Indonesia Raya versi tiga stanza ini, bahkan tidak sedikit yang akhirnya berusaha membantah kebenaran berita ini dan melengkapinya dengan pendapat para pakar yang jauh lebih tahu soal ini. Sekedar catatan, Roy Suryo pun dalam kolomnya di Gatra itu secara tidak langsung mengakui ketidaktahuannya dan mencoba mengkonfirmasinya ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). ANRI -masih menurut kolom Roy di Gatra- awalnya mengakui tidak punya film Indonesia Raya itu dan mendukung upayanya untuk menggali lebih dalam. Toh ANRI belakangan mengakui sudah punya arsip film ini sementara Roy sudah kadung melakukan riset ke sana sini yang sebenarnya sudah tersedia dan bisa diakses dengan mudah dan bukan barang baru lagi.

Poin saya adalah, sudah saatnya pakar lain angkat bicara kalau mereka menganggap pendapat Roy –atau siapapun dalam hal ini– tidak tepat. Jangan mudah menyerah kalau memang ada yang sudah mencoba. Banyak cara untuk menarik perhatian media dan rasanya itu layak ditempuh demi kepentingan audience, demi kepentingan masyarakat. Membuatnya sebagai lelucon atau mengejek-ejeknya di media yang terbatas (harus diakui bahwa blog dan milis bisa disebut media terbatas dibandingkan televisi atau koran) tidak akan pernah membawa manfaat apapun buat siapapun.

Poin saya adalah, sudah saatnya para pakar yang saya yakin banyak yang lebih kompeten dari seorang Roy Suryo untuk mulai melek media. Paling tidak mereka harus mulai sadar bahwa ibarat kata, ketika ada orang berteriak melalui spiker radio atau televisi, mengimbanginya dengan berteriak lewat spiker musholla tentu dampaknya tidak sebanding hehehe…

Okelah, supaya adil perlu diakui bahwa pendapat Roy Suryo tidak selamanya ngaco. Karena itu mungkin masalah ini bisa juga dilihat dari sisi ini deh:  Masyarakat perlu tahu masalah dari berbagai sisi dan jangan cuma satu sisi yang belum tentu benar. Diskusi perlu dihidupkan agar rakyat jadi lebih pintar dan kritis.

Tul gak, bos?

Salam, ah!

-JaF

Powered by ScribeFire.


Actions

Information

30 responses

23 08 2007
aRdho

setuju! :)

24 08 2007
ikram

Poin saya adalah, sudah saatnya para pakar yang saya yakin banyak yang lebih kompeten dari seorang Roy Suryo untuk mulai melek media. Paling tidak mereka harus mulai sadar bahwa ibarat kata, ketika ada orang berteriak melalui spiker radio atau televisi, mengimbanginya dengan berteriak lewat spiker musholla tentu dampaknya tidak sebanding hehehe…

Poin yang bagus Mas. Sudah saatnya bagi wartawan untuk tidak lagi silau dengan Roy Suryo seorang, dan mulai mencari pakar-pakar lain yang selama ini mungkin masih “malu-malu”. Tanggungjawab menghadirkan pakar yang kompeten kan adanya di wartawan?

Oya, mau sumbang saran juga ya… saya kira ungkapan “sadar media” lebih cocok Mas daripada “melek media” (media literacy) yang lebih kepada critical viewing. CMIIW :D

24 08 2007
aRuL

ugh panjang juga…. Bung JAF
iyah… pada dasarnya sepakat,namun memang kayaknya bung roy suryo sudah jadi selebriti, maklum terkenal duluan sih.. :)

24 08 2007
Piogrand

Roy Suryo merupakan ‘pakar’ yang kayanya pertama kali berani muncul memberikan pendapatnya. Karena nggak ada pakar sebenarnnya yang berani membetulkan, maka dia dianggap kebenaran satu2nya. Kalau udah gini, dia sebenarnya nggak bisa disalahkan.

Mungkin pakar sebenarnya takut kalau terlalu diexpose trz suatu saat (pas sialnya) memberikan pendapat yang salah, akhirnya jadi cemoohan. Kalian tahu sendiri lah orang indonesia kalau mencemooh kadang nggak tanggung2 :D

24 08 2007
gerry

saya ingin juga tuh jadi pakar komunikasi…biar terkenal hehe

Roy Suryo emang ga ada matinya…

24 08 2007
cah-mblitar

Apapun kiprah Roy Suryo selayaknya dipandang statusnya sebagai politisi. Lazimnya politisi, mereka akan berusaha agar namanya selalu diingat publik. Politik pencitraan. Kira-kira begitu. Dan memang begitulah Partai Demokrat itu memandang kiprah Ketua Departemen Kominfo KRMT Roy Suryo Notodiprojo.
http://www.demokrat.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=146&Itemid=&Itemid=&Itemid=1

24 08 2007
Riyogarta

Setuju banget, hanya sayangnya pakar-pakar IT yang lain tidak mau ambil pusing dengan masalah ini. Tidak mau ambil pusing dalam arti turut serta menuliskannya di media selain blog :(

24 08 2007
lemi4

Mungkin nggak harus para pakar sendiri yang aktif mempromosikan diri; mungkin lebih baik para jurnalis yang secara aktif mencari pendapat para pakar alternatif ini…

Sudah saatnya kalo masalah IT “kita” para jurnalis bertanya dulu sama Kang Onno sebelum tanya ke Mas Roy.

(“kita”, karena gue pribadi masih merasa sangat jauh dari gelar jurnalis sejati :p)

(maunya sih, tapi…, yah mimpi boleh dong? :p)

27 08 2007
bintangsatria

di Indonesia, asal sudah bisa nampang di media langsung dianggap hebat, padahal elmunya gak seberapa

28 08 2007
khairulu

kenapa ya, media resmi tidak berani mengutip berita dari blog (grassroot)? mungkin takut turun pamor? Saya kira banyak pakar lebih mudah nulis di blog masing2 (karena tidak punya waktu untuk press conf.). Dan saya kira mereka tidak keberatan pendapatnya dikutip media.

28 08 2007
aLe

yang penting nampang kali ya,

29 08 2007
guebukanmonyet

Setuju nich, saya bukannya anti Roy Suryo, I think he’s pretty good. Tapi ada benarnya apabila audience Indonesia bisa mendapatkan sumber yang lebih beragam jadi ada komparasi. Sekarang kayaknya apa-apa kalo multimedia dan IT harus nanya ke Roy Suryo, kasian juga Roy Suryo. Lol.

31 08 2007
atmoon

Ya, melek media. Itulah menurut saya keyword nya. Orang media bukan orang sakti. Mereka tidak tahu segalanya tapi harus diakui mereka punya media dan apapun yang mereka sajikan dengan mudah dicerna oleh masyarakat. Orang komunikasi menyebutnya teori Agenda Setting. Ini adalah teori yang meruntuhkan anggapan ‘naif’ bahwa audience lah yang menentukan apa yang layak disebut sebagai berita yang dimuat media. “The Agenda-Setting Theory says the media (mainly the news media) aren’t always successful at telling us what to think, but they are quite successful at telling us what to think about” seperti kata situs ini.

Memang inilah yang saat ini dipraktekkan RS. Meskipun caranya nampak membuat orang lain bete, saya kira kalau memang pakar2 IT itu berani ngomong dengan asumsi bahwa “kebenaran harus disampaikan” RS mungkin ada kompetitornya.

Masalahnya, nah ini lagi masalahnya, kenapa media massa mau saja diundang RS atau selalu mengontak RS. Kalau memang banyak pakar TI, kenapa pendapatnya mereka tak sering dikutip? Paling banter saya pernah dengar sesekali pendapat Onno atau Budi Rahardjo selain RS yang punya slot acara e-LifeStyle di Metro TV.

Nah disinilah media mulai terjebak kepada suatu pilihan. Milih RS yg suka kontroversial dgn publikasinya atau milih si A, si B, atau Si C yang pakar IT tapi garing. Jangan2 selama ini ada salah persepsi antara “IT entertainer” , “pakar IT” dan “tenaga ahli IT yang umumnya masih ngomong soal teknis melulu”.

Untuk menguji ini tentunya gampang2 susah tapi mudahnya coba saja test “ahli IT yang teknikal oriented” untuk ngomong soal “sejarah” dan “bagaimana mempublikasikannya”. Bandingkan dengan RS, suruh dia “ngomong IT (apa saja topiknya bukan sekedar Voip, domain, cyberlaw atau yg lainnya)”, trus suruh RS ngomong soal “sejarah”, dan bagaimana mengkomunikasikannya. Saya yakin RS yg bisa menggabungkan semua itu.

Jadi, menurut saya untuk menilai RS memang perlu kacamata. Nah kacamatanya “saat ini” adalah media massa dan publik dengan lawan informasi di internet yang umumnya kalau saya temui mengecam ulah RS. Kalau dengan adanya berita tentang RS dan segala ulahnya koran atau suatu media menjadi laris, seluruh warga Indonesia guncang, dan pemerintah menoleh ke permasalahan yang diungkit (misal lagu Indonesia Raya dan yang baru saya baca tentang pidato Supersemar Soekarno) ngapain mengutip “pakar IT” yg garing dan cuma bisa ngomong teknis doang?

Jadi kesimpulan saya, RS memang Ediannnnn…..dalam hal memanfaatkan keahliannya sebagai ahli komunikais, multimedia, dan e-lifestyle host.

2 09 2007
bolkitet

Saya mengenal nama Roy Suryo sewaktu kasus sadapan
telpon Habibie – Ghalieb.
Sebenernya saya termasuk orang yang jarang mengikuti
berita, tapi “keberhasilan” RS membuktikan
keaslian suara Habibie dan Ghalieb bener-bener bikin
saya penasaran (atau lebih tepatnya meragukan).
Saya pernah nyoba nelpon SCTV pas ada wawancara
mengenai kasus itu, tapi tidak pernah berhasil masuk.

Sewaktu kasus foto Gus Dur – Aryati saya juga sempat
menulis (dalam milis) keberatan-keberatan saya tentang
cara RS menganalisa foto tsb. Tulisan itu pun sempat
di respon oleh RS, yang intinya meremehkan pendapat-
pendapat saya dan malah menyuruh saya belajar
fotografi dulu.

Di tengah kemacetan (lupa tahun berapa) saya juga
mendengar wawancara di Elshinta yang membahas hilangnya
pesawat Cassa yang membawa sejumlah pejabat tinggi Pemda
Papua. Dalam wawancara tsb, Wakil Gubernur Papua
mengatakan telah berusaha menghubungi telepon genggam
salah seorang penumpang. Kontak itu berhasil masuk
(dari nada deringnya) tapi tidak ada yang mengangkat.
Mendengar itu RS yang juga diwawancarai langsung
mengatakan (dengan penuh semangat) bahwa jika memang
demikian maka menemukan letak jatuhnya pesawat tsb
sangat-sangat mudah sekali, karena letaknya pasti
pada radius 5km dari BTS. Pak Wagub membalas bahwa
dia sudah menghubungi Indosat (providernya) tapi tidak
bisa mendapatkan koordinat yang pasti.
RS malah makin semangat: “oh, itu sangat-sangat
mudah sekali, cukup catat koordinat BTS nya lalu kita
cari disekitar situ”. Keruan saja Pak Wagubnya jadi
belingsatan, karena siapapun yang mendengar acara
tsb pasti mendapat kesan Pak Wagub kerjanya nggak becus.
Padahal saya yang awam teknologi komunikasi, merasa
yakin bahwa yang di kontak Pak Wagub adalah telpon
satelit yang memang biasa digunakan oleh pejabat
pejabat Indonesia Timur (di bagian timur sana memang
belum banyak operator yang mau menggelar BTSnya).

Saat itu saya berhasil menelpon Elshinta dan minta
ijin menyanggah pernyataan RS, tapi di tolak dengan
alasan saya bukan pakar atau pejabat yang berwenang
dalam masalah telekomunikasi. Tapi saya sempat
memberikan argumen saya kepada Elshinta, kurang
lebih sbb:
Indosat pernah memasarkan telepon satelit yang
namanya kalau tidak salah Geo-7 dgn menggunakan
satelit yang kalau tidak salah inmarsat.
Sudah barang tentu Indosat tidak bisa memberikan
koordinat telepon yang ada di pesawat naas itu, karena
coverage-area satelit adalah setengah bumi.
Dari komunikasi terakhir dengan pesawat, pihak
Perhubungan Udara memperkirakan jatuh nya di hutan
belantara. Bagaimana mungkin provider GSM mau pasang
BTS di tengah hutan, apakah monyet, ular dan burung
cendrawasih sudah bisa berlangganan GSM?

Pihak Elshinta cuma menjawab: Kami sependapat dengan
anda, tapi kami mengharapkan info ini datang dari
orang yang memang punya kompetensi.
Anehnya si penerima telpon itu tidak berusaha
menyampaikan sanggahan-sanggahan saya ke host nya.

Terakhir kali, saya mendengar wawancara RS di sebuah
stasiun radio FM (lupa namanya) yang membahas keaslian
rekaman suara rapat internal PKB. Ketika itu telpon
saya tidak berhasil masuk. Tetapi sesampainya di
kantor, saya langsung kirim email dan fax ke stasiun
radio tsb.
Email saya tsb dibalas juga oleh RS tapi RS cuma
bilang metode analisanya sangat advanced dan diakui
oleh BIN, selebihnya cuma ungkapan bahwa saya tidak
pantas berdiskusi dengan dia.

Semua korespondensi tsb saya kumpulkan dalam sebuah
file lalu saya kirim ke majalah Panji dan Tempo, karena
kebetulan kedua majalah itu memuat heboh rekaman rapat
PKB tsb sebagai laporan khusus.

Kalau dipikir-pikir, sejak awal kemunculan RS,
saya sudah meragukan kepakarannya.
Terus terang saat itu, saya merasa sendirian.
Kalau melihat milis-milis “IT” pada masa-masa itu
semua anggota kelihatan sangat respek dan menganggap
RS sebagai anggota yang udah senior banget. Yang tentunya
sangat bertolak belakang dengan keadaan sekarang.

Sebaiknya rekan-rekan IT juga melihat kembali arsip
arsip lama.
Bahwa pada dasarnya banyak praktisi IT juga pernah
terkecoh oleh RS, bukan cuma wartawan doang.
Jadi, untuk memahami mengapa wartawan bisa percaya
begitu saja pada RS, coba ingat-ingat mengapa para
praktisi IT dulu juga begitu.

3 09 2007
kangtutur

Sebaiknya, Roy Suryo bikin pabarik kecap aja kali ye?

6 09 2007
vspidy

Orang yg pandai atw ahli dibidangnya bisanya ga mau muncul kepermukaan….semacam pak Onno W Purbo, beliau lebih berkompeten ttg IT tp ga mau jd seleb2 pembodohan….beliau lebih menunjukkannya k dlm buku (banyak sekali buku dari pak Onno), e-book, seminar2 dan lain sebagainya yg isinya benar2 berisi….Ga cuman ngomong doank!!! (waduh jd ngiklan deh heeeeeee :D )

6 09 2007
vspidy

ralat nh….bisanya = biasanya
heeeeeeee :D saking semangatnya ngetik je :D

7 09 2007
ananta

saya juga merasa RS itu sudah keterlaluan, sudah sepantasnya Rakyat Indonesia mendapat informasi serta analisis yang benar. Kenapa temuan lagu itu dipermasalahkan sebegitunya, padahal barang lama.

Beberapa hari yang lalu RS menunjukkan analisis-nya terhadap foto artis yang dituduh selingkuh. RS menyatakan keaslian foto tersebut, padahal gambar foto tsb ada di dalam majalah dan kabur. Penjelasannya terasa sangat dangkal dan tidak meyakinkan sama sekali.. Saya sedih Indonesia punya mas RS

16 09 2007
agrid

apapun masalahnya enjoy aja bung………

18 09 2007
rusle

RS memang sudah patut dijitak!

19 09 2007
lelono

Roy Suryo, apa yang sebenarnya kau cari nak

21 09 2007
Timothy I Malachi

Ya sebelum tahu dari internet saya percaya begitu saja apa yang disabdakan Tuan RS, tapi yang membuat saya merasa ganjil nih orang kok demen banget ya ngomentarin soal foto2/rekaman porno artis2 kita, kesannya banci tampil banget, lagian itu kan sebenarnya bukan urusan dia, memang soal pembuktian mungkin memerlukan pakar IT, tapi sebagai pribadi dia kan bisa menolak untuk mencampuri urusan pribadi sang artis…kesannya dia ikut2an cari sensasi aja

22 09 2007
Arie

RS, nothing……

11 12 2007
evan

Indonesia Raya yang evan kenal jelas beda sama milik Roy Suryo. Punya Evan 10 stanza..:-)

31 03 2008
Bencana Jogja « aprilia nusantara

[...] wilayah jogja ini akan berpotensi mempengaruhi wilayah lain apabila tidak ditangani secara serius, gempa besar terakhir kemungkinan akan berpengaruh cukup parah dibeberapa wilayah seperti bandung, jakarta dan surabaya. [...]

3 04 2008
pakarpornomatika

saya musuh roy 68 % analisis metadata benar.

5 04 2008
pahlawan bertopeng

heran d liad mas roy ini ??
pak Onno W. Purbo aj yang dah ilmu se tinggi langit ndak banyak omong..
nah ini orang, baru bisa sotosop dikid gaya nya dah ketinggian!
hahahahahaha~

11 04 2008
harsi

roy suryo? siapa sih dia?

11 04 2008
harsi

kalau roy markun sih aku kenal dia….

16 08 2008
rahmat

Ia…
Demi kelayakan Informasi yang akan dikonsumsi memang harus melihat dari banyak segi. Maju terus IT Indonesia..
Bravo indonesia..!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 46 other followers

%d bloggers like this: