“Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie menyalahkan media massa yang telah membesar-besarkan bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya. Sebab pada kenyataannya, jelas Aburizal, banyak pengungsi banjir yang masih dapat tersenyum. “Kalau kita lihat para korban itu masih ketawa. Jangan sampai dikondisikan seolah-olah dunia mau kiamat seperti yang televisi Anda (SCTV) katakan demikian,” kata Aburizal di Jakarta, Selasa (6/2).” – Liputan 6.com
Dari perspektif seorang Aburizal ‘Ical’ Bakrie yang juga korban banjir meskipun konteksnya berbeda (ingat banjir lumpur Lapindo?), saya agak bisa memahami pernyataan ini. Buktinya senyum beliau masih tetap mantap setiap di sorot kamera, walau mungkin hatinya remuk redam. Seperti itulah mungkin penderitaan para korban banjir di ibukota tercinta saat ini. Namun dari perspektif beliau sebagai seorang pejabat, pernyataan itu membuat saya geram. Gerrrrrrrrrram sekali! Untung saya masih lapar. Kalau tidak mukanya (lebih tepatnya layar televisi saya) pasti sudah berlepotan roti coklat.
Pak Menteri kita ini lagi-lagi adalah contoh pejabat negeri tercinta kita yang tidak melek media atau media savvy. Saya amat tidak menampik kenyataan bahwa seringkali media juga membesar-besarkan masalah. Meski sudah 13 tahun lebih bergelut di dunia jurnalistik, saya mengakui sering sekali tergoda (bahkan mungkin pernah terjebak) untuk juga mengangkat sisi sensasional sebuah peristiwa atau dalam bahasa Bang Ical “Membesar-besarkan masalah”. Tapi tanpa harus mengesampingkan kenyataan itu saja, saya mau tanya pada beliau, siapa yang paling didengarkan, paling dekat dan paling bisa mempengaruhi rakyat kebanyakan pada saat ini: Media? Atau Menteri? (Maaf, ini pertanyaan tolol dan buat saya akan terdengar lebih tolol lagi kalau ada yang menjawab menteri!)
Banjir di Jakarta adalah contoh teramat ironis betapa para pejabat kita sangat tidak media savvy. Mereka dengan enteng bisa bicara apa saja di depan televisi tanpa sadar betapa apa yang mereka katakan itu berpotensi mempermalukan diri sendiri, memperburuk keadaan dan lebih parah lagi, menyakitkan hati rakyat yang sedang sengsara.
Memang benar, di nyaris semua tayangan televisi dan foto-foto di media cetak, nampak bapak-bapak dan ibu-ibu tertawa atau anak-anak kecil menjerit kegirangan sambil berenang telanjang di genangan air depan rumah mereka. Bang Ical juga saya yakin melihat hal ini dalam berbagai kunjungan langsung ke daerah korban banjir bersama Pak SBY. Tapi apa ya begitu kenyataan sebenarnya? Apa yang terjadi ketika kamera wartawan sudah dimatikan dan para pejabat sudah pulang kembali ke rumahnya yang kering dan nyaman? Apa yang terjadi ketika malam tiba? Ketika hujan turun tambah lebat? Ketika persediaan makanan menipis? Ketika anak bayi yang baru enam hari menghirup udara dunia sudah harus tidur di atas kuburan dengan beralas tripleks? Masih tertawakah mereka?
Saya juga korban banjir, bos. Rumah kontrakan saya di Bekasi yang ditempati istri, anak dan mertua juga terendam sampai dada. Semalaman mereka tidur berjejalan dalam gelap di loteng yang pengap berharap air tidak naik lebih tinggi. Mereka sih masih beruntung karena stok makanan dan minuman cukup tersedia. Tersenyumkan mereka?
Ketimbang mengkritik media, mengapa tidak para pejabat itu memanfaatkan media untuk kepentingan komunikasi politik kepada rakyat? Memanfaatkan itu bukan berarti mengundang wartawan untuk memotret setiap acara kunjungan mereka yang hingar bingar. Melek media itu bukan berarti pasang tampang serius karena sadar (atau membiarkan?) diri disorot kamera ketika tengah berbincang kepada sekretaris Presiden di handphone guna meminta pintu air di buka dan belakangan justru membuat presiden mencak-mencak.
Pejabat yang melek media akan tahu caranya memanfaatkan media. Akan tahu bagaimana cara diwawancarai dengan benar agar tidak menyakitkan hati rakyat. Akan tahu kapan harus mengeluarkan pernyataan kontroversial dan kapan harus bilang no comment dengan ‘cantik’ dan tidak terkesan arogan. Akan tahu kapan harus pakai jins dan T shirt yang mengesankan sangat bersahabat, kapan harus pakai safari yang nampak memperkuat keangkuhan mereka, kapan harus marah, kapan harus menangis kalau perlu.
Sandiwara? Terserah mau disebut apa! Saya sih menyebutnya image management. Apalagi satu kenyataan yang harus diakui di negara kita tercinta: rakyat mudah terpengaruh oleh media dan itu adalah kesempatan bagi mereka yang melek media dan tahu dimana selahnya untuk memanfaatkan media.
Cobalah ingat jaman kampanye dulu. Amien Rais naik KRL Jabotabek sampai staffnya kecolongan handphone dan dompet, Wiranto makan di Warteg bersama para tukang becak dan SBY nyanyi di AFI dengan jaket kulit keren ditingkahi jeritan histeris para remaja dan ibu-ibu. Bos, itu baru namanya melek media. Sayang, kemana gerangan para konsultan media kalian itu sekarang?
Sekarang coba bayangkan keadaan seperti di masa kampanye itu dimanfaatkan untuk menenangkan rakyat, untuk mengajak mereka prihatin, untuk membangkitkan moral mereka guna berjuang keluar bersama dari segala kesusahan yang mendera. Pasti akan lebih efektif, ketimbang hanya pidato pidato dan pidato yang membooooosankan. Kalau sudah begini siapa yang perduli Indonesia melepaskan CGI atau hutangnya pada IMF sudah lunas?
Oya, kritik ini juga berlaku untuk kalian para calon gubernur DKI Jakarta yang mulai berani ‘nyolong’ kampanye. Tidak ada yang salah kalau kalian melakukannya dengan cantik. Namanya juga politik. Tapi cantikkah ketika rakyat sudah terendam air sampai ke atap, tiba-tiba ada calon gubernur (hayo ngaku saja lah) yang muncul di iklan layanan masyarakat dan mengingatkan warga untuk waspada terhadap banjir? Orang-orang mungkin akan teriak: “Telat oooiiii… ” atau dalam bahasa gaul sekarang: ABCD. Aduh Bo’, Capek Deeeeeehhh…..
Citra itu penting dan media adalah alat yang tepat untuk mengkomunikasikannya. Dan saat ini saya berani bilang, duhai para pejabat yang amat terhormat, bahwa citra kalian sekarang sudah mirip banjir di Jakarta yang makin lama makin surut dan tinggal menyisakan lumpur dan sampah!!
Ya sampah!!!!!














PECAT PEJABAT TAK TAHU DIRI!
Btw, saya dukung pak JAF jadi konsultan Image Management!
Mungkin kalo mau murahnya daripada sewa konsultan image, pejabat-pejabat tersebut bisa baca bukunya Larry King yang berjudul “Seni Berbicara – Kapan Saja – Dimana Saja”. Disitu mereka bisa baca bahwa pelajaran pertama dari berbicara adalah “MENDENGARKAN”.
MEdia memang sering membesar-besarkan, tetapi seringkali juga jika suatu masalah tidak dibesar-besarkan oleh Media, perhatian Pemerintah terhadap masalah tersebut menjadi sangat kurang.
PAK JAF FOR MINISTER! hihi..
memalukan…*untung ngg komen di media asing yah..*
Grhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh! #$%@!*&!!!!!!!
untung gw bukan pejabat….diomelin ama elo deh gara2 tulisan gw soal banjir…btw, gimana skrg Feny n Naila ?
jangan dibelepotin pake roti coklat om, sayang rotinya… mendingan jg dikasih ke aku. xixixi… gmana klo kita belepotin pake lumpur lapindo? *wakzzz*
ak jg sebel sama pejabat yg satu itu, dulu waktu Bush ke Indo dia pesen gini, sama wakil² yg akan bertemu Bush,”ingat…jangan sampe minta minta yah.” halahhhh… sok punya gut moral. iye… gak usah minta minta, mendingan korupsi aja. bagossss…
ups… sorry om, jd esmosi neh. hehe…
memang benar kata bang ical kok, masih belum seberapa semuanya ini. belum cukup untuk menyadarkan negara dan bangsat ini, ya yang seperti dicontohkan sendiri oleh bang ical ituh sebuah contoh ketidak sadaran diri!…kekeke owalah…
Setuju Pak Jaf! Moga-moga posting anda yang menghentak ini akan menyadarkan mereka untuk turut merasakan keprihatinan masyarakat yang jadi korban banjir.
Semoga keluarga Pa’E Jaf tetap sabar dan tabah menghadapi cobaan ini.
BTW, kalau saya jadi menteri, boleh gak saya angkat anda jadi konsultan media saya ? hehehehe..
hebat om JaF…….para pejabat iru udah serasa selebritis, sadar kamera banget tapi ga sadar diri…..jadi ngomongnya kayak org ga sadar…….
coba di olesi selei coklat dulu matanya biar melek…..kekekeke
Angingmammiri mengadakanlomba entry blog di BulanFebruari ini. info lengkap lihat di http://angingmammiri.org
Bener-bener deh pak menteri yg satu ini …
Keliatannya mentri yang satu ini dah gak bisa mikir karna Lapindo, apa emang gak punya pikiran …?????? kalo pejabat macam gini yang dah gak bisa mikir knapa gak disuruh pulang aja sih ngurusin keluarganya gak usah ngurusin rakyat.
Gw jadi pengen tau kalo dia dan keluarganya banjir sampe rumahnya gak keliatan apa masih bisa ngomong kayak gitu…….(sampe ada yg mati kelelep….)
Dekat rumah saya tiap hari senyum, kadang ketawa sendiri, eh, taunya Gila…
alhamdulillah pak JaF masih ada semangat mengkritik orang-orang yang ‘di atas’ …
Assalamualaikummm……………..
Saya salut sama pak Jaf dan saya juga ikut prihatin atas bencana banjir yg melanda Jakarta dan sekitarnya. Orang tua saya juga tinggal di bxs dan menurut mereka tahun ini terparah, kenapa pak ABU bisa blng begitu ya???? saya yakin dia lagi pusing cari dana buat dirinya sendiri tuhhh…. makanya negara kita terpuruk, klo pemikiran mentrinya seburuk itu, kapan maju negara Indo tercinta? please, para pejabat perhatikan rakyat kecil??? say hallo for your family pak Jaf…Merdeka!!!
Manusia indonesia memang di takdirkan untuk selalu mengkritik dan kritik tak kesampaian adalah judul yang terbaik kalo ada yang mau mengarang buku, nanti kalo bukunya jadi kirimin aku atu ya…
Kritik pedas adalah kritik yang bisa bikin pejabat stroke dan muara…h bosss
iya sempet gemes tuh liat komennya. itulah klo mentrinya gak pernah ngrasain miskin.
btw gimana kabar keluarga? dikau masih kebanjiran? salam buat keluarga ya
memang lebih baik nonton Bung Ical berkomentar sambil makan kue coklat,…..
kalau sambil minum teh botol, bisa dilempar pula botolnya ke tivi.
emang betul2 sebel ngliat polah tingkah pejabat kita yang suka pentalitan..gak tau diri..apalagi itu seribu anggota DPRD yang demo soal PP 37/2006…malu2in ya…
Nduut !! kemana aja loe, gak ada kabar berita di blog, YM ato sms…..gak bikin postingan ketua KPI?
apa kabar pak? lagi blogwalking nih, mumpung sempat …
Om Jaf, barusan saya nonton liputan6 petang. Langsung inget tulisan Om disini ttg para pejabat da media.
Entah salah denger atau gimana, saya dengar Pak menag bilang”sontoloyo, kamu” pada mahasiswa yang mendemonya (beliau emosi krn dituduh sbg korupstor). Live! Pak Menteri kelewat kesal sampe kelepasan?waduh..
Pejabat sialan!
[...] untuk membuat para korban tragedi yag mengenaskan ini bisa tersenyum kembali justru menganggap semua kondisi ini hanya terlalu didramatisir dan dilebih-lebihkan oleh pihak media. Tidak bisakah semua pihak saling bahu membahu menyumbangkan kecerdasan setiap komponen untuk [...]