Mas, Sapardi itu siapa sih?
Pertanyaan ini masuk ke kotak surat elektronik saya suatu hari. Si pengirim adalah salah seorang teman blogging yang sering sekali berkunjung ke weblog saya. Suatu hari dia menemui banyak sekali posting di weblog saya tentang “Musikalisasi Puisi karya Sapardi Djoko Damono”. Rupanya dia penasaran dan berkirim email ke saya untuk mencari tahu siapa gerangan si Sapardi itu.
Jujur saja awalnya saya nyinyir mendengar pertanyaan yang saya anggap sangat amat bodoh itu. Hari gini nggak kenal Sapardi?, batin saya. Untung saja sikap saya itu ‘diselamatkan’ oleh seberkas ingatan ke sekitar tahun 1990 silam. Saat itu seorang kawan baik memperdengarkan lagu di sebuah kaset bertajuk “Hujan Bulan Juni”. Waktu itu saya tertarik mendengarkan karena diantara yang menyanyi adalah duet Ari dan Reda yang dulu sering pentas di kampus dengan lagu-lagu era Simon and Garfunkel. Bisa dikatakan keduanya ini sudah menjadi legenda di kampus. Sampai-sampai beredar kabar bahwa Hujan Bulan Juni itu adalah album pertama Ari-Reda padahal tak lain ia adalah album pertama musikalisasi puisi Pak Sapardi. Itulah persinggungan pertama saya dengan karya-karya Sapardi Djoko Damono dan juga dunia puisi. Gara-gara kaset itulah saya jadi rajin mengumpulkan puisi-puisi beliau dan juga puisi lain, termasuk pula mencoba menulis puisi sendiri. Jadi bisa dikatakan saat itupun saya sempat bertanya “Sapardi itu siapa sih?”
Musikalisasi puisi. Dari namanya saja bisa ditebak bahwa ia tak lain adalah bentuk penyampaian puisi lewat irama musik. Idenya adalah untuk lebih memperkenalkan puisi di kalangan masyarakat luas. Sebenarnya cara ini bukan hal baru, namun dapat dikatakan bahwa lewat karya-karya musikalisasi puisi Pak Sapardi, ide ini mendapat sambutan hangat. Menurut Dissi, album Hujan Bulan Juni habis terjual 2500 album dalam kurang dari seminggu, lalu diperbanyak lagi sebanyak 1500 album. Tahun 1996 dikeluarkan lagi album kedua bertajuk Hujan Dalam Komposisi yang terjual habis sebanyak 2000 album.
Gadis Kecil
Kini, sembilan tahun setelah Hujan Dalam Komposisi, lahirlah “Gadis Kecil” yang berisikan 11 puisi karya Sapardi Djoko Damono. Ada yang sudah pernah di musikalisasi kan, ada yang sama sekali baru. Penyanyinya adalah dua orang ibu yang sejak album pertama dan kedua sudah terlibat, yakni Reda Gaudiamo dan Tatyana Soebianto (Nana Soebi). Kedua ibu ini pulalah yang sekaligus menjadi produser album ketiga musikalisasi puisi Pak Sapardi. Mereka lah yang banting tulang memodali proyek ini.
Meskipun mereka menjanjikan sesuatu yang baru, namun dari segi musik album ketiga ini coraknya masih tidak jauh beda dari album pertama dan kedua. Kalaupun ada yang membedakan, tak lain karena iringan musiknya yang lebih sederhana, serba akustik, tapi di telinga saya terdengar lebih indah nan rancak. Ini tak lain karena yang terlibat mengiringi musiknya bukan orang-orang sembarangan. Ada Jubing ‘Satria Bergitar’ Kristanto dan Umar Muslim pada gitar, Bambang ‘Budjel’ Dipuro pada flute, Henri Lamiri pada biola dan Mark Willianto pada bas.
Yang tak kalah penting adalah mereka yang terlibat ‘menafsirkan’ puisi itu ke dalam lagu. Selain Reda dan Nana, ada AGS Arya Dipayana dan Umar Muslim yang bertugas membuat komposisi musiknya. Hasilnya, seperti saya katakan di awal tadi, meskipun masih ada ‘bau-bau’ dari album sebelumnya, harus diakui ada sejumlah komposisi yang bagus bahkan sangat bagus buat ukuran telinga saya. Pertama kali memutar CD Gadis Kecil, yang pertama saya cari adalah yang sudah pernah akrab di telinga saya, seperti “Aku Ingin”, “Hujan Bulan Juni”, “Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka” dan “Nokturno”. Di antara ke empatnya, yang paling mengejutkan buat saya adalah komposisi “Aku Ingin”, yang di awali dengan paduan gitar dan gesekan biola yang terdengar sangat dramatis (saya tak tahu harus menggunakan istilah apa selain kata itu.)
Kesan dramatis itu juga terasakan pada intro tiupan flute Mas Budjel dalam komposisi “Hutan Kelabu” yang buat saya benar-benar berhasil membawa ‘gambaran’ suasana temaramnya hutan yang tengah diguyur hujan. Coba mainkan track 6, pejamkan mata anda, simak paduan lirik dan musiknya. Mungkin anda pun akan menangkap penafsiran suasana yang sama dengan saya.
Dalam musikalisasi puisi, unsur komposisi menurut saya paling penting. Ia memang tidak harus menafsirkan isi dan makna puisinya, karena Pak Sapardi sendiri pernah bilang, penafsiran sebuah puisi itu bebas dilakukan oleh siapapun. Saya pun sangat setuju akan hal itu. Namun demikian berbeda dengan penafsiran sebuah puisi biasa, proses penafsiran sebuah puisi yang sudah dimusikalisasikan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana sang komposer memasukkan unsur musik ke dalamnya. Paling tidak itulah yang saya rasakan ketika mendengarkan album ini.
Secara keseluruhan ada sebuah ‘pengalaman’ menarik dari mendengarkan komposisi demi komposisi dalam “Gadis Kecil”. Sangat bisa jadi ini adalah subjektifitas saya karena saya memang menyukai kesederhanaan sekaligus kerumitan yang bisa dihasilkan dari paduan alat musik yang dimainkan secara akustik. Tetapi di antara semua pengalaman itu, tak ada yang menyamai kebahagiaan sekaligus keterkejutan saya ketika mendengarkan komposisi musik dari puisi favorit saya yakni “Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta”. Bahagia karena harapan saya agar suatu saat puisi ini masuk dalam album musikalisasi puisi benar-benar terwujud. Terkejut karena saya sama sekali tidak menyangka bahwa puisi yang menurut saya sangat bernuansa sufistik ini akan ditafsirkan dengan nuansa riang gembira dan ternyata terdengar sangat bagus. Memang benar bahwa tak ada yang bisa menguasai penafsiran atas sebuah puisi, bahkan tidak juga sang penulis puisi itu sendiri.
Pak Sapardi pun agaknya mengakui hal ini. Ketika saya temui usai pentas perdana Gadis Kecil di Warung Apresiasi, Kemang, beliau mengakui sangat terkejut mendengar komposisi “Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta” yang menurut beliau sangat bagus.
Kepada Kompas, Pak Sapardi juga tidak mempermasalahkan kalau puisinya kelak akan lebih dikenali sebagai karya lagu ketimbang puisi. Apalagi, kata beliau, jelas lagu lebih populer daripada puisi.
Tapi yang jelas, kalau memang kelak hal itu benar-benar terjadi, misi album ini untuk lebih memperkenalkan masyarakat pada puisi jelas berhasil. Walaupun mungkin tak banyak yang tahu bahwa Pak Sapardi lah sang penulis puisi, tapi pada suatu hari nanti, nama beliau pasti akan selalu ada di sela-sela bait, larik dan huruf karyanya, meskipun kemudian hanya dikenal sebagai lagu ketimbang puisi.
Bukankah itu yang beliau inginkan, seperti tergambar dalam puisi yang kemudian banyak dikenal sebagai kredo kepenyairan seorang Sapardi Djoko Damono..
PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
Sapardi Djoko Damono, 1991.
Bekasi, suatu hari di akhir Juni 2005 yang masih juga hujan.
_________
nb: CD Gadis Kecil bisa didapatkan di sini
nb2: Profil Lengkap Sapardi Djoko Damono: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sapardi-damono/index.shtml
nb3: Ulasan lain tentang “Gadis Kecil”:
- Menyasikan Lahirnya Gadis Kecil (Neenoy)
- Musikalisasi Puisi Dua Ibu (Dissy)
- Gadis Kecil (Salju Di Paris)
Anda ingin menambahkan link lain di sini? Silahkan tinggalkan nama dan alamat link anda di bagian komentar atau email ke: jafmail @ gmail.com.














setuju banget sama tulisan ini. setuju banget komposisi ‘aku ingin’ yang baru, dramatis. setuju banget ’saja-sajak kecil tentang cinta’, sangat bagus…
hehehe
–>
Salam…
Mas (bener ya ?), saya sudah lama nyari album2 musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono, tapi sampai sekarang belum berhasil. Wah surprise banget begitu baca ulasan Sampeyan. Satu pertanyaan penting saya : di mana saya bisa cari album2 tsb ? Mungkin Sampeyan bisa bantu, wah saya senang sekali karena sudah lama saya cari-cari. Terima kasih. Salam… (Satrio, Surabaya)
mohon infonya tentang karya puisi apapun
gadis kecil tuh salah satu must-have album buat pecinta berat puisi indahnya pak sapardi. lebih dari itu, secara musikalitas, aku kagum sama dua ibu. soft, easy listening, tanpa harus terpatok sama gaya musik pop kekinian. akustik… mesmerizing… musik dan puisinya jadi klop emosinya.
kira kira dimana yaa bisa dapet CD album itu…
hiks nyari kmana2 ngga dapet dapet… hiks…
SAlam kenal
halo, nama saya dhani.kebetulan saya lagi search di google denga keyword : puisi aku ingin, dan keluar blog ini.
saya lagi butuh banget cd/kaset yang memuat lagu puisi “Aku ingin” untuk upacara pernikahan saya.
apa ada cara buat saya untuk mendapatkan cd “gadis kecil” ini ?
thx banget sebelumnya
aku lg butuh kandungan makna yg trdapat dr puisi aku ingin niy! buat melengkapi tugasku!
thx b 4
[...] hari ia mendapati salah satu albumnya bertajuk Gadis Kecil yang diluncurkan pada tahun 2005 lalu sudah bisa di download dengan bebas melalui salah satu [...]
senandung di gadis kecil nya sapardi dua ibu .. adalah teman dikala susah senang. hujan panas, galau tenang. meredakan amarah. menimbulkan inspirasi. membangunkan kreasi. trimakasih sapardi. trimakasih dua ibu. seperti botol ketemu tutup-nya
tapi dimana saya bisa dapatkan cd-nya? kepingin menjadikan kado istimewa untuk beberapa teman baik saya.
[...] musik. Karena saya bukan ahlinya, masih banyak sumber lain yang bisa Anda lihat seperti punya JAF dan juga Ibu Neenoy atau bahkan situs resmi pasangan Ari-Reda. Saya bukan ahli sastra, jadi cuma [...]
minta tolong siapapun,….. aku mencari CD “Gadis Kecil” setidaknya berikan info dimana aku bisa mendapatkanya,….terima kasih
Semoga amal baik anda dibalas Tuhan YME,….Amin
Sekarang saya adalah orang yang bingung, bingung tentang yang namanya musikalisasi puisi. Perlu hati dan pendirian yang mantap bagi saya untuk menyatakan bahwa sebuah pengertian -diantara banyak pengertian- musikalisasi puisi adalah benar dan dapat diterima dengan lapang dada serta dapat meliputi semua pengertian dan pendapat yang berkembang sekarang ini.
Saya tidak meyalahkan pendapat-pendapat yang ada, tidak pula membenarkan sepenuhnya keberadaan pendapat-pendapat tersebut, hanya saja saya rasa kesimpangsiuran tentang “musikalisasi puisi” masih harus banyak dibenahi.
Salam hangat untuk semua
ini ttg apa sih puisinya? (aku ingin by sapardi) plis jawabannya.dan background dari puisi ini apa ya???? thx
aku lg mo nyari cd musikalisasi puisinya sapardi….
kira2 dimana aku bs dptkan cdnya ya?
tlg dong kl ada info….
[...] mengenalkan si Tuan Putri Kecil pada karya-karya SDD. Dia sendiri suka sekali dengan ‘Gadis Kecil’ yang sudah di musikalisasikan oleh Reda dan [...]
[...] secanggih karya-karyanya? Elegan sekali. Saya ‘nyolong’ puisi di atas dari blognya om Jaf. Biasanya, kalau soal puisi-puisi si Kakek Romantis ini, Oci suka ‘cerewet’ [...]
ketika lagu itu hadir mampu memaknai hidupku.Semangat dan menghargai hidup.
mmm, hujan di bulan juni…kumpulan puisi favoritku, sampai saat ini.
sayang gak di publish lagi,,malah gramedia sekarang ternak teen-lit.
btw, salam kenal,aku mampir untuk berteduh.
Lagi dan lagi… saya butuh banget CD musikalisasi puisi. Berhubung saya guru Bahasa Indonesia, saya ingin memberikan contoh konkret buat murid-murid saya. Memang saya bisa menjelaskan dan memberikan contoh, dan mereka bisa melakukannya, tapi wawasan kan tetap harus diperluas dan diperkaya. Jadi, tolong, ya…
Pak Sapardi…
kemarin aku diberi tugas oleh guruku untuk…
menampilkan musikalisasi puisi di depan kelas…
aku sering ikut lomba termasuk musikalisasi puisi itu…
guruku…teman-temanku banyak yang tak tahu apa musikalisasi puisi itu…
oleh karena itu…aku cari informasi ke bapak…
eh ternyata bapak telah menciptakan karya musikalisasi puisi tersebut…nah saya ingin punya kasetnya pakkkkk…
bole..ya..??
aku bisa dapat cd-nya dimana??
… dari “gadis kecil”, meski “aku ingin” mendapat apresiasi paling heboh, aku lebih tenggelam dalam “hatiku selembar daun” dan melayang di atas rerumpun “hutan kelabu”. Apa boleh buat, Reda dan Nana berhasil membuat rangkaian bunga yang dipetik dari taman kecil Sapardi, meletakkannya dalam sebuah vase yang dibuat dari tarian jemari Jubing dan Umar, dan dihias ornamen melodius hembusan nafas Budjel, serta dialiri bening jeritan biola Henri Lamiri yang meriap dari kedalaman mata air bas Mark Willianto.
Salute!!!