Sering saya sering dibuat bertanya-tanya, apa orang-orang dibalik infotainment itu punya perasaan atau tidak? Eh, tunggu dulu, saya rubah saja pertanyaannya: apa orang-orang dibalik infotainment itu punya LOGIKA atau tidak? Ya, itu pertanyaan yang paling tepat untuk tidak mengatakan “kalian punya otak atau tidak, sih?”
Hari ini berbagai infotainment ramai-ramai memberitakan tentang meninggalnya seorang komedian Indonesia terkenal, Taufik Savalas (semoga Allah memberinya tempat yang layak). Mulai dari laporan di tempat kecelakaan, suasana histeris di rumah almarhum ketika mengetahui kabar kematian kepala keluarga mereka tercinta, sampai jeritan tangis para artis diliput habis oleh mereka. Sebagai penggemar berat almarhum, saya mengikuti semua liputan itu dengan perasaan sedih yang mendalam, salah satunya melalui tayangan Ada Gosip di SCTV.
Sampailah di akhir tayangan dan seperti biasa, dua gadis cantik pembawa acara Ada Gosip menutup acara dengan sebuah kuis berhadiah untuk para pemirsa setianya, dan –masya Allah– inilah kurang lebih isi pertanyaan untuk kuis mereka:
“Dimanakah lokasi kecelakaan pelawak Taufik Savalas? a. Purwokerto? b. Purworejo ?” kata salah seorang pembawa acara.
Pembawa acara yang satu lagi menimpali dengan centilnya: “Anda yang beruntung akan mendapatkan hadiah.. bla bla bla..”
Beruntung? Hmm.. ada yang tidak beres disini. Dimanakah gerangan sensitifitas para insan infotainment itu? Kenapa harus kabar kematian yang mereka jadikan bahan kuis? Kenapa bukan soal lain? Apakah mereka tidak punya perasaan? Apakah mereka tidak punya logika (untuk tidak mengatakan ‘apakah mereka punya otak atau tidak?’). Entahlah, ini mungkin subyektifitas saya belaka. Tapi apakah anda merasakan ada yang tidak beres dari pertanyaan kuis itu?
Ini bukan pertama kalinya. Banyak juga yang tidak sensitif ketika mengulas kematian almarhumah Alda, dimana berminggu-minggu jasadnya ditayangkan terus menerus tanpa menghargai perasaan keluarga yang berduka. Saya juga jadi teringat tulisan Mas Jockie Suryoprayogo di blognya yang bercerita tentang secuplik suasana dari pemakaman Chrisye almarhum.
Izinkan saya menyatakan turut berduka cita atas matinya akal sehat dan logika, atas wafatnya perasaan dan sensitifitas demi rating dan popularitas…
* Teriring rasa duka yang mendalam untuk keluarga almarhum Taufik Savalas.
Semoga mereka diberikan kekuatan untuk menjalani hidup pasca kepergian Sang Kepala keluarga. . Selamat jalan Mas Taufik, semoga Allah tengah memelukmu erat saat ini …
UPDATE, 14/07/07
Saya pikir apa yang saya lihat itu sudah parah, ternyata masih ada tayangan lain yang tak kalah menjijikkan termasuk apa yang dihadirkan oleh Trans TV seperti yang diceritakan oleh Rani di blognya.
Saya jadi ingat ucapan seorang BOS BESAR infotainment yang pernah mengatakan bahwa artis itu adalah milik publik. Agaknya logika yang tidak bisa saya pahami ini lah yang menjadi dasar kegiatan mereka yang kini juga masuk kategori jurnalistik. Tapi apakah mengeksploitir bencana dan kedukaan itu namanya praktek jurnalistik?














turut berduka cita, semoga arwah dan amal ibadah beliau diterima disisi-Nya Amin…
Turut berduka cita..
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Omaigat. Kesel. Capek. Dipateni ae tipine ya, Om Rane.
Tragis tenan.
Mugi2 keluarga Om Taufik selalu bersabar.
innalillahi wainnalillahi rojiun,,,,semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya,,,dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan,,,,amin.
yang aneh di ANTEVE, kirim sms ke nomer sekian sekian untuk mengucapkan turut berbela sungkawa, tarif 2000/sms. Masih dibisnisin euy, hebat.
Rane, turut berduka cita akan kepergian T. Savalas. Semakin saya perhatikan, semakin saya “amazed” dengan berbagai media di Indonesia. Pardon my comparison between two cultures (Indo and USA). We, Indonesians, often consider ourselves “lemah lembut” dan “berbudaya tinggi,” yet in many instances (based on my limited observations), many Indonesians and Indonesian media don’t portray such traits. In America, on the other hand, which is oftentimes perceived (by Indonesians) as “insensitive” and “too liberal/inconsiderate,” show the opposite: very sensitive and considerate to others, including in the media.
Strange but true. Perhaps it’s time for us, Indonesians, to learn from other cultures and cease perceiving ourselves as better than other cultures.
Just my two cents.
sampai sebegitukah? masak jaf? *takjub*
bang jaf….. saya juga sebal pas nonton di berita. Ketika istrinya mas Taufik sedang pingsan, mereka malah menyorotnya dan menayangkannya di tipi. Kebayang gak mereka kalo istri atau keluarga mereka yang diperlakukan seperti itu. Ke-tidak-sensitif- an seperti ini yang harusnya bisa dihindari oleh media apalagi infotenmen di Indonesia. Bagaimanapun juga, mas Taufik kan teman mereka sendiri. Mungkin yang memang mereka pedulikan cuma rating……
semua hanya demi rating & uang.. ;-(
Haus darah semua kali ya pak?
Semakin bertambah tahun, semakin kurang orang menggunakan logika.
Dan semuanya diukur dari “berapa uang yang anda miliki”.
Mungkin memang seperti itu keinginan dari produsernya, dan menambah profit juga kali ye… Tapi kuyrang sopan dan kurang adab juga.
Hai, terimakasih udah berkomentar di blog saya. Setuju seratus persen dengan anda, benar2 menjijikkan.
Berikut komentar saya di blog entry mengenai Alda:
Kayaknya paparazzi di barat pun masih ada kesopanan, setidaknya mereka tidak menayangkan jenazah putri Diana yg ketabrak tiang di Paris, meskipun mereka mengabadikan semua foto2 itu. Kalau paparazzi Indonesia, mereka benar2 tidak punya selera atau sensitifitas manusiawi.
Tadi sore tumben-tumbenan lihat berita di Elshinta TV. Topik yang sedang tayang adalah anak kecil 10 tahun yang menjadi korban mutilasi.
Yang bikin saya & suami super kaget adalah: tubuh terpotong dua dan teronggok di kantong plastik itu ditayangkan tanpa sensor! Macam liputan ke pasar bagian penjual daging aja!
Huek… Duh Gusti, seketika mual-mual saya. Mana lagi nyusuin pula. Adooohhh… keingetan terus sampai malam ini
heh, untung saya tidak liat.
tanpa sadar atau memang di sengaja dengan asumsi yang berbeda….hmm…berita ini di infotainment justru menaikan rating program mereka.. tapi apapun itu alasannya memang kurang etis…
Selamat jalam mas Taufik..
:norose:
di endonesia itu justru aneh klo gak aneh..
endonesiaaaaa….
Duh.. Iya saya juga sering banget ngerasa eneg kalo nonton infotainment2 itu. Hal-hal yang seharusnya jadi masalah pribadi dipublikasikan, gambar2 yang ngga pantas ditayangkan pun ditampilkan.
Dan kadang2 fakta bisa diputar-balik, seorang kriminal bisa jadi bagai malaikat tak berdosa. Huh. Hak penyiaran yang sering disalahgunakan…
gue jg sedih dgn meninggalnya Taufik Savalas. Orang baik, yang diberitakan dgn cara yg tdk baik….sdh meninggal pun yg ditinggal msh diuji ketakwaan dan keikhlasannya
gue pernah curi denger kru anteve bilang gini “kalau kita bisa bikin gosip baru kita bisa dapet 2 juta lho” [Rm gw dkt studionya antv] dari situ gue punya pendapat mereka bisa memfitnah orang2 semaunya tentunya dengan tameng bajanya itu=”kebebasan pers lah”. dan hepeng tentunya. met jalan bang taufik savalas !!!
Selamat Jalan Bung Taufik Savalas. Semoga Allah SWT melapangkan jalanmu menuju SurgaNya
Saya menyaksikan tayangan infotainment di TV saat (dalam siaran ulangan) malam ketika Taufik tewas tragis dalam kecelakaan. Kamera kru infotainment terus mengikuti histeria istri komedian kawakan itu yang larut dalam kesedihan yang sangat mendalam sesaat setelah menerima kabar duka tersebut. Saya trenyuh sekaligus prihatin. Dimana hati nurani kru infotainment mengeksploitir sedemikian rupa kesedihan dan rasa duka yang dialami pihak keluarga Taufik?. Semestinya, mereka me-”matikan” kamera –sebagai bentuk solidaritas sekaligus profesionalisme sebagai jurnalis–dan tidak semena-mena–atas nama rating dan “keinginan pemirsa”–mengabadikan momen yang seharusnya dilakukan pihak keluarga secara privasi tersebut.
Salut untuk posting ini Pak Rane!.
Can you say ‘mati rasa?’
Ban infotainment…
mangkanya jangan ditonton
*musuhan ama tipi*
memang sangat disayangkan..
mereka (infotainment) hanya memikirkan bagaimana supaya rating program mereka bisa menanjak secepat kilat..
padahal, keluarga masih berduka..
indonesia oh indonesia..
Jangan lupa hari ini (22/7) ada kampanye “Sehari Tanpa TV’ yang digagas KPAID. Soalnya TV telah menjadi Mahaguru yang mengajarkan banyak ilmu sesat kepada para penontonnya? So hati-hati! jangan sampai anak kita jadi pengikutnya.
masih nonton teve juga om JaF? udah ga jelas juntrungannya sejak dahulu kala ..
memang gak beretika!
untung….TV saya rusak!
saya setuju mas, demi rating logika dihilangkan, sampai tadi pagi pun di salah satu stasiun tv swasta masih nayangin siaran ulangnya sebuah kuis yang dulu pernah ada alm. mas taufiknya.. apakah mereka tidak berfikir bgmn perasaan keluarga alm?
met jalan………………………………
untuk m-nure_cikoko js : setahu saya antv tidak membuat infotainment sendiri. karena berita yang ditayangkan berasal dari rumah produksi. coba deh dilihat baik2 sampai akhir acara… tentang alm. Taufik savalas, saya pernah (sempat) ngobrol dengan beliau di studio Penta, kebon Jeruk. obrolan segar dan penuh kesan itu tidak akan pernah saya lupakan. selamat jalan……
Siapa musuh terbesar kita kelak dalam mendidik anak? TIPI!!!!
memang hal seperti ini tidak manusiawi bagi siapapun, tapi kita juga tidak bisa lantas menjudge klo kita tidak butuh media.
Jujur saya juga tidak suka bahkan memutuskan untuk tidak mengkonsumsi infotainment.
beberapa waktu yang lalu insan jurnalis menolak adanya infotainment sebagai salah satu bentuk jurnalistik. sudah barang tentu infotainment bukanlah jurnalistik yang memiliki kode etik, dan undang-undang yang dengan jelas menjabarkan bahwa jurnalis berkewajiban untuk melindungi narasumber (termasuk artis).
Jadi jangan musuhi media, karena yang menentukan kepandaian suatu bangsa adalah media.
eits jangan lupa, kita sekarang ini juga sedang menggunakan media lho…
aku juga gak pake kopas lho blognya, lam kenal!
ini adalah foto bella dan rezky aditya .. mereka kini lagi dekat… karena sudah lama tertarik apalagi ssatu manajemen